Dampak Stigma Masyarakat Terhadap Pemulihan Orang Dengan Skizofrenia (ODS)

by - Maret 29, 2022

Dampak stigma masyarakat terhadap pemulihan orang dengan skizofrenia (ODS)

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai dampak stigma negatif masyarakat terhadap pemulihan orang dengan skizofrenia (ODS), ada baiknya kita mengetahui apa itu skizofrenia. dr. I Gusti Rai Wiguna, SpKJ dari KPSI  simpul Bali memaparkan skizofrenia sebagai gangguan otak kronis akibat ketidakseimbangan kimiawi otak.  Skizofrenia ditandai dengan gangguan pola pikir, perilaku dan emosi serta kesulitan menerima realita.


Biasanya ODS tidak menyadari kalau dirinya mengalami gangguan kesehatan jiwa sehingga memerlukan bantuan serta dukungan dari orang terdekatnya. Bantuan tersebut berupa bantuan pengobatan dan terapi. Bantuan pengobatan dan terapi pada ODS akan dapat membuat dirinya pulih sehingga dapat beraktivitas kembali di tengah masyarakat.


Trevisan et al, 2020 menjelaskan jika skizofrenia merupakan jenis gangguan psikotik yang paling sering terjadi. Gangguan kesehatan jiwa ini ditandai dengan adanya delusi atau waham yang aneh, halusinasi, gangguan persepsi, afek abnormal, kekacauan cara berpikir, kekacauan perilaku motorik, kurangnya mengekspresikan emosi dan apatis. ODS sering menunjukkan gejala psikotik seperti merasa mendengar sesuatu hal yang tidak bisa didengar orang lain, merasa ada makhluk lain yang mengawasinya dan bentuk-bentuk halusinasi lainnya. 


Gangguan kesehatan jiwa ini harus secepatnya memperoleh bantuan pengobatan agar bisa kembali pulih. Sayangnya kesadaran dan pemahaman jika ODS dapat pulih dan setelah pulih bisa kembali beraktivitas, masih dirasakan kurang. Stigma negatif yang berkembang dalam masyarakat terhadap skizofrenia membawa dampak buruk terhadap pemulihan ODS. Stigma negatif apa sajakah yang ditujukan pada ODS dan menghambat pemulihannya? Stigma negatif tersebut diantaranya, yaitu: aib,kutukan, kurang iman, guna guna, bodoh , berbahaya dan tidak bisa pulih.


Masalah kesehatan jiwa masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai bagi pemerintah hingga saat ini. Dan semakin diperparah dengan datangnya pandemi COVID-19. Pandemi global ini membawa dampak buruk baik dari sisi ekonomi maupun kesehatan jiwa (mental).  Gangguan kesehatan jiwa yang paling banyak diidap oleh masyarakat Indonesia adalah skizofrenia.


Stigma yang kuat dari masyarakat terhadap pengidap skizofrenia menjadi salah satu penyebab kenapa penanganan gangguan kesehatan jiwa ini mengalami banyak kendala dan hambatan. Stigma yang berkembang dalam masyarakat berdampak pada pemulihan orang dengan skizofrenia (ODS). Stigma terhadap skizofrenia membawa dampak buruk bagi penderitanya. Di pelosok negeri masih banyak ditemui keluarga yang menyembunyikan keadaan anggota keluarganya yang mengalami gangguan kesehatan jiwa sehingga penanganannya telat karena terlambat ditangani secara medis. Bukan hanya itu diskriminasi dan pengucilan kerap dialami oleh penderita gangguan jiwa termasuk pada orang dengan skizofrenia (ODS). Padahal skizofrenia ini bisa pulih dan bukan penyakit kutukan.


ODS sering dianggap sebagai orang gila dan tidak bisa pulih

Data Kemenkes RI menyatakan bahwa di Indonesia ada kurang lebih 450.000 keluarga yang menderita skizofrenia atau gangguan jiwa jangka panjang. Sementara itu, Riskesdas 2018 menyatakan bahwa lebih dari 19 juta orang yang berusia 15 tahun keatas pernah mengalami gangguan mental emosional dan 12 juta orang mengalami depresi (website Indonesia Sehat). Kedua data tersebut menunjukkan bahwa gangguan kesehatan jiwa termasuk skizofrenia masih menjadi masalah kesehatan cukup besar yang harus dihadapi oleh negeri ini. Ditambah lagi dengan adanya stigma negatif masyarakat terhadap orang dengan gangguan kejiwaan dan adanya anggapan bahwa kesehatan jiwa adalah hal yang tabu untuk dibicarakan semakin menambah kendala dan hambatan dalam penanganan masalah kesehatan jiwa di Indonesia.


Stigma negatif yang berkembang dalam masyarakat terhadap ODS terbentuk dari  kurangnya pemahaman. Sehingga menyebabkan penanganan pada ODS seringkali terlambat dilakukan dan membuat kondisinya kian memburuk. Kuatnya stigma negatif terhadap ODS membuat keluarganya cenderung menyembunyikan dan akhirnya berakhir dengan pemasungan. Stigma negatif ini sangat memengaruhi pemulihan ODS.


Dokter Tun Kurniasih, Sp.KJ seperti dilansir dalam Kompas, 2012 menuturkan skizofrenia masih dianggap sebagai gangguan kejiwaan yang disebabkan karena hal-hal yang berhubungan dengan magic, spiritual, kena guna-guna hingga banyak yang membawa ODS ke dukun atau ke kiai untuk diruqyah, bukan membawanya ke rumah sakit atau ahli jiwa agar bisa diobati secepatnya. Belum banyak yang paham jika skizofrenia adalah penyakit yang harus diobati secara medis, bukan dengan doa semata.


Sementara itu adanya stigma negatif yang beranggapan jika ODS merupakan sebuah aib yang harus ditutupi menyebabkan keluarga ODS memilih untuk menyembunyikannya dan tidak membawanya ke rumah sakit untuk memperoleh bantuan pengobatan. Keluarga merasa malu memiliki anggota keluarga yang mengidap skizofrenia. Hal ini membuat ODS kehilangan dukungan sosial dan kian memperburuk kondisinya sehingga tidak dapat beraktivitas seperti biasa. ODS menjadi terkucilkan dan tidak bisa pulih kembali.


Sudah saatnya stigma negatif terhadap ODS dihancurkan agar ODS dapat memperoleh bantuan pengobatan sedini mungkin. Selain itu, dukungan juga sangat diperlukan dalam proses pemulihan orang dengan skizofrenia. ODS berhak untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dan bisa berdaya kembali dalam masyarakat.


Edukasi mengenai penanganan ODS harus lebih sering dilakukan oleh pihak terkait agar masyarakat memahami bahwa ODS perlu pengobatan medis dan dukungan supaya bisa kembali pulih. Bukan malah disembunyikan, dikucilkan dan dianggap sebagai manusia yang tidak berguna. ODS hanya bisa dipulihkan dengan bantuan obat-obatan medis dan ahli jiwa, bukan dukun atau pengobatan alternatif.


ODS bisa pulih dan hidup normal seperti biasa


You May Also Like

0 komentar

Postingan Populer