Selasa, 23 Juni 2020

Daftar Rumah Sakit di Jakarta yang Melayani PCR Test


Foto : Pixabay

Tahun 2020 bergulir penuh ujian. Tak ada yang menduganya jika COVID-19 yang mulai menyerang pada akhir tahun 2019 belum bisa diatasi hingga hari ini. Dunia berduka, hampir semua negara terkena pandemi global ini. Negara adi daya, maju dan berkembang, semuanya terkena dampak dari serangan Coronavirus ini. Virus ini menelan korban jiwa yang tak sedikit dan masih terus bertambah.

Indonesia pun tak luput dari serangan COVID-19. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi dan memutus rantai penyebaran Coronavirus ini. Namun hingga hari ini belum terlihat hasil menggembirakan. Jumlah pasien yang positif dan meninggal masih terus bertambah. Meskipun demikian, selalu ada harapan bagi kita semua untuk bisa mengakhiri pandemi global ini. Progress ke arah sana ada walau berjalan lambat. Hal ini dapat terlihat dari terus bertambahnya jumlah pasien positif COVID-19 yang sembuh.


Tes Skrinning COVID-19 Untuk Deteksi Awal


Untuk memutus tali penyebaran COVID-19 diperlukan beberapa langkah nyata seperti menjaga kebersihan ekstra ketat, meningkatkan daya tahan tubuh, melakukan phisical distancing, menghindari kerumunan, menghindari tempat-tempat rawan terjadinya penularan dan diperlukan juga tes untuk mendeteksi apakah seseorang tersebut reaktif atau non reaktif terhadap Coronavirus ini.

Terkait dengan tes dini untuk mengetahui reaktif atau tidak seseorang terhadap Coronavirus, bukanlah perkara mudah. Di Indonesia sendiri bisa dibilang cukup sulit untuk bisa melakukan skrining ini. Tes skrining COVID-19 ini dikenal dengan sebutan rapid test. Tujuan dari rapid test adalah untuk mengetahui siapa saja orang yang berpotensi menyebarkan virus Corona dan supaya dapat dilakukan tindakan pencegahan agar jumlah kasus COVID-19 tidak semakin bertambah. Namun sayangnya pemerintah belum memasilitasi pemeriksaan rapid test secara massal. 

Kita bisa melakukan rapid test dengan biaya sendiri kecuali jika kita masuk dalam rangkaian orang yang terkait atau pernah berhubungan dengan orang yang positif COVID-19. Jika tidak maka kita harus membayar sendiri rapid test tersebut. Rapid test adalah metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan IgG, yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus Corona. 

Skrinning awal melalui Rapid Test (foto : web EMC)

Antibodi ini akan dibentuk oleh tubuh bila ada paparan virus Corona. Jika antibodi ini terdeteksi di dalam tubuh seseorang maka tubuh orang tersebut pernah terpapar atau dimasuki oleh virus Corona. Tapi pembentukan antibodi ini memerlukan waktu cukup lama bahkan bisa sampai beberapa minggu. Hal inilah yang menyebabkan keakuratan rapid test bisa dibilang cukup rendah. Karena itu rapid test dilakukan hanya untuk skrinning awal saja, bukan sebagai pemeriksaan untuk mendiagnosa seseorang terpapar COVID-19 atau tidak.

Perbedaan Rapid Test dan PCR


Untuk mendapatkan hasil akurat apakah terpapar COVID-19 atau tidak, sebaiknya melakukan PCR Test. Apa sih perbedaan antara rapid test dan PCR Test? Rapid test hanya skrinning awal saja, sedangkan PCR Test atau Polymerase Chain Reaction untuk diagnosa pasti. Prosedur rapid test dan PCR Test pun berbeda. Jenis sampel yang diambil berbeda. 

Rapid test dilakukan dengan mengambil sampel darah sedangkan PCR Test menggunakan sampel lendir yang diambil dari dalam hidung dan tenggorokan. Dua area tersebut adalah tempat virus menggandakan dirinya. Pemeriksaan dengan mengambil sampel di dua area tersebut dinilai memiliki hasil yang lebih akurat. Hal ini dikarenakan virus corona akan menempel di bagian dalam hidung atau tenggorokan saat masuk ke dalam tubuh. Hasil akhir dari PCR Test ini akan mampu memperlihatkan apakah virus SARS-COV2 ada di dalam tubuh atau tidak.

Selain pengambilan sampel yang berbeda, waktu hasil pemeriksaan Rapid Test dan PCR berbeda pula. Rapid test hanya membutuhkan waktu 10-15 menit hingga hasil tes keluar sedangkan PCR Test membutuhkan waktu beberapa jam hingga beberapa hari untuk menunjukkan hasilnya. Semakin cepat hasil PCR Test maka semakin mahal biayanya. Dan tidak semua rumah sakit termasuk di DKI Jakarta ini yang melayani pemeriksaan PCR Test atas permintaan pribadi.

Harga untuk melakukan Rapid Test dan PCR pun jauh berbeda. Saat ini untuk melakukan rapid test dan PCR test bisa dibilang masih cukup mahal biayanya. Sekarang ini untuk harga Rapid Test berkisar dari 300 ribu rupiah dan untuk biaya PCR Test diatas satu juta rupiah. Skrinning dan pemeriksaan bisa dilakukan secara mandiri di beberapa rumah sakit. Tapi sayangnya tidak semua rumah sakit termasuk di Jakarta ini yang menerima skrinning dan pemeriksaan COVID-19 yang dilakukan mandiri atau bukan atas anjuran tenaga kesehatan ataupun instansi terkait. Dan bukan perkara mudah untuk mengetahui rumah sakit mana saja yang melayani pemeriksaan PCR Test.

PCR Test (foto: web EMC)

Kita dapat melakukan skrinning ataupun pemeriksaan PCR Test secara mandiri jika mengalami gejala mencurigakan seperti panas tinggi, sesak nafas, bersinggungan dengan orang yang positif COVID-19 atau ingin memastikan apakah diri kita terpapar COVID-19 atau tidak. Terutama jika kita masuk dalam kelompok orang-orang yang rawan terpapar COVID-19 seperti penderita penyakit kritis misalnya TBC akut, diabetes, jantung, kanker, dan usia diatas 45 tahun, kita harus melakukan pemeriksaan PCR Test agar cepat segera diambil tindakan jika memang terbukti terpapar Coronavirus.

Daftar Rumah Sakit di Jakarta yang Melayani Pemeriksaan PCR Test


Kurang lebih tiga minggu lalu, saya mendapat kabar jika salah satu kakak ipar positif terinfeksi COVID-19. Deg..langsung lemes saya mendengarnya. Saya langsung disergap kekhawatiran karena dua minggu sebelum kakak ipar dinyatakan positif COVID-19, saya sempat berinteraksi dengannya. Kekhawatiran saya sangat beralasan karena saya tinggal bersama dengan kedua orang tua yang lanjut usia dan memiliki penyakit serta dua orang anak saya, dimana anak sulung saya sejak kecil memiliki daya tahan tubuh dibawah anak-anak seusianya. Saya harus memastikan bahwa kami baik-baik saja dan tidak terpapar COVID-19. Saya memutuskan untuk melakukan PCR Test secara mandiri. Saya langsung memilih melakukan PCR Test agar hasil yang diperoleh akurat dan bukan hanya skrinning saja.

Seperti yang sebelumnya saya katakan, untuk melakukan pemeriksaan PCR Test secara mandiri cukup sulit karena tidak semua rumah sakit melayani pemeriksaan tersebut. Saya mencoba mencari tau melalui internet rumah sakit mana saja yang menerima pemeriksaan PCR Test secara mandiri. Informasi yang saya dapatkan melalui browsing di internet, ternyata kurang valid. Akhirnya saya berinisiatif untuk mencari tau melalui aplikasi Halodoc

Aplikasi Halodoc membantu masyarakat memperoleh informasi seputar COVID-19 termasuk PCR Test

Halodoc merupakan aplikasi kesehatan yang memberikan solusi kesehatan lengkap dan terpercaya untuk memenuhi kebutuhan kesehatan kita termasuk pada saat pandemi global seperti ini. Melalui aplikasi Halodoc, saya memperoleh informasi seputar Coronavirus dan daftar rumah sakit yang melayani pemeriksaan PCR Test. Halodoc juga bekerjasama dengan sejumlah rumah sakit di Jakarta dalan penyediaan rapid test dan PCR Test. Halodoc bekerjasama dengan beberapa rumah sakit di Jakarta yang menyediakan paket layanan kesehatan tergantung kebutuhan dan kondisi kesehatan mulai dari buat janji dengan dokter hingga pemeriksaan PCR Test. Halodoc juga menyediakan tanya jawab seputar COVID-19.

Aplikasi Halodoc

Melalui aplikasi Halodoc, saya bukan hanya memperoleh informasi berupa daftar rumah sakit di Jakarta yang melayani pemeriksaan PCR Test tapi bisa langsung memilih rumah sakit, hari, waktu tes sekaligus mengetahui berapa biaya untuk PCR Test. Saya dapat memilih paket pemeriksaan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan saya. Halodoc berupa membantu siapapun yang memerlukan pemeriksaan PCR Test tanpa perlu repot-repot mendaftar langsung ke rumah sakit. Tinggal datang saja ke rumah sakit yang dituju pada hari pemeriksaan yang telah disepakati. Untuk info selengkapnya bisa langsung dilihat di PCR Test Jakarta .

FYI, melalui Halodoc saya memperoleh daftar rumah sakit yang melayani pemeriksaan PCR Test secara mandiri. Rumah sakit ini bekerjasama dengan Halodoc dalam pemeriksaan PCR Test.
Rumah sakit tersebut diantaranya adalah:
1. Rumah Sakit Mayapada Jakarta Selatan;
2. Mayapada Clinic Central Park;
3. Rumah Sakit Kartika Pulomas;
4. Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres;
5. Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading;
6. Mayapada Clinic Mayapada Tower 2;
7. RS YARSI.

Halodoc berupaya untuk membantu pemerintah dalam upaya memutus rantai penyebaran COVID-19 melalui kerjasama dengan beberapa rumah sakit yang melayanani skrinning dan pemeriksaan COVID-19 supaya masyarakat yang memerlukan pelayanan terebut dapat memperoleh informasi dan pelayanan dengan mudah. Termasuk informasi yang saya butuhkan. Terimakasih Halodoc.

Halodoc

Read more

Sabtu, 20 Juni 2020

Program Relaksasi Kebijakan Untuk Koperasi di Masa Pandemi COVID-19

Koppas Kranggan

Pandemi COVID-19 yang melanda negeri ini telah menimbulkan berbagai permasalahan hampir disemua aspek kehidupan. Terutama roda perekonomian yang nyaris tak bisa berputar dan menyebabkan pelaku usaha banyak yang gulung tikar. Terutama pelaku usaha kecil dan menengah yang memiliki modal terbatas. Koperasi pun terkena dampak akibat pandemi global yang sudah berjalan selama tiga bulan ini dan entah kapan berakhir.

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UMKM berupaya untuk melakukan langkah antisipasi dampak Corona terhadap koperasi melalui program relaksasi kebijakan. Program relaksasi kebijakan tersebut berupa restrukturisasi pinjaman/pembiayaan bagi koperasi. Langkah yang diambil oleh Kemenkop UMKM ini bertujuan untuk mengurangi beban ekonomi masyarakat terutama anggota koperasi yang terdampak di masa pandemi ini.

Kebijakan restrukturisasi pinjaman/pembiayaan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Koperasi dan UKM Nomor 15 Tahun 2020 tentang Restrukturisasi Pinjaman/Pembiayaan Kepada Koperasi dan UKM Penerima Dana Bergulir Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM). Terkait dengan pelaksanaan program relaksasi kebijakan bagi koperasi di masa pandemi COVID-19 ini, ada tiga fase tahapan yang dilakukan oleh Kemenkop UMKM untuk LPDB-KUMKM terutama dalam mengatasi masalah permodalan yang dihadapi oleh koperasi dan UMKM.

Tiga fase tahapan tersebut meliputi:
1. Fase Induksi (Tanggap Bencana)
Pada fase ini, seluruh aktivitas ekonomi terhambat akibat diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga langkah yang diambil adalah dengan memberikan restrukturisasi pinjaman/pembiayaan kepada mitra LPDB-KUMKM maksimal selama 12  bulan terhadap mitra yang kondisinya lancar dan kurang lancar, untuk memastikan terjaganya likuiditas koperasi khususnya yang bergerak di sektor simpan pinjam. Dengan adanya program restrukturisasi ini, diharapkan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dapat melakukan penangguhan pembayaran pokok dan bunga pada anggota koperasi. Langkah ini pasti akan meringankan beban anggota koperasi dan terasa membantu sekali di tengah situasi ekonomi yang morat marit yang dihadapi oleh para anggota koperasi yang terdampak COVID-19;

2. Fase Pemulihan Ekonomi
Kemenkop UMKM telah menyiapkan dana sebesar Rp 1 triliun untuk pinjaman/pembiayaan kepada sektor usaha simpan pinjam, dengan bunga 3 persen menurun, atau sekitar 1,5 persen flat per tahun. Dana tersebut disiapkan dengan sasaran target penerima sebanyak 266 koperasi untuk dapat memberikan pinjaman murah kepada 4,8 juta UMKM anggota koperasinya. Bunga yang cukup rendah dan meringankan. Upaya yang diambil oleh pemerintah ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan ekonomi dan proses recovery dapat berjalan dengan baik sehingga seluruh pelaku UMKM yang menjadi anggota koperasi dapat segera pulih dan bangkit lagi;

3. Fase Penumbuhan Ekonomi
Saat ini Kemenkop UMKM sedang melakukan persiapan pengharmonisasian peraturan tentang LPDB-KUMKM untuk merelaksasi kriteria dan persyaratan penyaluran pinjaman/pembiayaan. Termasuk fokus pada sasaran LPDB-KUMKM kepada KUMKM strategis prioritas pemerintah, pemangkasan persyaratan, kemudahan persyaratan, serta penugasan untuk melakukan kerjasama dengan inkubator wirausaha dan pendampingan bagi startup, wirausaha pemula dan KUMKM.
Hal ini bertujuan agar seluruh KUMKM yang layak dapat lebih mudah mengakses pinjaman/pembiayaan dana bergulir dan lebih murah sebagai upaya meningkatkan daya saing KUMKM.

Menteri Koperasi dan UMKM, Bapak Teten Masduki mengatakan bahwa saat ini Kemenkop UMKM telah mengajukan pada Bapak Presiden agar pengadaan barang-barang pemerintahan dipercayakan pada koperasi dan UMKM. Hal ini perlu dilakukan agar pelaku koperasi dan UMKM dapat tumbuh berkembang dan pada akhirnya mampu bersaing dengan industri skala besar. Karena itulah koperasi dan UMKM harus diberikan kesempatan termasuk dalam pengadaan barang logistik pemerintahan.

Kunjungan Kerja Menteri Koperasi dan UMKM ke Koperasi Pasar (Koppas Kranggan)


Kunker Menkop UMKM ke Pasar Kranggan dalam rangka pelaksanaan program relaksasi kebijakan untuk koperasi

Jumat, 19 Juni 2020, Menteri Koperasi dan UMKM, Bapak Teten Masduki melakukan kunjungan kerja ke Koperasi Pasar Kranggan, Bekasi, Jawa Barat. Kunker tersebut dilakukan dalam rangka memastikan pelaksanaan kebijakan fase pertama sudah dilaksanakan di lapangan. Pada fase induksi ini, KUMKM yang menerima dana bergulir akan diberikan relaksasi kebijakan berupa restrukturisasi pinjaman maksimal 12 bulan. Pemberian restrukturisasi pinjaman ini diharapkan dapat membantu cash flow setiap koperasi minimal untuk bertahan selama masa pandemi COVID-19 terutama pada saat terjadinya Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB).

Selain untuk memastikan pelaksanaan fase pertama, kunker Menkop UMKM ke Koppas Kranggan juga merupakan bagian dari rangkaian acara menyambut Hari Koperasi Nasional ke-73. Kedatangan Pak Teten ke Koppas Kranggan disambut antusias para pedagang pasar Kranggan yang merupakan anggota dari Koppas Kranggan.Mereka menyambut baik adanya program kebijakan relaksasi yang dilakukan oleh Kemenkop UMKM.

Pasar Kranggan

Program relaksasi kebijakan berupa restrukturisasi pinjaman/pembiayaan ini dirasakan cukup membantu mereka untuk bertahan selama masa pandemi dan membantu meringankan beban ekonomi mereka. Para pedagang Pasar Kranggan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang terkena dampak korona. Mereka mengalami penurunan omset dikarenakan PSBB yang dilakukan. Karena itulah mereka merasa tertolong dengan adanya program kebijakan relaksasi berupa restrukturisasi pinjaman/pembiayaan ini.

Koppas Kranggan telah mendapat pinjaman/pembiayaan dana bergulir yang merupakan program dari Kemenkop dan UKM sebanyak tiga kali sejak tahun 2011 hingga tahun 2020, dengan total plafond pinjaman sebesar Rp 30 miliar. Kedua pinjaman tersebut telah lunas, dan hanya satu pinjaman lagi dengan kolektibilitas lancar yang mendapat restrukturisasi pinjaman.

Koperasi yang memiliki 32.000 anggota, enam kantor cabang, dan empat unit usaha di Bekasi ini diberikan penundaan pembayaran angsuran pokok dan bunga dengan jangka waktu 12 bulan ke depan. Dengan adanya kelonggaran pembayaran angsuran pokok dan jasa ini, Koppas Kranggan diharapkan mampu bertahan menghadapi kesulitan pada saat pandemi, terutama untuk melakukan pengelolaan dana pinjaman untuk kepentingan anggota koperasi.

Hingga saat ini, terdapat 40 Mitra LPDB-KUMKM yang memenuhi persyaratan mendapatkan fasilitas restrukturisasi pinjaman/pembiayaan, dengan total nilai outstanding sebesar Rp 149,1 miliar, yang terdiri dari 30 Koperasi dan 10 UKM. 40 mitra LPDB-KUMKM tersebut tersebar di beberapa wilayah di tanah air.

Menkop UMKM, Bapak Teten Masduki di Pasar Kranggan

Dalam kunjungan kerjanya tersebut, Pak Teten juga mengungkapkan harapannya agar koperasi dapat masuk ke dalam sektor riil dan berperan aktif membantu masyarakat terutama dalam menghadapi situasi sulit seperti masa pandemi COVID-19 ini. Pak Teten juga melakukan dialog tanya jawab dengan para pedagang Pasar Kranggan yang merupakan anggota Koppas Pasar Kranggan. Dalam kesempatan tersebut, Pak Menteri berharap sekaligus mengimbau para pedagang Pasar Kranggan agar dapat beradaptasi dengan trend yang ada di masyarakat. Para pedagang harus bisa terus melakukan inovasi dan menyesuaikan dengan trend belanja online melalui market place yang sedang marak di masyarakat.

Pandemi ini telah mengubah tatanan kehidupan yang ada dalam masyarakat termasuk trend belanja online. Selama masa pandemi dan penerapan PSBB, masyarakat lebih memilih untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari melalui market place atau belanja online, hal inilah yang menyebabkan pasar tradisional menjadi sepi. Para pedagang harus mampu menyesuaikan dengan perubahan tersebut supaya dapat tetap bertahan dan Kemenkop UMKM akan terus memberikan dorongan pada para pedangang anggota Koppas agar mampu melewati badai pandemi COVID-19 ini.

Koppas Kranggan, saat ini juga tengah menunggu proses persetujuan pinjaman/pembiayaan dari proposal pinjaman yang baru saja diterima LPDB-KUMKM pada April 2020. Peran dan kontribusi Koppas Kranggan diharapkan dapat terus ditingkatkan, meskipun dalam kondisi pandemi, sehingga pelayanan dan keberhasilan Koppas Kranggan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, terutama para anggotanya.

Bapak Menkop UMKM memberikan bantuan pada Koppas Kranggan

Read more

Minggu, 07 Juni 2020

4 Alasan Kenapa Harus Punya Asuransi Perlindungan Diri dan Keluarga Saat Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 Membawa Makna dan Pembelajaran


Pandemi COVID-19 membawa makna dan pembelajaran (Dok: Pixabay)

Tahun 2020 ini menjadi tahun penuh makna dan pembelajaran bagi keluarga saya. Tak ada satupun yang menyangka jika tahun ini akan berjalan dengan "istimewa" dan mengubah banyak hal dalam tatanan kehidupan. Pandemi COVID-19 telah membuat 2020 menjadi sangat berbeda. Penuh pembelajaran dan makna.

Pembelajaran pertama terjadi pada awal Januari 2020. Bapak harus menjalani operasi dan dirawat secara intensif selama tiga minggu. Saya yang diamanati menjaga dan merawat Bapak setiap harinya, merasa sakitnya Bapak dikarenakan ketidakdisiplinan saya mengatur dan mengawasi pola makan Bapak. Sudah sejak lama Bapak mengidap penyakit diabetes dan hipertensi. Saya seperti ditampar oleh sakitnya Bapak dan kejadian ini membuat saya bertekad untuk lebih memerhatikan lagi pola makan dan kesehatan Bapak.

Bapak saat dirawat di rumah sakit

Kondisi Bapak tidak juga menunjukkan kemajuan. Sejujurnya, pada saat itu saya sudah ikhlas dengan semua ketentuan-NYA tapi tetap mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhan Bapak. Karena tidak ada kemajuan yang berarti, kami sekeluarga besar sepakat untuk membawa Bapak pulang dengan harapan di rumah kondisinya akan membaik. 

Akhir Januari, kondisi Bapak kian memburuk dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Kali ini, kami membawa Bapak ke rumah sakit yang berbeda. Bapak dirawat secara intensif dan pertolongan-NYA pun datang. Bapak berangsur membaik dan diperbolehkan melanjutkan pengobatan secara rawat jalan. Bapak pulang ke rumah di pertengahan bulan Februari. Sekitar tanggal 20 Februari. Saat itu, sudah mulai ramai terdengar seputar coronavirus yang berasal dari Wuhan dan mulai menyerang beberapa negara di dunia. Indonesia kala itu masih tenang dan belum ada kasus COVID-19. 

Peristiwa sakitnya Bapak selama hampir dua bulan membuat keluarga kami jadi lebih sering bertemu. Bahkan handai taulan dan kerabat besar yang berada dibeberapa kota di luar Jabodetabek, datang menjenguk Bapak. Sekarang, ketika pandemi datang menghampiri dan memaksa untuk "di rumah saja", baru saya sadari jika momen tersebut merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan pada keluarga besar saya untuk berkumpul, bertemu dan saling menebar kasih. Karena setelah pertemuan pada akhir Februari dan awal Maret 2020 tersebut, kami belum bisa lagi berjumpa dikarenakan pandemi global ini.

Keluarga besar saya bisa dibilang termasuk pihak yang terkena dampak langsung pandemi COVID-19 ini. Cukup banyak anggota keluarga kami yang berprofesi sebagai tenaga medis. Bahkan tiga orang kakak bekerja sebagai tenaga medis di salah satu RSUD besar di kota Jakarta ini. Dan saat pandemi global itu datang, rumah sakit tempat mereka bekerja menjadi  salah satu rumah sakit rujukan COVID-19. Bukan hanya kakak dan kakak ipar saja yang harus berjibaku di rumah sakit, suami saya sendiri tak jauh berbeda. 

COVID-19 yang banyak memakan korban termasuk dari pihak tenaga kesehatan, memaksa saya untuk mencemaskan kondisi kesehatan dan keselamatan kakak-kakak dan suami saya sendiri. Bukan, bukan cuma mereka yang saya khawatirkan tapi saya juga mengkhawatirkan kesehatan Bapak, Ibu dan kedua anak saya. Kecemasan saya sangat beralasan karena usia Bapak Ibu yang tergolong lansia dan memiliki penyakit, menjadikan mereka masuk dalam golongan orang yang rawan tertular Coronavirus. Sistem kekebalan tubuh mereka pasti tidak sebagus orang-orang yang sehat dan berusia produktif.

Saya juga mencemaskan kedua anak saya. Kecemasan saya tersebut membuat saya protektif terhadap mereka. Saya melarang kedua orang tua dan anak saya untuk keluar rumah, selalu mengingatkan mereka agar sering-sering mencuci tangan, memberikan nutrisi seimbang dan vitamin untuk meningkatkan imunitas mereka dan berupaya membuat mereka tenang dan tetap bahagia walaupun saya sendiri dag dig dug setiap saat.

Suami yang "tau diri" karena bisa saja menularkan virus pada mertua, anak dan istrinya, disebabkan setiap hari berurusan dengan orang sakit yang tidak ketauan apakah terinfeksi COVID-19 atau tidak, memilih untuk tidak berinteraksi langsung dengan kami selama dua bulan pertama masa pandemi. Setelah memastikan dirinya sehat dan bebas COVID-19, barulah dia berani untuk berinteraksi langsung dengan kami. Saya dan suami menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat di rumah dalam upaya mencegah penyebaran Coronavirus sekaligus untuk melindungi keluarga kami agar tidak tertular virus ini.

Pandemi COVID-19 ini juga membuat saya kepikiran untuk memiliki asuransi yang dapat melindungi diri saya dan keluarga terutama saat pandemi yang datangnya tak terduga seperti ini. Keinginan saya untuk memiliki polis asuransi yang dapat mengcover saat keadaan tidak menentu seperti saat ini, sangatlah beralasan. Suami saya memiliki risiko yang cukup tinggi karena berhadapan langsung dengan pasien dan berada di lingkungan rumah sakit, begitu pula dengan kedua anak saya. Mereka bisa saja tertular penyakit apapun termasuk COVID-19.

Asuransi yang dapat melindungi diri dan keluarga

Sebenarnya saya sudah memiliki asuransi pendidikan untuk kedua buah hati saya tapi saat pandemi seperti ini, mereka sepertinya butuh lebih dari sekedar asuransi pendidikan. Mereka perlu perlindungan terhadap diri mereka terutama pada saat tak menentu. Dengan memiliki asuransi jiwa atau kesehatan, mereka akan lebih terlindungi. Begitu pula suami saya, secara financial, akan lebih aman jika memiliki proteksi yang dapat melindunginya dari situasi yang mungkin tak bisa diatasi sendiri.

4 Alasan Pentingnya Asuransi Untuk Perlindungan Diri dan Keluarga di Tengah wabah COVID-19


Inilah 4 alasan kenapa penting punya asuransi untuk perlindungan diri dan keluarga saat pandemi COVID-19

Menghadapi masa pandemi seperti ini, saya harus tenang dan tidak boleh panik. Harus tetap waspada terutama dalam hal mengatur dan merencanakan keuangan. Semua tindakan yang berhubungan dengan keuangan harus dipikirkan dengan seksama supaya tepat dan sesuai kebutuhan. Suami ditengah kesibukannya selalu mengingatkan tentang hal tersebut. Pentingnya Asuransi, Perlindungan diri di tengah wabah COVID-19 merupakan salah satu concern saya dan suami saat ini. Terutama untuk diri kami sendiri dan anak-anak. Untuk Bapak dan Ibu, karena mereka telah memiliki asuransi jiwa dan kesehatan, kami berencana untuk melindungi mereka dengan asuransi tambahan berupa perlindungan terhadap penyakit kritis termasuk COVID-19.

Kami berdua sepakat jika memiliki perlindungan berupa asuransi merupakan salah satu cara yang dapat kami lakukan untuk memastikan keuangan kami tetap stabil terutama dalam menghadapi pandemi seperti sekarang ini. Memiliki proteksi berupa polis asuransi dapat membantu kami untuk tetap tenang dan dapat beraktivitas tanpa perlu memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi pada keluarga kami saat pandemi seperti ini. Misalnya bagaimana kami harus membayar biaya pengobatan yang cukup besar jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap kesehatan dan diri kami. 

Pandemi ini menyadarkan kami tentang satu hal, yaitu kami dapat mengalihkan risiko finansial pada pihak asuransi. Ketika nanti terjadi risiko, biaya-biaya yang terkait dengan risiko tersebut ditanggung oleh penyedia asuransi. Dengan cara membayar premi secara rutin, kami sudah dapat memperoleh perlindungan yang tepat dan kami butuhkan dikemudian hari. Cara ini merupakan langkah terbaik yang bisa saya dan suami lakukan sebagai bentuk proteksi terhadap keluarga kami.

Kami memiliki 4 alasan kenapa harus memiliki perlindungan diri dan keluarga berupa asuransi, terutama saat tak menentu seperti sekarang ini. 
4 alasan tersebut, yaitu:
1. Asuransi membantu kami dalam mengelola keuangan
Memiliki asuransi, membuat saya dan suami merasa lebih tenang karena sudah mempunyai alokasi biaya jika sesuatu hal buruk terjadi pada diri kami atau anggota keluarga kami yang lain. Kami bisa memilih besaran premi sesuai dengan kemampuan finansial kami dan dapat memperoleh manfaat dari polis asuransi tersebut. Kami berpikirnya ya hitung-hitung menabung secara rutin saja;

2. Asuransi membantu mengantisipasi dan mengurangi risiko finansial yang mungkin terjadi pada kami
Hidup yang serba tidak pasti ini, mengharuskan kami untuk menghadapi berbagai risiko yang bisa saja membuat saya dan suami mengalami kerugian finansial. Oleh karena itu, kami perlu memiliki asuransi yang dapat melindungi kami dari kerugian finansial yang setiap saat bisa terjadi. Dan saat  kami mengalaminya, kondisi keuangan pribadi tidak ikut terpengaruh karena sudah ada asuransi yang menanggungnya. Seperti kata pepatah, "Sedia Payung Sebelum Hujan", inilah yang kami lakukan;

3. Memiliki asuransi, sebagai bukti tanda sayang dan cinta kami pada keluarga
Asuransi dapat melindungi keuangan dan tujuan finansial keluarga kami. Asuransi akan memastikan bahwa keuangan keluarga dapat terlindungi dan tidak akan terpengaruh meski tulang punggung keluarga mengalami sesuatu yang buruk. Hal ini yang menjadi alasan utama bagi suami saya kenapa harus punya asuransi. Dia tidak ingin jika sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya, anak istrinya akan mengalami hal yang buruk juga. Karena itulah, sejak memutuskan menikah, hal pertama yang dia lakukan adalah menjadi nasabah asuransi jiwa. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada tulang punggung keluarga maka uang pertanggungan, dapat digunakan untuk biaya hidup sehari-hari;

4. Asuransi memberikan ketenangan dan mengurangi beban pikiran kami
Berbagai manfaat yang diberikan oleh asuransi, mendatangkan rasa tenang pada diri kami untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Kami tak lagi pusing memikirkan biaya pengobatan atau biaya pendidikan anak-anak kami. Saat kami butuh biaya untuk membayar biaya sekolah, asuransi sudah mengcovernya.

Oh ya ada satu hal yang harus dilakukan saat memutuskan untuk menjadi nasabah asuransi adalah jangan bertindak gegabah. Harus tau dulu produk asuransi apa yang kita butuhkan dan sesuai dengan kemampuan. Saya dan suami termasuk orang yang sangat berhati-hati dalam memutuskan jenis produk asuransi yang ingin kami miliki. Tujuannya adalah agar tujuan keuangan keluarga kami tetap dapat tercapai dan tidak ada penyesalan nantinya.

Kami meyakini dengan memiliki asuransi, kami dapat memberikan arti lebih di setiap perjalanan hidup agar bisa terus menikmati hidup tanpa mengkhawatirkan hal buruk yang mungkin terjadi. Bagi kami, asuransi dapat dijadikan sebagai salah satu sumber kekuatan untuk menjalani hidup bersama keluarga secara suka cita.



FWD Life (Doc. Instagram FWD Life)

Setelah ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), COVID-19 secara resmi tidak ditanggung oleh banyak produk asuransi. Hal ini karena semua polis asuransi menyebutkan bahwa penyakit yang masuk kategori pandemi tidak masuk dalam pertanggungan asuransi. Keadaan ini membuat kami berdua memutuskan untuk mencari asuransi yang dapat melindungi diri kami dan keluarga dari pandemi COVID-19 ini. Salah satu asuransi yang memiliki perlindungan terhadap pandemi COVID-19 adalah FWD Life. 

Sebagai salah satu pilihan, FWD Life memiliki Asuransi Bebas Handal sebagai salah satu asuransi yang tetap melindungi nasabah saat adanya pandemi COVID-19 yang dapat dibeli secara online. Produk Asuransi Bebas Handal menawarkan manfaat rawat inap termasuk biaya kamar, biaya dokter, obat-obatan, perawatan setelah rawat inap dan biaya tindakan bedah, dengan pilihan kontribusi mulai dari Rp75 ribu dan pilihan manfaat tahunan hingga Rp100 juta. 

Asuransi Bebas Handal FWD Life (Doc: Instagram FWD Life)

Selain itu, FWD Life juga menawarkan Asuransi Bebas Rencana untuk memastikan masa depan keluarga. Asuransi Bebas Rencana memberikan manfaat meninggal dunia sampai dengan Rp1 miliar. FWD Life adalah pilihan yang tepat bagi siapapun yang ingin memiliki perlindungan menyeluruh terhadap diri dan keluarga terutama saat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini.

FWD Life melindungi diri dan keluarga (Doc: FWD Life)






Read more

Jumat, 05 Juni 2020

Lindungi Anak Indonesia dari Manipulasi Industri Rokok


Please, No Smoking (sumber foto: jurnal kesehatan FK UGM)

Apa kabar semua? Semoga selalu sehat dan bahagia ya..Aamiin. Setiap orang pasti memiliki kecemasan. Begitu pula saya. Sebagai ibu dari seorang anak laki-laki usia 16 tahun, ada kecemasan yang selalu menghantui saya. Kecemasan jika anak lelakinya menjadi seorang perokok. Bisa dibilang godaan rokok pada anak remaja ada di mana-mana dan datang dari berbagai penjuru. Jerat rayuan rokok bisa datang dari lingkungan tempat si anak remaja itu tumbuh dan bersosialisasi serta dari gempuran iklan rokok.

Jerat Rayu Rokok pada Anak 


Anak laki-laki saya

Celaka dua belas jika seorang anak tumbuh dan besar di lingkungan perokok. Keinginan untuk merokok akan semakin besar menggodanya.  Secara masif, dia akan melihat bagaimana orang terdekatnya asik menghisap benda kecil yang ukurannya tak lebih dari 9 cm itu. Perilaku merokok orang terdekatnya tersebut akan terekam dalam memori bawah sadarnya hingga tanpa disadarinya akan menggerakan dirinya untuk  menjadi seorang perokok juga. Dalam hal ini, saya beruntung, suami bukan perokok dan rumah kami bisa dibilang bebas dari asap rokok.

Bujuk rayu rokok juga berasal dari iklan rokok. Godaan yang datang dari iklan rokok ini, tak kalah dahsyatnya merayu anak sehingga banyak dari mereka yang akhirnya terjerat tipu muslihat iklan rokok. Hampir sebagian besar anak terpapar iklan rokok setiap harinya. Anak saya contohnya, hampir setiap hari dia membuka internet dan berselancar di dunia maya untuk melihat channel youtube favoritnya atau melihat tontonan musik. Tayangan youtube dan musik yang ditontonnya tersebut diselingi oleh iklan rokok yang sekilas tampak tidak seperti iklan rokok karena berisi kata-kata motivasi dan inspiratif. Atau terkadang hanya berupa tulisan brand rokoknya saja.

Belum lagi dari film yang ditontonnya. Anak saya ini suka sekali dengan film action. Seringkali dalam adegan film action yang ditontonnya, si pemeran utama merokok dan anak saya melihatnya sebagai sesuatu yang "gagah". Karena itulah saya mengatakan bahwa bujuk rayu rokok pada anak menggempur dari segala penjuru. Di rumah sudah kondusif eh diluar, teman-temannya perokok. Tontonannya pun walau dilabeli untuk anak usia 15+, tapi diisi juga dengan adegan merokok. Jadi, tetap saja ada rokok di mana-mana.

Anak laki-laki saya pernah pula bercerita bahwa dari 19 orang siswa laki-laki yang ada di kelasnya, hanya empat orang saja yang tidak merokok. Menurut penuturan anak saya, teman-temannya yang perokok tersebut sering berkata pada dirinya kalau merokok itu bikin mereka terlihat keren, hebat, lebih "laki" dan sudah menjadi hal yang wajar kalau anak SMU itu merokok.

Anak saya juga kerap dibilang "cemen", "pengecut" dan "tidak setia kawan" karena tidak ikutan merokok. Kondisi seperti inilah yang membuat saya sebagai ibunya kian waspada dan semakin membentengi anak pertama saya tersebut dengan pengertian dan penjelasan jika merokok itu ngga ada manfaat dan keuntungannya sama sekali. Malah bikin penyakit,  membuat uang cepat habis serta merugikan diri sendiri dan orang lain.

Memberikan pemahaman dan menyadarkan anak mengenai bahaya serta dampak buruk dari rokok ditengah gempuran pengaruh lingkungan dan iklan rokok, bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi beberapa kali saat berada di pusat perbelanjaan bersama teman-temannya, anak saya beserta teman-temannya tersebut ditawari sample rokok oleh SPG rokok yang ada di mall tersebut. Begitu mudahnya anak-anak memperoleh akses rokok dan membuat mereka semakin berpikir bahwa merokok bukanlah sebuah perilaku yang buruk. Saya dan suami sepakat untuk saling bahu membahu membangun kesadaran dalam diri anak laki-laki kami tersebut untuk berkata "TIDAK" pada rokok tapi dengan kesadaran yang berasal dari dalam dirinya sendiri.

Masih berdasarkan cerita anak saya, tidak semua orangtua dari teman-temannya yang merokok itu mengetahui kalau anaknya merokok tapi ada pula yang malah "kompak" dengan orang tuanya dalam perihal rokok. Saling berbagi dan merokok bersama antara anak dan orangtuanya. Wedeeew...dan kekompakan tersebut sempat memunculkan kalimat,"Bun, Si A dan Bapaknya tadi pas Mas kerja kelompok di rumahnya, Mas lihat ngerokok bareng loh. Si A juga minta rokok dari Bapaknya. Kog ngga pa pa sih Bun? Memangnya Bapaknya Si A ngga tau klo rokok itu bahaya dan merugikan, Bun?", dari mulut anak laki-laki saya tersebut. Kondisi seperti inilah yang membuat tugas saya sebagai orangtua dari seorang anak laki-laki usia remaja menjadi kian berat. Perlu kesabaran dan pantang menyerah untuk menggugah kesadarannya kalau merokok hanya mendatangkan keburukan untuk dirinya sendiri dan orang-orang sekitar yang terpapar asap rokok.

Anak sebagai target utama pemasaran rokok (sumber foto: Lentera Anak)

Industri Rokok dan Perokok Anak di Indonesia


“Perokok anak dan remaja adalah satu-satunya sumber perokok pengganti. Jika para anak muda tidak merokok maka industri akan bangkrut sebagaimana sebuah masyarakat yang tidak melahirkan generasi penerus akan punah” (R.J Reynolds Tobacco Company Memo Internal, 29 Februari 1984)"

Industri rokok di Indonesia dinilai telah menjadikan anak-anak terutama anak usia remaja sebagai target pasar mereka melalui iklan yang dikemas secara kreatif dan kekinian.  Berdasarkan data Riskesdas 2018 menunjukkan adanya peningkatan angka prevalensi perokok usia 10 – 18 tahun di Indonesia, dari 7,2 % di tahun 2013 menjadi 9,1 % di tahun 2018. Peningkatan persentase tersebut disinyalir karena adanya tindakan manipulatif yang dilakukan oleh industri rokok melalui iklan yang menyasar anak remaja sebagai target utamanya.

Lindungi anak usia remaja dari manipulasi industri rokok (sumber foto: Lentera Anak)

Industri rokok gencar menyasar anak usia remaja sebagai target utama pemasaran produknya dikarenakan setiap tahunnya industri rokok ini kehilangan 240.618 pelanggan setianya karena meninggal dunia atau berhenti merokok. Sehingga industri rokok sangat berkepentingan terhadap anak muda untuk menjamin keberlangsungan bisnisnya karena anak muda merupakan pasar masa depan industri rokok. Industri rokok menjadikan anak muda sebagai target utama pemasarannya karena mereka berpotensi menggantikan para perokok senior yang sudah meninggal atau berhenti merokok. Hal tersebut diungkapkan oleh Ibu Lisda Sundari, Ketua Lentera Anak seperti yang dilansir oleh Beritakota id.

Ibu Lisda Sundari juga menyebutkan persoalan perokok anak belum selesai, dan kini malah semakin memburuk. Rokok elektronik juga sudah menyerbu pasar Indonesia, dan mulai digandrungi anak dan remaja. Prevalensi perokok elektrik penduduk usia 10-18 tahun mengalami kenaikan pesat. Dari 1,2 persen pada 2016 (Sirkesnas 2016) menjadi 10,9 persen pada 2018 (Data Riset Kesehatan Dasar/Riskesdas 2018).

Salah satu penyebab tingginya jumlah perokok anak karena industri rokok sangat gencar menyasar anak muda sebagai target pemasaran produknya dengan melakukan berbagai kegiatan manipulatif melalui iklan, promosi, sponsor, kegiatan CSR, informasi misleading dan produk-produk baru. Sementara di sisi lain, peraturan dan perlindungan kepada anak dan remaja dari manipulasi industri rokok masih sangat lemah.

Salah satu yang membuat anak-anak tertarik untuk mulai merokok adalah iklan dan promosi rokok. Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2014 menunjukkan terdapat 60,7 persen anak-anak yang melihat iklan promosi rokok di toko-toko, terdapat 62,7 persen anak yang melihat iklan rokok di media serta terdapat 7,9 persen anak-anak yang mengaku pernah ditawari rokok oleh penjual rokok. Data GYTS 2014 juga menyatakan Indonesia sebagai negara dengan angka perokok usia remaja tertinggi di dunia.

Perilaku perokok pada anak remaja (sumber foto : Lentera Anak)

Sementara itu, data survei perilaku perokok dikalangan anak-anak yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2019 lalu, tercatat total anak yang terpapar asap rokok baik sebagai perokok aktif dan pasif anak mencapai 57,8%. Sungguh persentase yang mengiris hati saya sebagai seorang ibu dari dua orang anak. Satu remaja laki-laki dan satu anak perempuan usia 9 tahun, beranjak remaja. Tingginya jumlah perokok anak di Indonesia semakin membuat hati saya tergerak untuk melindungi anak Indonesia terutama anak-anak saya dari godaan rokok dan manipulasi industri rokok.

Data Atlas Pengendalian Tembakau di ASEAN mengungkapkan bahwa lebih dari 30% anak Indonesia mulai merokok sebelum usia 10 tahun. Indonesia diibaratkan sebagai asbak rokok raksasa. Sedih ya dengan hasil yang diungkapkan berdasarkan data tersebut. Oh ya, kita harus tau nih apa saja sih penyebab anak merokok supaya bisa mengantisipasinya.
Adapun faktor penyebab anak merokok, diantaranya adalah:
1. Anak meniru aktivitas merokok yang dilakukan orangtuanya. Anak adalah seorang peniru ulung;
2. Akses anak untuk mendapatkan rokok sangat mudah;
3. Industri rokok sasar anak dan remaja sebagai target pemasaran produknya melalui tipu muslihat iklan rokok;
4. Harga rokok di Indonesia terhitung sangat murah dan masih terjangkau uang jajan anak-anak. Rokok dijual perbatang;
5. Regulasi yang mengatur rokok di Indonesia masih longgar dan belum ada kebijakan yang tegas;
6. Iklan rokok tidak dilarang di Indonesia.

Sumber foto : Indonesia Baik

Webinar Online Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2020 Lentera Anak


Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2020 (sumber foto: Lentera Anak)

Setiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Tahun ini tema HTTS yang ditetapkan oleh WHO adalah "Lindungi Kaum Muda dari Manipulasi Industri Rokok dan Cegah Konsumsi Rokok dan Nikotin". Lentera Anak sebagai salah satu yayasan yang peduli dan bekerja untuk membela hak anak melalui edukasi, advokasi, pemberdayaan dan studi tentang anak, mengadakan webinar online dalam rangka memperingati HTTS 2020. Webinar online tersebut diikuti oleh dua puluh orang blogger dan dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2020 melalui aplikasi zoom. Saya salah seorang dari dua puluh blogger yang ikut webinar online tersebut. Webinar online ini tepat sekali untuk saya karena saya ingin mengetahui lebih lanjut lagi mengenai manipulasi industri rokok pada anak yang terjadi di Indonesia.

Webinar online Lentera Anak dalam rangka HTTS 2020 yang melibatkan blogger tersebut, mengusung tema "Membedah Fakta Kebohongan Industri Rokok di Era Post-Truth". Tema ini sangat sesuai dengan kondisi di Indonesia karena di negeri ini peringatan bahaya rokok menjadi lemah karena iklan rokok sangat massif, kreatif, menarik serta dikemas dengan sangat halus dan terselubung sehingga perlahan tapi pasti merasuki alam pikiran anak tanpa disadari sehingga mematikan daya kritis anak muda terhadap industri rokok dan produknya.

Untuk melindungi anak dari bahaya rokok serta mencegah generasi muda dari bujuk rayu industri rokok, diperlukan edukasi dan kampanye terus menerus. Tujuannya agar masyarakat semakin peduli terhadap kenyataan bahwa di Indonesia jumlah perokok anak semakin meningkat jumlahnya sehingga sama-sama mau berupaya untuk membebaskan generasi muda Indonesia dari manipulasi industri rokok. Serta mendorong pemerintah untuk membuat regulasi yang kuat guna melindungi anak muda dari target pemasaran industri rokok.

Webinar online dalam rangka HTTS 2020 yang diselenggarakan oleh Yayasan Lentera Anak ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu : Mba Kiki Soewarso, Mas Hariadi dan Mas M. Bigwanto. Mba Kiki menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara terpaan iklan rokok di media apapun dengan sikap merokok anak usia remaja. Terpaan iklan promosi dan sponsor rokok berpengaruh secara signifikan terhadap sikap merokok anak usia remaja.

Sumber foto : Lentera Anak

Menurut hasil penelitian riset Tim Peneliti Stikom LSPR mengungkapkan media online yang sering diakses oleh remaja seperti Youtube, Instagram dan website berita, secara masif digunakan industri rokok untuk beriklan. Hal ini sangat memungkinkan algoritma penggunaan media online sudah dipetakan oleh pengiklan rokok (produsen rokok).

Mba Kiki mengatakan, anak  remaja yang merokok, akan tetap merokok setelah melihat iklan rokok di media online. Sementara itu, anak remaja yang tidak merokok, kemungkinan akan merokok setelah melihat iklan rokok tersebut. Apalagi jika iklan dikemas sesuai dengan jiwa kekinian anak remaja dan membuat si anak berpikir bahwa rokok akan membuatnya hebat dan keren seperti yang ada dalam iklan rokok yang dilihatnya tersebut. Mba Kiki menegaskan jika ingin menghentikan jumlah perokok anak di Indonesia, pemerintah harus menaikkan harga rokok sehingga harga rokok tidak terjangkau oleh uang jajan anak remaja. Dan tidak ada lagi rokok yang dijual batangan.

Mendengar penjelasan yang disampaikan oleh Mba Kiki membuat saya semakin menyadari bahayanya iklan rokok dalam menggoda anak untuk mencoba rokok. Mengikuti webinar online Lentera Anak ini, saya jadi tau bahwa di Indonesia cukup banyak terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh industri rokok melalui iklan, sponsor dan CSR-nya. Seperti penjelasan yang diberikan oleh Mas Hariadi mengenai bagaimana industri rokok mengakali peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Industri rokok diatur oleh berbagai peraturan termasuk yang mengatur seputar sponsor rokok, iklan dan CSR.

Regulasi sponsorship, iklan dan CSR industri rokok diatur dalam PP 109 tahun 2012 yang isinya menyatakan bahwa produk tembakau yang mensponsori suatu kegiatan dapat dilakukan dengan syarat tidak boleh menggunakan merk dagang dan logo produk tembakau termasuk brand image produk tembakau. Sponsor yang dilakukan tersebut tidak boleh bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau. Sponsor tersebut dilarang untuk kegiatan lembaga atau perorangan yang diliput media.

Pelanggaran yang dilakukan oleh industri rokok (sumber : Lentera Anak)

Peraturan tersebut juga mengatur jam tayang iklan dan melarang adanya brand image dalam kegiatan CSR. Namun kenyataannya dalam penyelenggaraan kegiatan yang dilakukan oleh industri rokok, pasti menyertai brand image. Contohnya dalam audisi olahraga untuk anak-anak, di dalam ruangan audisi terdapat banyak brand image dari produk rokok yang mensponsorinya dan kaos yang digunakan oleh anak-anak yang ikut audisi, terdapat tulisan brand rokok yang mensponsorinya.

Pelanggaran yang dilakukan dalam kegiatan CSR produk rokok (sumber foto: Lentera Anak)

Begitu juga dengan acara musik yang disponsori oleh brand rokok, tetap saja ada banyak brand image dari produk rokok yang mensponsorinya. Pemerintah hingga hari ini masih dinilai belum tegas untuk menindak semua pelanggaran yang dilakukan oleh industri rokok tersebut. Iklan yang dilakukan secara massif oleh para produsen rokok inilah yang menjadi salah satu pemicu kian tingginya jumlah perokok anak di Indonesia.

Selaras dengan yang diutarakan oleh Mas Hariadi bahwa industri rokok cukup banyak melakukan pelanggaran dalam sponsorship, iklan dan kegiatan CSR yang dilakukannya, Mas Bigwanto juga mengatakan bahwa industri rokok juga melakukan manipulasi anak muda di era Post-Truth dengan cara-cara baru yang lebih inovatif, halus dan kreatif. Cara-cara baru tersebut dengan menggunakan media sosial, influencer anak muda, native advertisement dan iklan yang berisi kata-kata inspiratif. Industri rokok juga kian gencar mempromosikan rokok elektrik dengan menjual rasa aman merokok padahal semua itu adalah kebohongan semata.

Rokok elektrik atau vape sama berbahayanya dengan rokok biasa. Benar juga apa yang dikatakan oleh Bu Lisda, belum beres persoalan rokok pada anak, kini muncul persoalan baru yang tak kalah beratnya. Godaan merokok elektrik pada anak. Terlebih lagi, rokok elektrik ini dipermanis dengan tagline rokok aman dan tidak berbahaya. Tagline yang penuh kebohongan inilah yang dapat menjerat anak Indonesia dalam lubang nikotin yang lebih dalam lagi.

Diperlukan kerja keras dan kerjasama semua pihak agar generasi penerus bangsa dapat lepas dari manipulasi yang dilakukan oleh industri rokok melalui iklan dan sponsor yang gencar dilakukannya. Semangat ya untuk semua orangtua di Indonesia yang memiliki anak usia remaja untuk selalu melindungi buah hatinya dari manipulasi yang dilakukan oleh industri rokok. Mari kita menjadi teman untuk anak-anak kita sendiri dan menjadikan rumah sebagai tempat paling nyaman dan aman bagi anak. Smoga perokok anak di Indonesia setiap tahunnya terus menurun jumlahnya dan pada akhirnya Indonesia bisa bebas dari perokok anak..Aamiin.

Stop manipulasi industri rokok terhadap anak Indonesia 






















Read more