Wamena, Destinasi Wisata Hijau Papua Favorit Saya

by - Maret 19, 2020


Bandara Wamena, Papua

Hello semua. Smoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia ya...Aamiin. Kali ini saya ingin bercerita tentang perjalanan saya mengunjungi kota Wamena, Papua. Wamena merupakan kota kedua di Papua yang saya kunjungi setelah kota Jayapura. Saya bersyukur sekali dapat menginjakan kaki di bumi Papua yang menjadi destinasi wisata hijau impian para pecinta keindahan alam baik dari negeri sendiri maupun luar negeri.

Wamena merupakan kota istimewa untuk saya karena telah lama saya memimpikan untuk bisa datang dan menikmati langsung keindahan "wisata hijau" Papua yang ada di Wamena seperti Lembah Baliem, perkebunan kopi yang bersembunyi di dalam hutan, dan perkampungan salah satu suku asli Papua, Suku Dani.

Wamena terutama Lembah Baliem telah menjadi destinasi wisata impian saya sejak saya menyaksikan liputan tentang festival Lembah Baliem dan kehidupan Suku Dani beberapa tahun silam. Suku Dani adalah penduduk asli Papua yang terkenal dengan kotekanya. Sejak saat itu, saya selalu senang membaca atau menonton tayangan apapun yang mengisahkan tentang Lembah Baliem dan Suku Dani.

Pemandangan di sekitar Lembah Baliem

Ketertarikan saya terhadap kota Wamena semakin menjadi saat saya datang ke salah satu kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan dan disuguhi kopi dengan citarasa luar biasa enak serta menghadirkan sensasi rasa manis sesudah menyesapnya. Yups, kopi Wamena-lah yang saya minum ketika itu. Dan tekad saya pun semakin bulat, saya harus datang ke bumi Wamena. Demi menikmati keindahan Lembah Baliem dan kopi Wamena. Alhamdulillah keinginan tersebut berhasil terwujud.

Kota Wamena bukan hanya dianugerahi keindahan alam yang luar biasa indah tapi juga memiliki kekayaan alam hayati dan budaya yang tak kalah menawan. Wamena dalam bahasa lokal berarti "babi jinak". Wamena merupakan ibukota dari Kabupaten Jayawijaya. Kota Wamena terletak di Pegunungan Tengah Papua.

Kota kecil ini tepat berada di tengah lembah yang sangat subur yaitu Lembah Baliem. Tak heran jika tanah Wamena terkenal dengan kesuburannya. Dan saat pertamakali melihat kota Wamena, saya semakin jatuh cinta dan langsung berkata pada diri sendiri, "inilah tempat wisata favorit saya dan saya harus kembali lagi dan lagi".

Perjalanan Menuju Wamena


Kota Wamena

Untuk sampai ke Wamena, saya harus menempuh perjalanan cukup lama dari Jakarta. Harus transit  terlebih dulu di Bandara Sentani, Jayapura untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jalur udara selama satu jam menuju kota Wamena. Jakarta-Jayapura dapat ditempuh selama 7 jam tanpa transit di Makassar atau 8-9 jam dengan transit lebih dulu di Makassar. Jadwal penerbangan Jakarta - Jayapura tidaklah sebanyak jadwal penerbangan ke kota lainnya karena mungkin terkait dengan biaya akomodasi termasuk tiket pesawat yang terbilang mahal.

Sedikit tips nih sebelum melakukan perjalanan ke Wamena. Kalian harus memperhitungkan jadwal penerbangan dari Jayapura ke Wamena dan sebaliknya. Untuk penerbangan ke Jayapura, satu jam sebelum jadwal terbang, kalian sebaiknya sudah harus melakukan check in dan siap - siap untuk boarding daripada mengalami kepanikan luar biasa seperti yang saya rasakan.

Saya nyaris tidak bisa masuk pesawat menuju Jayapura karena baru cek in 45 menit sebelum jadwal terbang. Semua penumpang selain saya tentunya, sudah duduk manis di dalam pesawat dan saya melongo di depan petugas tiket maskapai yang akan saya tumpangi karena si petugas bilang boarding sudah ditutup. Alamaaak.

Untungnya setelah melalui perdebatan sengit antara saya dan petugas bandara yang ada di tempat cek in, akhirnya saya diperbolehkan untuk boarding dan masuk ke dalam pesawat. Saya ngotot karena merasa tidak melanggar aturan yang tertera di tiket. Di tiket tertulis bahwa waktu maksimal untuk melakukan cek in adalah 30 menit sebelum jam keberangkatan. Saya berada di tempat cek in sekitar 45 menit sebelum waktu keberangkatan. Jadi ngga telat dong saya sebenarnya.

Saya super ngotot karena kebayangkan gimana jadinya klo saya sampai ngga bisa terbang ke Jayapura gara gara telat boarding? Duh runyam banget pastinya. Harga tiketnya yang cukup mahal dan juga jadwal penerbangan yang hanya dua kali dalam sehari itu loh. Ditambah lagi, saya pasti akan ketinggalan pesawat menuju Jakarta dari bandara Sentani, Jayapura jika saya tertahan di bandara Wamena. Jadi kacau banget kan jadinya. Syukur Alhamdulillah akhirnya saya bisa ke Jayapura walau harus melalui drama adu mulut wkwkwk.

Total lama perjalanan Jakarta-Wamena bisa mencapai 9-10 jam perjalanan. Cukup melelahkan, bukan? Meskipun harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan namun rasa lelah tersebut seketika hilang saat melihat keindahan Wamena yang eksotis. Pemandangan hijau royo royo sangat menyejukkan mata. Wamena berada di sebuah lembah besar yang dikelilingi oleh perbukitan.

Menuju hutan wisata 

Kondisi geografis Wamena inilah yang membuat masyarakat Wamena mengalami kesulitan dalam hal distribusi kebutuhan hidup sehari-hari. Semua barang kebutuhan yang masuk ke Wamena harus melalui udara. Tak heran jika harga barang-barang sehari-hari di Wamena cukup tinggi dibandingkan dengan daerah lain di Papua. Semoga saja segera ada campur tangan pemerintah agar harga barang kebutuhan sehari-hari di Wamena bisa seperti harga di daerah lainnya, tidak mahal pake banget.

Kondisi geografis Wamena yang dikelilingi perbukitan

Saya saja dibuat melongo dengan harga air mineral botol ukuran 600ml yang dibandrol dengan harga 20 ribu rupiah. Harga yang bikin mata terbelalak dibuatnya. Harga makanan matang pun tak kalah menyesakkan dada hahahaha. Untuk semangkok indomie rebus tanpa telur, kita harus rela menukarnya dengan selembar uang sepuluhribuan..hiks.

Yah meski biaya hidup di Wamena mahal, saya tetap ngga kapok untuk datang kembali ke kota favorit saya ini karena saya terlanjur jatuh hati dengan keindahan Lembah Baliem, tradisi Suku Dani yang unik, kopi Wamena yang rasanya istimewa, hutannya yang kaya namun menyimpan seribu misteri dan kuliner khasnya yang tidak bisa ditemui di tempat lain. Singkatnya, Wamena memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki tempat lainnya di Papua.

Wamena memiliki hutan perawan yang sungguh sangat menawan. Selain itu, kopi Wamena telah membuat saya jatuh cinta meskipun untuk menikmati kopi Wamena, saya harus merogoh kocek yang lumayan wkwkwk. Kopi Wamena menjadi daya tarik yang cukup memikat bagi para wisatawan baik asing dan domestik yang berkunjung ke Wamena , selain keindahan Lembah Baliem tentunya.

Kopi Wamena

Rasa kopi Wamena yang enak di lidah, beraroma wangi yang khas, dan memiliki tekstur yang soft, sungguh membuat saya ketagihan untuk meneguknya. Apalagi kopi Wamena ini menghadirkan after taste (rasa  yang muncul setelah minum kopi) yang manis. Salah satu keunggulan lainnya dari kopi Wamena adalah kopi ini aman untuk lambung karena memiliki kadar asam yang rendah. Kopi Wamena merupakan kopi organik karena biji kopi yang dipetik dari tanaman kopi yang ditanam secara alami dan tanpa sentuhan pupuk kimiawi sama sekali. Hanya menggunakan pupuk yang berasal dari alam.

Tanaman kopi Wamena ditanam di dalam hutan di atas bukit. Tepat di kaki gunung Jayawijaya. Petani kopi Wamena tidak mau menggunakan pupuk kimia jenis apapun karena mereka percaya bahwa pupuk kimia dapat merusak hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Bagi masyarakat Wamena, hutan adalah "rumah" mereka. Mereka hidup dan mencari makanan dari hutan. Hutan tetap dijaga kelestariannya namun tetap dimanfaatkan untuk kehidupan masyarat sekitar. Dan seperti yang kita ketahui bersama, hutan di Papua merupakan salah satu hutan yang menjadi konservasi dunia.

Perkebunan Kopi di Hutan Distrik Wolo


Tanaman kopi di hutan Distrik Wolo

Penduduk Wamena sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani kopi. Mereka tinggal berkelompok di bukit-bukit yang berada di sekitar kaki gunung Jayawijaya. Saya sangat penasaran dengan kebun kopi di Wamena yang ditanam dalam hutan. Karena itu, tujuan pertama saya setelah menyimpan tas di tempat menginap yang terletak di pusat kota Wamena adalah mengunjungi salah satu daerah penghasil kopi yang ada di kota tersebut. Salah satu daerah penghasil kopi di Wamena adalah Distrik Wolo. Saya memilih Wolo karena saya kenal dengan petugas pendamping kelompok petani kopi Wolo. Distrik Wolo berada cukup jauh dari pusat kota Wamena, sekitar 1,5 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor. 

Masyarakat Distrik Wolo, Wamena

Wolo merupakan daerah berbukit yang dilintasi oleh sebuah sungai kecil. Masyarakat Wolo hidup secara berkelompok dan menempati sebuah rumah yang cukup besar. Satu rumah besar dihuni oleh 3-4 keluarga. Namun ada pula yang menempati honai. Honai adalah rumah adat suku Dani. Mereka hidup rukun dan saling menolong. Masyarakat Wolo sama seperti kita, sudah memakai pakaian namun jarang yang menggunakan alas kaki.

Rumah penduduk di Distrik Wolo, Papua

Penduduk Wolo tidak seperti yang saya bayangkan. Saya kira mereka hidup terbelakang dan susah menerima kehadiran "orang luar". Dugaan saya ternyata salah. Sejak pembangunan menyentuh Wolo, penduduk Wolo mengenal sekolah dan diantara mereka ada yang sudah bisa berbahasa Indonesia meski dengan logat Papua yang kental. Di Distrik Wolo sudah ada sekolah dasar. Tapi jangan bayangkan sekolahan seperti yang ada di kota lainnya yang berada di Pulau Jawa ya. Sekolah dasar di Wolo hanya berupa bangunan ala kadarnya yang difungsikan sebagai sekolahan.

Anak-anak dan mama mama di Distrik Wolo, Papua

Mata pencaharian hampir sebagian besar penduduk Distrik Wolo adalah petani kopi. Mereka telah turun temurun menjadi petani kopi. Saat pertamakali menginjakkan kaki di Distrik Wolo, saya sempat menerka-nerka sendiri, di manakah perkebunan kopi milik warga Wolo berada? Karena yang saya lihat hanyalah hutan berbentuk bukit yang dipenuhi pohon besar. Tak ada tanda-tanda kehadiran pohon kopi. Padahal saya sudah berdiri di pinggir hutan. Ternyata tanaman kopi milik warga Wolo berada di atas bukit dalam hutan. Pantas saja jika dikatakan perkebunan kopi bersembunyi dalam hutan karena memang sama sekali ngga keliatan. Harus masuk dulu ke dalam hutan, baru bisa menemukan tanaman kopi.

Untuk bisa melihat tanaman kopi milik penduduk Wolo, kita harus masuk cukup jauh ke dalam hutan dan naik ke bukitnya. Pohon kopi tumbuh subur diantara tanaman hutan lainnya. Petani kopi Wolo tak pernah menggunakan pupuk kimia jenis apapun. Tanaman kopi Wolo tumbuh subur dan menghasilkan biji kopi yang baik.

Biji kopi dari Distrik Wolo

Tadinya saya pikir perkebunan kopi dimanapun sama saja, ternyata saya salah. Bayangan saya tentang perkebunan kopi seperti yang ada di Pulau Jawa, sama sekali tidak ditemui di Wolo. Masyarakat Wolo menanam kopi di atas bukit dalam hutan sejak jaman Hindia Belanda.

Sebelum adanya campur tangan pemerintah, petani kopi Wolo belum banyak mengetahui bagaimana cara mengolah biji kopi yang tepat sehingga menghasilkan kopi berkualitas. Bukan hanya itu, mereka juga tidak memiliki pengetahuan yang cukup dalam budidaya tanaman kopi. Hal ini saya dapatkan dari penuturan Pak Yakob, orang asli Papua yang mendampingi saya keliling perkebunan kopi Wolo. Pak Yakob merupakan salah satu anggota petani kopi binaan salah satu BUMN yang ada di Wamena. Pak Yakob pula yang menjadi pemandu saya selama berada di Wamena.

Pak Yakob, petani kopi sekaligus pemandu saya

Menurut penuturan Pak Yakob, saat ini petani kopi Wolo telah memperoleh pendampingan dan bantuan alat pengolahan kopi dari salah satu BUMN melalui program CSR BUMN tersebut.  Sehingga pengetahuan dan kemampuan mengelola kopi para petani kopi Wolo semakin membaik. Tadinya mereka merendam kopi selama berhari-hari supaya kulit kopi dapat terpisah dari bijinya. Namun hal ini membuat kualitas kopi menjadi rendah.

Setelah memperoleh pembinaan dan pendampingan tersebut, para petani kopi Wolo jadi tau bagaimana caranya mengolah biji kopi supaya menghasilkan kopi dengan kualitas baik. Mereka juga diajari cara mengemas kopi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Kopi asal Wolo didistribusikan ke beberapa kota di Papua dan luar Papua termasuk ke Pulau Jawa. Berkat kopi, taraf kehidupan masyarakat Wolo mengalami peningkatan.

Kopi hasil produksi petani kopi Wolo, Wamena

Keliling hutan yang ditumbuhi pohon kopi di Wolo cukup melelahkan karena medan yang harus dilalui cukup berat. Harus menapaki jalan licin mendaki dan menurun yang cukup curam dan penuh semak belukar serta tanaman hutan lainnya. Saya sempat menemukan pohon jeruk yang tumbuh subur dan berbuah lebat diantara tanaman kopi. Atau pohon Matoa yang membuai pandangan dengan buahnya yang lebat dan siap untuk dipetik. Sungguh perkebunan kopi yang sangat berbeda dengan yang ada di pulau Jawa. Menjelajah perkebunan kopi di hutan Wolo makin menyadarkan saya akan pentingnya hutan bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Kopi Wolo


Kota Wamena dan Lembah Baliem yang Memukau



Setelah puas keliling Distrik Wolo untuk melihat langsung perkebunan kopi yang berada dalam hutan, saya memilih untuk langsung pulang ke hotel yang berada di pusat kota Wamena. Pusat kota Wamena berada tak jauh dari bandara Wamena. Hari pun telah beranjak malam saat saya tiba di lobby hotel. Pukul 6 sore di kota Wamena bagai jam 9 malam di Jakarta. Kendaraan mulai jarang dan hanya segelintir orang yang masih lalu lalang.

Kota Wamena, kota kecil yang berudara sejuk, tenang dan menyimpan sejuta cerita tentang kehidupan masyarakatnya yang jauh dari hinggar bingar kehidupan metropolitan. Penduduk kota Wamena bukan hanya orang asli Papua saja tetapi cukup banyak juga orang Jawa dan Bugis yang tinggal menetap di kota Wamena.

Kota Wamena, Papua

Mengendarai kendaraan bermotor di Wamena haruslah hati-hati. Ekstra hati-hati malah. Karena di sana akan sering ditemui sekawanan babi yang melintas dengan seenaknya saja. Kalau kendaraan bermotor kita sampai nyerempet atau nabrak si babi ini, waduuuh runyamlah hidup kita. Kenapa bisa begitu? Karena bagi masyarakat Wamena, babi adalah binatang yang memiliki nilai tinggi dan penting. Satu anak babi bisa berharga paling murah 50 juta. Itu baru harga anak babi.  Belum harga ibu bapak babi loh. Saran saya sih, baik-baiklah dengan si babi babi ini selama di Wamena wkwkwk.

Babi, harta berharga bagi masyarakat Wamena

Wamena terkenal dengan Lembah Baliemnya. Tempat tinggal suku Dani. Jika berkunjung ke Lembah Baliem, janganlah sekali-kali mengajak foto orang Suku Dani kalau kalian tidak memiliki uang yang cukup. Kalian harus siapkan minimal 5 lembar uang 100 ribuan untuk dapat berfoto dengan mereka. Itu pun hanya satu kali jepret loh. Wkwkwk ajibkan?

Suku Dani
Wamena menyimpan banyak cerita berkesan yang bisa dijadikan kisah berharga untuk anak cucu. Suatu hari nanti saya ingin memperkenalkan pada keturunan saya tempat-tempat indah penuh pesona yang ada di bumi Indonesia. Terutama Papua, bumi mutiara hitam yang belum banyak dilirik orang. Saya ingin anak cucu saya tahu bahwa Indonesia bukan hanya Jawa, Sumatera dan Bali saja. Tapi juga Papua. Karena Papua adalah Indonesia.

Di kaki gunung Jayawijaya, Papua

Salah satu kisah yang ingin saya ceritakan pada anak cucu saya adalah cerita tentang salah satu suku besar yang ada di Papua, Suku Dani. Suku Dani memiliki tarian dan tradisi perang suku yang sangat unik. Disamping itu, Mumi kepala suku yang masih tersimpan menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang datang. Sayangnya pada saat memasuki perkampungan adat Suku Dani, saya ngga berani mengeluarkan kamera ataupun handphone.

Selain takjub dengan kondisi sekitar, sejujurnya saya deg deg an dengan perilaku orang asli Papua tersebut. Mereka saling bersahutan, teriak mengucapkan selamat datang dalam bahasa lokal. Dan teriakan mereka itu bikin jantung saya berdegup sangat kencang. Ditambah lagi mereka hanya menggunakan koteka sebagai penutup kemaluan mereka, membuat saya semakin deg deg an sendiri hahahaha.

Tidak hanya kehidupan suku Dani dan tradisinya yang unik, keindahan alam Wamena terutama bukit-bukit di sekitar Lembah Baliem, sukses membius saya. Saya juga terpukau dengan Honai, rumah adat Suku Dani. Saya sempat masuk ke salah satu Honai dan saya mendapat kejutan di sana. Di dalam honai tersebut, tertidur pulas seekor bayi babi baru lahir usia 2-3 hari, dan sukses bikin jantung saya nyaris copot. Kondisi dalam honai yang temaram, membuat saya hampir menginjak bayi babi tersebut. Untung saja sebelum terinjak, saya sempat melihat bayi babi itu bergerak sedikit dan spontan membuat saya menjerit sekencangnya karena kaget.

Honai, rumah Suku Dani

Alhamdulillahnya sih cuma bayi babi yang ada, coba kalau anak babi atau induk babi, saya pasti sudah habis diseruduk karena makhluk tersebut pasti kaget dengar jeritan saya wkwkwk . Pak Yakob, pemandu saya saja sampai tertawa terpingkal pingkal melihat saya yang balapan dengan bayi babi untuk keluar honai hahahaha. Bayi babi tersebut shock dengar jeritan melengking yang keluar dari mulut saya hingga tergopoh gopoh keluar honai, dikiranya saya bahaya yang mengancam jiwanya. Padahal saya yang ketakutan bersua dengan dia. Sungguh sebuah kenangan yang sangat membekas dari tanah Papua.

Selain Lembah Baliem, Wamena memiliki wisata alam yang luar biasa indah dan unik seperti keanehan pasir putih, sumber air garam, danau Habema, goa terpanjang di dunia dan flora fauna yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Kesemuanya itu membuat saya makin mantap bertekad untuk datang kembali ke Wamena terutama ke Taman Nasional Lorentz.

Senang sekali akhirnya bisa foto di samping Honai

Kuliner Khas Wamena


Tak lengkap rasanya datang ke Wamena jika tak menyantap hidangan unik dan khas Wamena yang lezat tiada tara. Salah satu kuliner unik dan khas Wamena yang saya maksud, tak lain dan tak bukan adalah udang selingkuh. Udang selingkuh adalah sejenis udang air tawar raksasa yang memiliki capit sebesar kepiting. Udang selingkuh ini hidup di sungai Baliem.

Udang Selingkuh, kuliner yang hanya ada di Wamena

Penduduk lokal memburu udang ini dan menjualnya pada wisatawan yang datang sebagai kuliner lezat khas Wamena yang memiliki nilai jual sangat ekonomis. Satu porsi udang selingkuh dibandrol dengan harga 800-900 ribu rupiah dengan isi sekitar 8 hingga 9 ekor. Harga yang sepadan mengingat susahnya untuk memperoleh udang selingkuh ini. Terlebih lagi, udang selingkuh ini hanya bisa ditemui di Wamena saja. Jadi wajar kalau harganya cukup tinggi.

Masyarakat Wamena menamakan udang air tawar ini dengan nama udang selingkuh karena udang ini diyakini sebagai hasil perselingkuhan antara udang dan kepiting. Cerita ini sukses membuat saya nyengir loh. Udang dan kepiting saja bisa selingkuh, gimana manusia? Ehhhh hahahahaha  Udang selingkuh memiliki rasa yang gurih sekaligus manis. Udang ini biasanya dimasak dengan bumbu asam manis atau digoreng.

Selain udang selingkuh, Wamena memiliki kuliner khas yang disebut masakan bakar batu. Kuliner ini terdiri dari keladi (sejenis talas/umbian yang tumbuh di hutan Papua) yang dimasak dengan cara dibakar dalam alat bakar batu dan tumpukan kayu . Api untuk membakarnya didapat dengan cara menggesekkan batu. Keladi bakar tersebut dimakan dengan ayam (penduduk lokal biasanya juga menggunakan daging hewan buruan yang didapatkan dari hutan) yang dibungkus daun keladi lalu dimasak dengan proses sama seperti memasak keladi tadi.


Masakan bakar batu

Masakan bakar batu merupakan sajian penghormatan masyarakat Wamena terhadap tamu yang datang berkunjung ke desa atau daerahnya sebagai tanda bahwa orang yang datang tersebut disambut gembira oleh masyarakat setempat. Sayangnya lidah dan perut saya menolak dengan rasa ayamnya dan hanya bisa menerima keladi bakarnya saja. Keladi bakar batu rasanya cukup pulen dan hampir mirip dengan rasa talas.

Selama berada di Wamena saya sempat juga menyicipi madu Wamena. Rasanya ya samalah dengan madu lainnya. Eh ini sih menurut lidah saya ya. Karena kalau menurut lidah suami saya, madu Wamena terasa lebih manis dan membuat badan lebih bertenaga. Saya membawa madu Wamena pulang ke Jakarta sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah.

Madu asli Wamena

Mari Jaga Wisata Hijau Papua


Alam Papua yang memiliki keindahan memukau merupakan aset yang harus kita jaga bersama. Hutan Papua yang memiliki nilai ecowisata yang tinggi kini mulai terancam. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, masyarakat Wamena khususnya dan Papua pada umumnya, hidup bergantung pada hutan sebagai sumber kehidupannya. Menurut pernyataan yang disampaikan oleh Econusa , yayasan yang concern pada upaya untuk meningkatkan inisiatif tingkat lokal dan internasional dalam konteks pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan berbasis masyarakat di wilayah Maluku dan Papua, saat ini hutan di Papua cukup banyak yang mengalami kerusakan akibat pembangunan yang kurang memperhatikan keseimbangan alam.

Keadaan seperti ini tidak bisa kita diamkan begitu saja. Kita harus sama-sama menjaga agar bumi mutiara hitam Papua tetap lestari supaya anak cucu kita nanti dapat menikmati keindahan wisata hijau Papua termasuk indahnya Lembah Baliem dan uniknya budaya Suku Dani. Papua dengan segala keunikan dan kekayaan alam budaya yang dimilikinya memiliki potensi konflik yang cukup tinggi. Baik konflik yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan ataupun disebabkan oleh faktor lain. Seperti yang terjadi pada kota Wamena beberapa waktu lalu. Sedih banget loh saya saat mengetahui terjadi kerusuhan di Wamena. Dan saya tidak ingin konflik apapun terjadi lagi di tanah Papua. Oleh karena itu sudah seharusnya kita sama-sama menjaga Papua dan mendukung apapun yang terbaik untuk Papua karena Papua adalah Indonesia.

Sama seperti yang dikatakan oleh Yayasan Econusa, saya juga percaya bahwa mengenal tanah Papua adalah upaya untuk mengenal Indonesia lebih baik. Karena itu saya mendukung semua program yang diusung oleh Yayasan Econusa untuk kemajuan dan kepentingan  bumi Papua. Hari ini, esok dan di masa yang akan datang nanti.

Bersama anak Papua, anak Indonesia






You May Also Like

15 komentar

  1. Serunya sempat ke Wamena Mbak, dulu dari Jayapura kami diajak ke Wamena tapi ibuku takut naik pesawat kecil hehe

    BalasHapus
  2. Waah seru sekali bisa jalan2 ke Papua ya mbak. Berkunjung ke perkebunan kopi, trus berinteraksi dg penduduk lokal (suku Dani). Pengalaman tak terlupakan ini mah.

    BalasHapus
  3. waaah wamena, aku pengen banget dari dulu bisa mampir ke Papua, semoga suatu hari nati bisa main ke sana hehehe

    BalasHapus
  4. kalo denger cerita teman yang pernah tinggal disana, katanya enak banget berburu ikan di Papua, ukurannya super besar, jarang dapet kalo disini mba.

    BalasHapus
  5. Perjalanan yang panjang ya, Mbak Dewi, tapi semua terbayar dengan keindahan alam, termasuk kulinernya. Saya ngiler ingin coba udang selingkuhnya hehehe.
    Saya sempat membayangkan kalau Mbak Dewi gagal boarding.Tiketnya kan mahal. Makanya teman saya dulu pas ke Jayapura Makassar saja itu seminggu naik kapal laut. Apalagi Jayapura ke Tanjung Priok.

    BalasHapus
  6. Mbak Dewi beruntung banget ya pernah datang langsung ke Wamena, alamnya indah banget n sempet foto2 lagi sama anak asli sana, semoga kesejahteraan masyarakatnya semakin meningkat ya Mbak. Suka prihatin kl baca kemiskinan di sana, huhuu

    BalasHapus
  7. Waow, sudah sampai Wamena ya Mbak. Senang sekali lihat perumahan penduduk Wolo. Kayaknya akrab gitu satu sama lain. Buat Mama Mama seandainya butuh garam tinggal minta sebelah hehe

    BalasHapus
  8. Mahal biaya hidup di wamena. Makanya sepupu mpo waktu balik ke jakarta puas-puasin makan indomie

    BalasHapus
  9. Y allah mbak pengalaman sekali seumur hidup nih. Aku jadi pingin lihat babi Papua, hanoi di tempat asalnya. Icip udang selingkuh dan bakar batu. Semuanya baru sekedar kubaca saja. Pingin rasain sendiri

    BalasHapus
  10. Wah...Papua, salah satu bucket list aku nih tuk wilayah Timur Indonesia. Senangnya bisa menjejakkan kaki disana.

    BalasHapus
  11. Lihat foto2 nya..seru banget yah mba berkunjung ke Papua. Aku lihat kopi Wamena. Duh jadi langsung pengen ngopi. Mengikuti cerita perjalanannya jadi berharap suatu saat bisa berkunjung ke Papua aamiin

    BalasHapus
  12. Papua memang indah banget yah,destinasi wisata hijau sungguh menggoda untuk dikunjungi nih. Beberapa kali meiirik tiket pesawat kesana memang lumayan banget harganya tapi terbayar dengan segala kecantikannya.

    BalasHapus
  13. Papua itu memang cantik banget pemandangannya 😍

    Suamiku uda beberapa kali mengelilingi Papua menggunakan motor. Katanya memang bagus banget Papua itu.

    Semoga dengan adanya Econusa jadi lbh baik ya 😊

    BalasHapus
  14. Mba, misalnya aku harus masuk rumah Honai itu dan ketemu babi juga bakalan bergidik ya. Enggak biasa kan ya ada hewan gitu di dalam rumah. Udah kayak kucing aja kalik ya dipelihara di dalam rumah. :))

    Semoga keindahan alam di Papua tetap terjaga dan menjadi salah satu aset wisata maupun penjaga kelestarian lingkungan di bumi Indonesia.

    BalasHapus
  15. Kapan ya mak aku bisa travelling ke timur juga duuhh aku mupeng kalau denger kata Wamena deh, semoga bisa segera kesampaian nih

    BalasHapus

Postingan Populer