Panen Perdana Rumput Laut Petani Binaan YBM PLN di Kepulauan Seribu

Panen perdana rumput laut di Kepulauan Seribu

Kurang lebih 40 hari lalu, diawal bulan November, saya berkesempatan melihat langsung proses budidaya rumput laut yang dilakukan oleh petani binaan Yayasan Baitul Maal PLN dan Nirunabi Foundation di Semak Daun, Kepulauan Seribu. Proses penanaman rumput laut tersebut, sempat saya ceritakan di Program Desa Cahaya YBM PLN .

Program Desa Cahaya merupakan program yang dilakukan oleh YBM PLN dan Nirunabi Foundation dalam rangka menghidupkan kembali rumput laut di Kepulauan Seribu yang sempat mati suri. Caranya dengan melakukan binaan dan pendampingan terhadap 100 petani rumput laut yang berada di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu.

Program binaan dan pendampingan yang dilakukan oleh YBM PLN bekerjasama dengan Nirunabi Foundation bersifat dari hulu ke hilir. Binaan dan pendampingan tersebut meliputi proses penanaman sampai mencarikan industri yang membeli hasil rumput laut tersebut. Bukan hanya mendampingi dan melakukan pembinaan saja tapi juga menyediakan sarana dan prasarana budidaya rumput laut seperti bibit, sampan, dan tempat pengeringan rumput laut. Program Desa Cahaya yang diusung oleh YBM PLN didanai dari zakat penghasilan seluruh karyawan PLN se-Indonesia yang dikelola oleh YBM PLN.

Rumput laut termasuk dalam keluarga ganggang dan merupakan tanaman tingkat rendah yang tidak mempunyai akar, batang maupun daun sejati tapi hanya berupa thallus (menyerupai batang) dan tumbuh di lautan dengan cara melekatkan dirinya pada karang, lumpur ataupun benda keras lainnya. Rumput laut tumbuh dan berkembang tanpa memerlukan perlakuan khusus. Alam yang membuatnya tumbuh subur. Dengan catatan habitatnya terjaga kebersihannya dari sampah dan polusi limbah lainnya.

Rumput laut

Biasanya yang membuat rumput laut mengalami penurunan kualitas karena banyaknya sampah di sekitar tempat tumbuh rumput laut. Karena itu kebersihan laut harus dijaga agar rumput laut yang merupakan salah satu produk laut yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan potensial dapat tumbuh subur sehingga menghasilkan benefit bagi petani rumput laut yang membudidayakannya.

Jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh Kelompok Petani Rumput Laut Desa Cahaya Kepulauan Seribu adalah jenis spinosum. Spinosum termasuk dalam keluarga ganggang merah. Cirinya adalah memiliki thallus atau batang berbentuk silindris, dipenuhi nodulus atau tonjolan berupa duri lunak yang mengelilingi cabang thallus dan berwarna ungu kemerahan.

Spinosum mudah dibudidayakan dan relatif tidak memakan biaya yang besar. Cukup menggunakan tali sebagai pengikat, botol air mineral bekas sebagai penanda sekaligus tempat lekatan dan sampan. Dan selanjutnya alamlah yang bertugas untuk membuatnya tumbuh subur dan siap dipanen sekitar 40-45 hari dari waktu penanamannya.

Panen Perdana Rumput Laut Petani Binaan YBM PLN dan Nirunabi Foundation Serta Acara Bersih Bersih Pantai 

Panen perdana rumput laut menggunakan sampan

Pada tanggal 22 dan 23 Desember 2019 kemarin, Alhamdulillah saya lagi lagi memperoleh kesempatan untuk ikut langsung menyaksikan proses panen rumput laut di Semak Daun Kepulauan Seribu. Namun ada yang berbeda dengan kondisi perairan Kepulauan Seribu saat saya datang kembali. Angin terasa lebih kencang dengan ombak yang relatif lebih keras ayunannya. Warna air laut pun terlihat lebih pekat menandakan volume air meningkat.

Bukan hanya itu, dalam perjalanan menuju tempat budidaya rumput laut, beberapa kali saya melihat sampah plastik dan benda benda yang tak seharusnya berada di tengah laut tapi nyatanya sedang terombang ambing dipermainkan ombak. Sedih rasanya hati ini melihat sampah tak diundang berada di laut dan merusak keindahan serta mengganggu kehidupan biota laut termasuk mengganggu kehidupan rumput laut.

Rumput laut dapat dipanen sekitar 45 hari sejak dibudidayakan. Tergolong cepat juga sih waktu tanam dengan waktu panen. Panen perdana kelompok petani Desa Cahaya di Kepulauan Seribu ini mencapai 2,5 ton. Ini adalah panen pertama sejak kurang lebih 20 tahun lalu. Sebelum rumput laut mengalami mati suri di Kepulauan Setibu.

Sekitar tahun 1990-an, rumput laut sempat menjadi "primadona" masyarakat Kepulauan Seribu karena menjadi mata pencaharian utama masyarakat setempat. Seiring dengan krisis moneter yang dihadapi Indonesia, rumput laut di Kepulauan Seribu juga mengalami krisis hingga akhirnya mati suri. Mba Reni, salah satu pendamping petani rumput laut Desa Cahaya mengungkapkan alasan kenapa dihidupkan kembali budidaya rumput laut ini di Kepulauan Seribu.

Sejak rumput laut mengalami mati suri di akhir tahun 90-an, masyarakat Kepulauan Seribu menggantungkan pendapatannya dari menangkap ikan di laut atau menjadi petani. Penduduk yang memiliki modal cukup, mereka membuka penginapan dengan merenovasi rumahnya atau membangun cottage atau bungalow di tanah miliknya. Namun, penghasilan dari menangkap ikan dan membuka penginapan atau cottage bersifat musiman atau serba tak tentu. Kalau cuaca bagus ya hasil tangkapan ikan banyak, penghasilan dari menjual hasil tangkapan pun banyak tapi jika cuaca buruk maka tak ada pemasukan sama sekali. Begitu pun dengan sewa penginapan atau cottage. Pada saat weekend atau musim liburan, pengunjung yang datang ke Pulau Seribu banyak hingga banyak pula yang menyewa penginapan atau cottage. Tapi pada waktu weekday atau bukan hari libur, nyaris ga ada yang menyewa penginapan.

Kondisi seperti inilah yang membuat perekonomian masyarakat Kepulauan Seribu tidak stabil. Naik turun. Mereka membutuhkan usaha yang bisa menopang kehidupan mereka tanpa kenal musim, usaha yang memiliki prospek bagus dalam jangka waktu panjang. Pilihan pun jatuh pada usaha budidaya rumput laut.

Mba Reni menambahkan, dengan binaan dan pendampingan yang dilakukan oleh YBM PLN dan Nirunabi Foundation serta melibatkan para ahli di bidang budidaya dan pengolahan rumput laut, diharapkan program Desa Cahaya dapat mengangkat kehidupan perekonomian masyarakat Kepulauan Seribu menjadi lebih baik lagi.

Selama ini yang menjadi permasalahan dalam usaha rumput laut adalah kemana rumput laut ini dipasarkan dan masalah harga. Harga rumput laut basah, jika membeli langsung dari petani rumput laut, berkisar Rp.500,- atau Rp. 600,- perkilonya. Sedangkan untuk rumput laut kering, bisa mencapai Rp. 5.000,- hingga Rp. 6.000,- perkilonya. Harga yang relatif sangat murah. Namun jika kita membeli di kota Jakarta atau beli hasil olahan rumput laut, harganya bisa 10 kali lipatnya. Ironis bukan?

Ketimpangan harga yang diterima oleh petani rumput laut di Kepulauan Seribu, menjadi tantangan tersendiri bagi Nirunabi Foundation selaku pendamping dan pelaksana program Desa Cahaya. Program Desa Cahaya memiliki 100 petani binaan yang berpusat di Pulau Panggang. Pulau Panggang merupakan pulau dengan jumlah penduduk terpadat sekaligus terbanyak di Kepulauan Seribu. Di Pulau Panggang inilah terdapat tempat pengeringan rumput laut. Nirunabi Foundation berupaya maksimal agar petani rumput laut Desa Cahaya memperoleh harga jual yang cukup tinggi hingga mereka memperoleh keuntungan yang pantas dari hasil budidaya rumput laut tersebut.

Pada saat melakukan panen perdana rumput laut, diserahkan juga dua buah perahu sampan dari YBM PLN. Penyerahan perahu sampan tersebut dilakukan oleh Bapak Martono sebagai Ketua Bidang II YBM PLN dan Bapak Salman Alfarisi selaku Deputi Direktur YBM PLN dan diterima oleh perwakilan petani rumput laut Desa Cahaya Kepulauan Seribu. Perahu sampan tersebut sebagai alat transportasi dalam proses budidaya dan panen rumput laut.

Penyerahan Sampan oleh YBM PLN

Panen perdana rumput laut di Kepulauan Seribu juga melibatkan Bapak Bupati Kepulauan Seribu yang ikut serta memanen rumput laut di kawasan Semak Daun. Pak Bupati bahkan mengayuh sendiri perahu sampan yang digunakan untuk memanen rumput laut. Bapak Bupati terlihat semangat dan optimis jika usaha rumput laut akan mencapai masa kejayaannya lagi seperti dua dekade lalu. Pak Bupati juga mengungkapkan rasa terimakasihnya pada karyawan PLN khususnya yang beragama Islam karena berkat zakat penghasilan yang dikelola oleh YBM PLN, masyarakat Kepulauan Seribu dapat merasakan manfaatnya melalui program petani binaan ini.

Selain melakukan panen perdana, YBM PLN dan Nirunabi mengadakan acara Bersih Bersih Pantai yang melibatkan kelompok petani binaan dan masyarakat setempat. Tujuan diadakannya Bersih Bersih Pantai adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Kepulauan Seribu mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan keindahan pantai.

Bersih bersih pantai

Menurut penuturan Pak Bupati, sampah terbanyak yang mengotori wilayah perairan Kepulauan Seribu adalah sampah plastik termasuk sedotan, sampah bekas bungkus makanan dan botol bekas air mineral. Asal dari sampah-sampah yang ditemukan di perairan Kepulauan Seribu tidak dapat dipastikan dari mana karena sampah tersebut terbawa arus dan sampailah ke Kepulauan Seribu.

Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Seribu

Jika kesadaran masyarakat mengenai pentingnya membuang sampah pada tempatnya tidak ditingkatkan, dapat dipastikan kelangsungan hidup biota laut di masa akan datang akan terancam. Bahkan bisa jadi anak cucu kita tak dapat menikmati indahnya laut Indonesia beserta isinya. Oleh karena itulah, Pak Bupati menghimbau untuk selalu menjaga kebersihan dan keindahan bahari Indonesia sebagai warisan leluhur yang harus dijaga kelestariannya demi masa depan anak cucu.

Menuju tempat budidaya rumput laut






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astra Financial Sponsor Utama GIIAS 2019

Pemeriksaan Prodia Prosafe NIPT, Deteksi Dini Kelainan Kromosom Pada Bayi

SoMan, Si Ungu Menyehatkan Untuk Rayhan