Sebaris Cerita Bencana Tsunami Selat Sunda



Bencana bisa datang kapan dan dimana saja. Tak ada yang dapat mencegahnya bila Allah telah berkehendak. Setiap kali melihat berita mengenai peristiwa bencana yang terjadi di tanah air dari siaran televisi atau media sosial, hati ini berkata.."duh jangan sampai ngalamin deh peristiwa memilukan seperti itu. Enggak kebayang gimana rasanya menjadi korban bencana alam apapun itu bentuknya. Terpisah dari keluarga, kehilangan orang-orang terkasih. Pasti berat rasanya." Manusia hanya bisa berharap dan berdoa, tapi Tuhan yang berkehendak.

Pagi itu, Minggu 23 Desember 2018, sekitar setengah enam pagi, henpon mamak berbunyi. Terbaca panggilan masuk nama salah seorang kakak perempuan. Sempat bertanya-tanya juga kog tumben sepagi buta itu sudah nelpon. Karena pada saat itu mamak berada jauh dari ibukota Jakarta dan waktu setempat menunjukkan satu jam lebih cepat dari Jakarta. Mamak angkat telpon dan sayup disebrang sana terdengar suara kakak perempuan mamak bicara sambil terisak..."cepat cari tiket pesawat ke Jakarta. Secepatnya". Mamak kaget campur bingung. Dan bertanya kenapa? Ada apa? Yang dijawab suara tangisan. "Cepat kembali ke Jakarta. Cari tiket pesawat. Mas dan Mbak mu kecelakaan, mbak mu meninggal". Deg. Jantung berdegup kencang, dengkul terasa lemas. Telpon pun terputus.

Belum sempat berpikir mau berbuat apa, lagi-lagi henpon berbunyi. Kali ini ada panggilan masuk dari kakak yang satunya lagi. Isinya sama, mengabarkan berita yang sama dan sama histerisnya. Makin kalut saja dibuatnya. Buru buru buka aplikasi tiket online dihenpon. Baru saja mau melihat jadwal penerbangan, lagi lagi henpon berbunyi. Pagi itu jadi pagi tak terlupakan. Kelam bercampur kalut.

Awalnya mamak berpikir, kakak mamak mengalami kecelakaan mobil tapi ternyata bukan kecelakaan yang dialaminya melainkan menjadi korban tsunami Selat Sunda yang terjadi pada tanggal 22 Desember 2018 sekitar pukul 9.00-9.30 malam. Kakak mamak dan sanak saudara yang lain, berjumlah sembilan orang,  sedang mengikuti family gathering tempat mereka bekerja. Biasanya family gathering diadakan di sekitar Puncak Pass Bogor atau di Lembang, Jawa Barat. Baru kali ini diadakannya di Pantai Carita, Banten. Suratan takdir memang harus seperti itu.

Hari minggu tanggal 23 Desember 2018 menjadi hari paling tak menentu. Informasi yang mamak peroleh pun masih simpang siur enggak karuan. Awalnya mamak peroleh info kalau kakak dan ketiga anaknya selamat tapi istrinya meninggal. Lalu dapat lagi info, anak-anak belum tahu kabarnya dan ternyata ada kerabat yang lainnya yang ikut acara famili gathering tersebut. Informasi masih silih berganti isinya. Sampai akhirnya diperoleh informasi yang pasti setelah salah seorang kakak datang langsung ke lokasi bencana.


Drama Pencarian Setelah Tragedi Bencana Tsunami Selat Sunda

Hari Minggu sekitar jam 18.00 sore, mamak menerima kabar kalau kakak laki laki mamak ditemukan di RS Berkah Pandeglang dengan kondisi luka sekujur tubuh dan kaki sobek. Istrinya meninggal dunia dipangkuannya tapi karena kakak harus mencari ketiga anaknya maka jenazah kakak ipar diletakan diatas puing-puing bangunan villa yang rubuh dan sampai sore itu jenazah almarhum kakak ipar belum ditemukan, dua anaknya telah ditemukan meski terpencar dan satu lagi, anak terkecil, belum ketahuan keberadaannya. Ada yang bilang meninggal tapi jenazahnya belum ditemukan. Karena itu, kami (pihak keluarga), pada waktu itu tak mau menyimpulkan apapun kecuali mencari dan terus mencari.

Salah seorang kakak perempuan yang juga berprofesi sebagai tenaga medis langsung mendapat tugas untuk mendatangi lokasi bencana dengan membawa beberapa mobil ambulance dari Jakarta. Tujuannya selain mengemban tugas sebagai tenaga medis, juga ingin mencari sanak saudara yang menjadi korban. Pencarian pun dimulai dengan mencari jenazah almarhumah kakak ipar. Puluhan kantong jenazah yang diletakkan di sekitar area RSUD Berkah Pandeglang dibuka untuk dikenali yang manakah jenazah almarhumah.

Almarhumah Kakak Ipar
Minggu malam jenazah almarhumah ditemukan. Dipojok paling ujung itulah kantong jenazah almarhumah berada. Alhamdulillah, malam itu juga jenazah dapat dibawa ke Jakarta. "Tuhan, begitu cepat Kau panggil wanita baik nan cantik ini. Sayangi dia Ya Rabb dan beri keikhlasan dan kekuatan pada kami, yang ditinggalkannya".  Lirih doa terucap dalam hati. Semua kata hilang bersama duka mendalam. Kaget dan tak percaya, bagai mimpi. Satu persatu kenangan bersama almarhumah bermain-main dalam benak. Senyum khasnya jelas terbayang didepan mata. Sampai kini masih sulit rasanya untuk percaya kalau wanita cantik paras dan hatinya itu telah pergi untuk selamanya.

Esok harinya, jenazah dimakamkan dan anak bungsu belum juga ada kabarnya. Dua orang kakak yang berprofesi sebagai tenaga medis meminta bantuan ke rekan sejawatnya yang bertugas di lokasi bencana. Untuk membantu mencari seorang ponakan tersayang kami. Kami berupaya mengerahkan segenap tenaga dan kolega untuk mencari si bungsu. Mamak mengontak beberapa tim relawan yang mamak kenal dan ketahui berada di lokasi bencana. Apapun kondisinya, kami terima, asalkan si bungsu sesegera mungkin ditemukan.

Hari ketiga pencarian, seperti kemarin, kami (pihak keluarga), masih berjaga di depan kamar mayat RS Berkah, Pandeglang. Setiap ada kabar ada jenazah balita yang datang, kami serta merta bangkit untuk memeriksa apakah jenazah itu adalah jenazah si bungsu. Pada hari itu ada 10 jenazah balita. Kondisinya tak seperti saat masih hidup. Agak sulit dikenali dan rata-rata sudah tak berpakaian. Ada satu kantong jenazah balita yang ciri-cirinya merujuk pada ciri fisik si bungsu tapi baju yang ada dikantung jenazahnya membuat kami ragu apakah benar ini jenazah si bungsu yang kami cari. Karena bajunya bukanlah baju si bungsu. Kami buka lagi kantung jenazah balita yang lain tapi entah mengapa pikiran dan perasaan kami selalu tertuju pada kantong jenazah balita yang kami duga si bungsu meski ragu.

Sempat keluar dari ruang jenazah lalu kembali lagi dan ijin kepada petugas kamar mayat untuk sedikit membalikan jenazah dengan tujuan supaya dapat mengenali lebih jelas karena posisi jenazah telungkup. Tetap saja hati masih diliputi keraguan tapi setiap kaki melangkah pergi menjauh dari kantong jenazah balita tersebut, seperti ada suara si bungsu terdengar. "Jangan tinggalkan Adek, bawa Adek pulang." Langkah kaki terasa sangat berat untuk menjauh dari kantong jenazah balita itu. Sampai akhirnya salah seorang dokter yang juga teman dari kakak (ayah si bungsu), mengatakan bahwa hasil identifikasi menunjukkan bahwa jenazah balita tersebut memiliki 90% lebih kesamaan dengan ciri ciri si bungsu. Dokter tersebut telah menelpon kakak untuk menanyakan mengenai ciri ciri si bungsu dan mengirimkan foto jenazah balita tersebut. Jenazah si bungsu diketahui dari gigi dan telinga si bungsu yang memang memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan balita seusianya.

Almarhum Si Bungsu
Setelah semua pemeriksaan dan identifikasi selesainya, akhirnya kami yakin bahwa jenazah balita tersebut adalah jenazah si bungsu yang keluarga kami cari. Alhamdulillah jenazah si bungsu dapat kami makamkan pada hari keempat pasca tsunami Selat Sunda terjadi. Kami makamkan tepat disamping makan bundanya. Pada hari keempat tersebut tuntaslah pencarian kami. 9 anggota keluarga kami yang menjadi korban bencana tsunami Selat Sunda berhasil ditemukan. Jangan ditanya apa yang ada dalam hati kami. Apa yang kami rasakan. Kelam.

Bencana tsunami Selat Sunda yang terjadi dipenghujung tahun 2018 menyisakan cerita dan duka mendalam. Dan membuat hari-hari kami tak sama lagi seperti dulu. Pada saat kejadian tersebut, kakak laki-laki dan istrinya baru saja merayakan hari pernikahan mereka. Mereka bersama kedua anaknya, si nomer dua dan si bungsu sedang asik bermain di lobbi cottage. Sedangkan si sulung berada di kamar, bersiap untuk tidur. Kerabat yang lain pun sudah berada di kamar cottage saat bencana terjadi.

Sesaat setelah bencana tsunami menerjang, si sulung mendapati dirinya berada di atas reruntuhan dan dalam keadaan gelap gulita. Sampai ada orang, entah siapa yang menyelamatkannya dan membawanya ke Puskesmas Carita. Karena inilah Si Sulung terpisah seorang diri. Tak terbayangkan apa yang dirasakan oleh Si Sulung, anak berusia 11 tahun yang terpisah dari keluarganya dan seorang diri diantara orang asing yang sama sama menjadi korban bencana. Si sulung berhasil ditemukan oleh kakak perempuan tertua mamak yang menjadi tenaga medis di lokasi bencana dari jepretan foto seorang temannya. Kakak perempuan mamak pun histeris dan langsung meminta temannya itu untuk menjemput si sulung di Puskesmas Carita dan membawanya ke Jakarta karena posisi kakak perempuan mamak berada di RSUD Pandeglang.

Mengingat kisah bencana tsunami Selat Sunda membuat hati mamak teriris, pilu. Bencana apapun itu bentuknya, akan selalu meninggalkan penderitaan batin yang mungkin tak'kan pernah hilang. Saat melihat dua ponakan yang harus kehilangan ibu dan seorang adiknya, hati ini bagai tersayat sembilu. Tatapan kosong dua laki-laki kecil yang seolah mempertanyakan bagaimana nasib mereka tanpa ibu yang selama ini selalu berada disampingnya, membuat mamak kehilangan kata meski untuk sekadar menghibur lara yang mereka rasakan. Mamak tak berdaya.

Duka yang ditinggalkan bencana tsunami Selat Sunda sudah cukup membuat langit seakan runtuh. Mamak tahu semua yang terjadi pasti atas seijin-NYA. Tapi tolong tak perlulah ada kalimat penghakiman yang mengatakan jika Tuhan murka karena kemaksiatan yang dilakukan di lokasi bencana, karena itulah terjadi bencana tsunami Selat Sunda. Kalimat yang hanya membuat kesedihan yang kami rasakan semakin menyesakan dada.

Sebelum melontarkan kalimat sok tahu yang penuh penghakiman, tolong tatap dulu wajah dua anak polos tak berdosa yang baru saja kehilangan ibu dan saudaranya ini. Dan tataplah wajah seorang suami yang baru saja kehilangan istri dan anak. Bukan, bukan cuma kehilangan anak istri tapi kehilangan rekan kerja, sahabat dan kerabat akibat bencana tsunami Selat Sunda ini dan tolong katakan apakah mereka pantas untuk mendapatkan semua kalimat-kalimat yang membuat senyum mereka semakin sulit terlihat.

Smoga langit cerah kembali








Komentar

  1. Dewi. Doaku utk keluargamu. Semoga yang berpulang dilapangkan jalannya menuju surga dan yang ditinggalkan memperoleh kekuatan, ketabahan dan penghiburan. Semoga kedua keponakan dan ayahnya dapat mengatasi duka dan bersemangat kembali agar ibu dan si bungsu dapat tersenyum di surga sana.

    BalasHapus
  2. Innalilahi wa inna ilaihi rojiun ya Alloh turut berduka, sedih baca kisahnya mba semoga keluarga yang terkena musibah dan ditinggalkan diberikan kesabaran, kekuatan menjalani hari-hari selanjutnya aamiin

    BalasHapus
  3. Mamak... ya Allah. Nangis aku bacanya. 😭

    Semoga kakak ipar dan bungsu khusnul khatimah; berada di tempat terbaik di sisi-Nya. Diberi kekuatan untuk yg ditinggalkan.

    BalasHapus
  4. Aku sepachless mbak. Kata2 seeprtinya juga habis untuk menenangkan mbak dan keluarga. Ku hanya bisa mendoakan semoga kak dewi dan keluarga diberi ketabahan, kekuatan hati dan iman dalam menghadapi musibah. Semoga yang telah dahulu pergi, alloh jadikan kuburnya menjadi bagian dr taman surga. Aamiin yaa robbal 'aalamiin.

    BalasHapus
  5. Turit berbela sungkawa mbak. Semoga keluarga tabah menghadapi cobaan. Amin

    BalasHapus
  6. Ya Alah
    Innaalillahi wa innaa ilaihi raaji'uun
    T______T

    BalasHapus
  7. Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun.... Semoga seluruh keluarga dan kerabat yang ditinggalkan diberi kelapangan dada untuk menerimanya ya mak, terutama untuk keluarga inti dari Almarhum dan Almarhumah.

    BalasHapus
  8. Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun. Turut berdukacita. Semoga Husnul khatimah.

    BalasHapus
  9. Innalillahi wa Innalillahi raji'un.. Semoga Allah mengampuni dosa beliau.. Sabar ya teh..

    BalasHapus
  10. Alfatiah buat almarumah . ada hikmah di setiap musibah.tsunami takdirnya tidak ada yang bisa menolaknya

    BalasHapus
  11. ikut berdukacita sedalam2 nya mba. semoga keluarg selalu kuat, tabah, dan almarhum/ah diampuni segala kesalahan dan diberikan tempat terbaik.

    gak kebayang sedihnya saat keluarga hrs melihat banyak kantung jenazah utk mencari keluarganya:( . ntah aku bakal kuat ato ga. temen2 ku sendiri banyak yg meninggal dan hilang saat tsunami aceh dulu. aku bisa dibilang beruntung krn saat kejadian aku sdg di Luar negri. tapi rumahku rata dgn tanah dan semua penduduk di sekitar itu meninggal :( . aku tau sedih dan sakitnya.. dan utk semua org yg bilang ini kutukan Allah, semoga mereka disadarkan seperti apa kalo kehilangan orang2 yg disayang.. :(

    BalasHapus
  12. Ya Allah. Maaf ya mak, saya tidak punya kalimat penghiburan yang pas melainkan hanya bisa menangis membaca ini. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Semoga semua korban husnul khotimah. Aamiin.

    BalasHapus
  13. Turut berduka mbak, semoga para korban diterima amal ibadahnya dan keluarga yg ditinggalkan kuat dan tabah. Sungguh, saya tak habis pikir dengan org2 yg bilang hal2 buruk ttg bencana. Semua sudah takdir.

    BalasHapus
  14. yg teriak-teriak tsunami karena kemaksiatan mungkin ga tau kalo indonesia itu termasuk kawasan ring of fire. rawan bencana gempa dan gunung merapi. gempa pun bisa menimbulkan tsunami.
    gemes akutu.
    saya turut berduka cita mba. Semoga keluarga yg ditinggalkan diberi kekuatan

    BalasHapus
  15. Maak, aku bacanya ikut nyesek banget.. Sekali lagi turut berduka sedalam-dalamnya ya mak, semoga mak dan keluarga selalu tabah menghadapi ini.. 😢

    BalasHapus
  16. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un... Semoga 9 anggota keluarga Mamak diterima di sisi-Nya. Aamiin. Semoga juga ponakan2 Mamak bisa tetap melanjutkan kehidupannya dengan penuh semangat meski kenyataannya nggak bisa seperti dulu lagi. Mudah2an ponakan2 Mamak bisa menjadi ladang amal jariyah bagi orang tuanya. Aamiin. :))

    BalasHapus
  17. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sedih sekali bacanya mba. Semoga tabah kakak dan dua ponakan mba.

    Saya sampai speechless.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Onggy Hianata, Sang Inspirator Value Your Life

Belanja Asik Di Giant Dengan Harga Teman

Hexpharm Jaya, Obat Generik Kualitas Paten