The Professor Band, Saat Professor Bermain Musik


Musik bahasa jiwa

Musik adalah bahasa universal. Siapapun dapat bernyanyi lagu apapun dan dalam bahasa apapun juga meski tak tahu apa arti dari lagu yang didengar atau didendangkan tersebut. Siapapun dapat larut menikmati musik entah itu sebagai pemain musik, penyanyi atau hanya sebagai pendengar saja. Saya bukanlah orang yang memiliki suara merdu dalam bernyanyi atau memiliki kemampuan bermain alat musik namun saya senang sekali mendengarkan musik ataupun menonton pertunjukan musik. 

Saya termasuk orang yang baperan jika menyangkut urusan musik atau lagu. Musik merupakan ungkapan gejolak jiwa saya. Ada beberapa judul lagu yang bisa bikin mood saya mendadak drop bahkan menjadi badmood. Dan sebaliknya, ada pula lagu-lagu yang mendadak membuat hidup saya menjadi cerah ceria meskipun isi rekening mulai menipis wkwkwkwk.

Salah satu cara saya untuk meluapkan kesedihan saya yaitu melalui lagu-lagu yang saya dengar. Setelah puas mendengarkan musik sambil berpikir dan melepaskan semua beban dan kesedihan yang bersarang dihati, biasanya langkah saya menjadi lebih ringan. Saya lebih suka mendengar lagu pop dan klasik daripada lagu dengan irama musik menghentak.

Koes Plus
Saya penyuka tembang lawas, mungkin pengaruh usia yang masih abegeh huahahaha *bohong banget ini mah. Hampir semua lagu-lagu Koes Plus, Titik Puspa sampai Nia Daniati, saya masih hafal liriknya. Duh ketauan deh berapa usia saya. Ada satu lagu Koes Plus yang menjadi lagu "keramat" bagi saya ((keramat, serem amat yak))huahahaha. Lagu yang selalu membuat saya mendadak jadi sentimentil meskipun usia pernikahan saya telah lebih dari 15 tahun. Ampun dah.
"Terlalu indah di lupakan
Terlalu sedih di kenangkan
Setelah aku jauh berjalan
Dan kau ku tinggalkan
Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu
Kepadaku
Engkau kan menunggu
Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan kuberi
Adakah jalan yang kau temui
Untuk kita kembali lagi
Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintanya
Bersinarlah terus sampai nanti
Lagu ini ku akhiri"
Ada yang tahu lagu ini? Yups, lagu " Andaikan Kau Datang Kembali " dari Koes Plus inilah lagu keramat bagi saya yang saya hindari untuk saya dengar atau nyanyikan karena selalu mengingatkan saya pada seseorang di masa lalu. Lagu yang mengingatkan saya bahwa sedalam apapun perasaan terhadap seseorang, jika memang tak berjodoh, rasanya akan sesakit seperti lagu tersebut. Lagu yang selalu membuat saya terkenang akan seseorang yang sekarang entah dimana, sedang apa dan bersama siapa. Lagu yang selalu sukses membangkitkan kenangan saya pada cinta pertama yang dramatis sekaligus tragis eaaaa.

Konser Musik The Professor Band Plus Tribute Koes Plus dan Panbers


Semesta sepertinya ingin menguji saya apakah setelah belasan bahkan hampir 20 tahun berlalu, masihkah saya menyimpan kenangan akan lagu ini. Lagu Koes Plus ini. Mengapa saya katakan seperti ini? Karena pada tanggal 27 Juli 2018 yang lalu, saya secara mendadak mendapat undangan untuk menonton konser musik The Professor Band di Gedung Makara Art, UI. Awalnya saya tak tahu jika konser The Professor Band (TPB) tersebut bertajuk tribute to Koes Plus dan Panbers. Saya tidak memperhatikan flyer undangan yang masuk ke nomer whats ap saya. Begitu dapat tawaran nonton konser musik, langsung saja saya iyakan. Kebetulan pas waktunya. Eh ternyata konser musik yang saya datangi adalah konser musik yang menampilkan lagu-lagu Koes Plus. Feeling saya pun langsung berkata, "sabar, ini ujian perasaan", huahahaha.

Satu hal yang membuat saya terkesima adalah konser musik yang saya tonton kali ini bukanlah dimainkan oleh musisi yang murni sebagai seorang musisi. Tapi ini kumpulan para professor, dosen dan para akademisi lainnya yang bermain musik. Amazing. Serius, saya terkesima. Ngga nyangka karena ternyata ada satu grup band yang para personilnya adalah professor, dosen dan akademisi sebuah universitas ternama negeri ini, Universitas Indonesia. Kalau menurut saya, hal ini sesuatu yang langka. 

Bersama teman blogger


TPB terbentuk untuk menjembatani mahasiswa dengan para professor dalam suatu acara di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia pada tahun 2003 silam. Pada acara itu, para dosen  bermain musik dan para mahasiswa boleh menyanyi dan berdansa. Tahun berikutnya, TPB diminta bermain dalam acara Badan Eksekutif Mahasiswa UI. Setelah itu, para anggotanya sepakat melanjutkan hobi bermusik mereka karena mereka merasa nyaman dan terhibur. Kini, TPB telah berusia 15 tahun dan para professor tersebut masih tetap bermain musik meski untuk latihan mereka harus mencuri-curi waktu diantara kesibukan mereka sebagai seorang akademisi. 
Filosofi terbentuknya TPB adalah guna menyeimbangkan kinerja otak kanan dan kiri, belajar tidak egois karena bermusik harus seirama agar terdengar indah, membuat awet muda karena menyenangkan dan TPB ingin memberi pesan pada para mahasiswa bahwa main, belajar dan bermain musik itu sama pentingnya.

Diusianya yang menginjak 15 tahun, TPB berhasil menorehkan  beberapa prestasi diantaranya adalah tahun 2015 berhasil mengeluarkan sebuah album bertajuk Seribu Satu Malam mengusung lagu-lagu abadi ciptaan komponis legendaris Indonesia Ismail Marzuki,  Tahun 2008 Museum Rekor Indonesia mencatat TPB sebagai pemegang rekor band dengan anggota professor terbanyak (waktu itu anggotanya 12 professor) “bukan saja se- Indonesia, tetapi mungkin sedunia” ucap Jaya Suprana waktu itu. 

Tahun 2007 rekaman pertama berisi campuran lagu Indonesia dan Barat dibuat untuk kalangan sendiri (UI) diluncurkan pada Dies Natalis UI 2007, TPB bukan hanya tampil di lingkungan UI (Dies Natalis UI, Jazz Goes To Campus FEUI), tetapi juga pada berbagai event nasional (6 kali ikut java Jazz Festival, 3 kali ikut jakarta jazz Festival), bahkan pernah bertandang ke Belanda dan India. Dan pada penghujung bulan Juli 2018, tepatnya tanggal 27 Juli 2018, TPB menggelar pertunjukan dengan tajuk Tribut to Koes Plus dan Panbers. Dalam konser persembahan ini, para personel TPB yang ikut ambil bagian adalah: Prof. DR. Triyatno Yudoharyoko- Gitar;
Prof. DR. Agus Sardjono, SH, MH – Gitar;
Prof. DR. Roni Nitibaskara- Mandolin;
Prof. DR. Paulus Wirutomo, MSc – Drum ( Ketua TPB);
Prof. DR. Budi Susilo Supanji – Flute; DR. R. Yugo Kartono Isal, Msi – Harmonika; Pandu – Terompet; Josephine – Trombone. 
Mereka juga dibantu oleh vokalis, vokal mahasiswa terdiri dari Nobel, David, Ester; Direktur musik dan pelatih: R. Septa Suryoto, Ssn dan manager yaitu Dra. Catharina Wirutomo, Msi. Dibantu pula oleh pemain professional : Sukat- keyboard, Yoga Dachi- Bass, R. Septa Suryoto- Saxophone.

Konser yang dimulai sekitar jam 4 sore tersebut bertujuan untuk melestarikan lagu-lagu Indonesia pop-klasik ditengah menjamurnya  lagu-lagu pop sekarang yang cepat populer namun cepat dilupakan. Selain itu, TPB juga ingin berperan aktif agar lagu-lagu Indonesia dapat kembali berjaya di “rumah”nya sendiri. Lagu pertama yang dibawakan oleh TPB adalah lagu Muda Mudi. Saya ikut enjoy mengikuti irama dan lirik lagu yang dipersembahkan oleh TBP plus ini. 

Lagu Ayah
Lagu kedua yang dinyanyikan masih dari Koes Plus yaitu Kisah Sedih di Hari Minggu. Saya semakin larut dalam nuansa nostalgia. Kemudian didendangkanlah lagu Panbers yang bercerita tentang ayah, saya pun mulai terhanyut. Kebetulan saat ini, ayah saya sedang berada di tanah suci. Semakin baperlah saya dibuatnya. Lalu tibalah lagu keramat saya dinyanyikan. OMG..."sabar, ini ujian di hari Jumat" huahahaha. Saya menikmati lagu "Akankah Kau Datang Kembali" dengan perasaan rindu membelai imajinasi *halaaah 🙈. Akhirnya lagu tersebut usai dan diganti dengan lagu klasik lainnya sampai ditutup dengan lagu "Bujangan". Lagu yang katanya Mas MC adalah lagu kesukaan para lelaki hahaha.

Saya dan penonton lainnya terbawa dan sangat menikmati pertunjukkan yang disuguhkan oleh TPB. Terlebih lagi konser tersebut dihadiri oleh Yok Koeswoyo, salah satu personel Koes Plus. Suasana semakin hangat dan menghanyutkan *pedih ehhhh 😂😂. Saya suka dengan penampilan TPB ini dan ngga nolak kalau diundang lagi untuk menyaksikan konsernya. Saya harap konser The Professor Band bisa lebih besar lagi, Amiin.

Om Yok Koeswoyo (kemeja putih)

Blogger dan TPB Plus




Komentar

  1. Wah keren isi personilnya profesor n para akademisi. Koes plus n panbers emang legend mbak.. 👍👍

    BalasHapus
  2. Wahh seru banget ya acaranya..
    Nostalgia dengan lagu lama..

    BalasHapus
  3. Seru ya konsernya. Semoga tahun berikutnya ada lagi

    BalasHapus
  4. Aku pas SMP suka lagu vina panduwinata, padahal temen2 seangkatan lg pada demam peterpan. Lagu lawas itu punya keasyikan sendiri kalau lagi didengerin.

    BalasHapus
  5. Unik ya mak, personilnya dari akademisi. Itu lagu2nya koes plus lagu2nya ibu bapakku banget, haha... Aku sering denger pas kecil, jadi sedikit taulah liriknya :D

    BalasHapus
  6. Kereeeen band-nya.. Udah gelar professor doktor tapi jiwa seni masih melekat yaa.. Maaak jangan baper maak.. hehehe.. Aku kenal lagu-lagu Koes Plus sama Panbers dulu karena suka denger ortu jug dengerin lagu itu.. Emang everlasting yaaa, sampe sekarang jug masih enak buat dinikmati lagu-lagunya.. :)

    BalasHapus
  7. Wah asik banget mbak Dewi bisa menikmati Koes Plus, lagu-lagu nostalgia yg suka dinyanyikan alm. Ayah dan ibuku

    BalasHapus
  8. selain pintar akademik non akademiknya juga berbakat ta seru

    BalasHapus
  9. Terlalu indah di lupakan
    Terlalu sedih di kenangkan
    Setelah aku jauh berjalan
    Dan kau ku tinggalkan...
    Huwaa aku inget SD pernah dengar lagu ini dan seduiih

    BalasHapus
  10. Koes plus ini melegenda banget ya mbak. Suka sama lagu2nya.
    Asiknya acara nostalgianya mbak. Jadi kembali bernostalgia nih

    BalasHapus
  11. Musisi-musisi legendaris, seru ya bisa menikmati lagu-lagu mereka.
    Kapan lagi ada ya

    BalasHapus
  12. Unik banget anggotanya para professor hahahaha. Keren sih malah. Jadi penasaran kek apa penampilan mereka

    BalasHapus
  13. Kuwi lagu2ne kyke semua kesukaan bapak ibuku hehe. Pernah liat The Professor maen di tipi, lupa di acara apa gtu. Seru2 ya mereka yg serius di kampus, di luar kampus main band hehe

    BalasHapus
  14. Dulu aku seneng dengerin musik sambil nulis novel tapi sekarang jarang dengerin musik. Udah berisik sama suara anak2ku kali ya hehehe

    BalasHapus
  15. pernah nonton The Professor Band di acara jazz. Mereka keren banget perform-nya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Onggy Hianata, Sang Inspirator Value Your Life

Mengapa Saya Poligami

Hexpharm Jaya, Obat Generik Kualitas Paten