Keluarga Sebagai Pondasi Ketangguhan Negara Terhadap Bencana


Setiap mendengar kata banjir, saya langsung merinding disko. Kebayang saat saya masih menetap di Medan Baru, Sumatra Utara. Tak peduli hujan rintik ataupun deras, rumah kontrakan saya langsung di kunjungi tamu tak diundang alias banjir. Air hujan bercampur air comberan dan air sungai langsung memenuhi setiap sudut rumah tanpa permisi lebih dulu. Masih terbayang jelas, bagaimana saya dan suami berusaha keras untuk mengakali agar air luapan sungai dan got itu tidak merusak perabotan dan benda elektronik kami. Tak tahan dengan kondisi tersebut, kami pun memutuskan untuk pindah ke daerah lain yang aman banjir.

Lepas dari banjir, bukan berarti kehidupan saya di tanah Sumatra terbebas dari bencana. Gempa dan angin puting beliung acapkali datang dan membuat saya dan keluarga kecil saya menjadi panik. Saya merasa tak memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup menghadapi kondisi saat bencana datang. Beda lagi dengan yang dirasakan oleh tetangga saya yang asli orang Sumatra Utara, mereka merasa terbiasa dengan goncangan gempa dan angin puting beliung.

Mereka menganggap gejala alam tersebut adalah hal yang lumrah terjadi di Sumatra. Namun bukan berarti mereka siap siaga dan waspada terhadap datangnya bencana, mereka menanggapinya santai saja karena yakin gejala alam tersebut hanya datang menggoda dan tidak akan memporakporandakan kehidupan mereka. Dan alam menjawab keyakinan mereka dengan kenyataan diluar dugaan.

Medan, Tanah Karo dan kawasan Brastagi di guncang gempa dan semburan letusan Gunung Sinabung dengan skala yang besar. Kota Medan dan sekitarnya mengalami kerusakan cukup parah akibat abu gunung Sinabung. Banyak rumah, harta benda dan fasilitas umum yang mengalami kerusakan parah. Bencana tersebut datang bukan tanpa pertanda. Sikap masyarakat yang tak tanggap akan pertanda yang diberikan alam, membuat peristiwa meletusnya Gunung Sinabung mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Butuh waktu cukup lama bagi masyarakat sekitar Brastagi dan Tanah Karo untuk bangkit dan menata lagi kehidupannya pasca meletusnya Gunung Sinabung.

Kondisi geografis Indonesia yang terletak di 3 lempeng tektonik dunia membuat Indonesia rawan bencana. Keberadaan kurang lebih 5590 daerah aliran sungai di Indonesia menjadikan bumi pertiwi rawan terhadap gempa, tsunami, deretan erupsi gunung api dan gerakan tanah. Sayangnya kondisi rawan bencana ini tidak diimbangi dengan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi pertanda dan gejala bencana yang ada di lingkungan sekitarnya. Kurangnya kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat ini dikarenakan kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap karakteristik bencana dan akibatnya.

Tingkat kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat kita jauh dibawah kesiapsiagaan masyarakat Jepang dalam menghadapi bencana yang mengincar mereka. Anak-anak kecil di Jepang tahu bagaimana harus bersikap saat gempa datang. Sedangkan anak-anak Indonesia? Silahkan jawab sendiri. Padahal kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap bencana sudah seharusnya menjadi kesadaran setiap individu dan keluarga karena kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana. Fakta geologis dan hidrometeorologis menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi bencana seperti gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir lomgsor , kekeringan dan angin puting beliung. Data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mencatat bahwa telah terjadi 2.372 bencana sepanjang tahun 2017 dengan korban jiwa berjumlah 337 jiwa.

Kepala BNPB, Bapak Willem Rampangilel mengatakan bahwa BNPB menilai kesiapsiagaan diri dan keluarga sangat penting dalam menghadapi bencana.  Individu sebagai bagian dari keluarga diharapkan memiliki rencana terhadap bencana. Kesepakatan pada saat 'prabencana' perlu dibuat bersama oleh seluruh anggota keluarga agar mereka lebih siap menghadapi situasi ketika darurat bencana. Seperti yang terjadi pada kehidupan keluarga di Jepang. Keluarga di Jepang memiliki kesiapsiagaan dan kesigapan dalam menghadapi bencana.

Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2018


Apel HKB 2018
Pada tanggal 26 April diperingati sebagai hari Kesiapsiagaan Bencana. HKB 2018 ini mengambil tema kesiapsiagaan keluarga sebagai pondasi ketangguhan negara terhadap bencana. Senada dengan yang diungkapkan Bapak Willem dalam acara apel dan simulasi evakuasi bencana di Graha BNPB, Pramuka Jak-Pus, masing-masing keluarga perlu menyepakati rencana menghadapi situasi darurat dengan beberapa skenario karena aksi yang dilakukan bisa menjadi berbeda untuk kondisi berbeda. Skenario harus dibuat bersama oleh seluruh anggota keluarga sesuai jenis bahaya bencana yang mengancam. Dalam setiap skenario disepakati siapa melakukan apa dan bagaimana caranya. Sosialisasi terhadap cara-cara penanggulangan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana oleh keluarga harus terus dilakukan, mengingat masih kurangnya kesadaran dan kesigapan keluarga Indonesia dalam menghadapi bencana yang datang.

Memperingati HKB 2018, di Graha BNPB dilakukan simulasi evakuasi menghadapi bencana gempa bumi dan kebakaran. Ternyata seru ya mengikuti simulasi evaluasi wkwkwk. Tapi ngga mau deh kalau harus mengalami peristiwa seperti simulasi tersebut. Peringatan HKB 2018 diawali dengan apel HKB 2018 di halaman depan Graha BNPB. Setelah selesai apel, tepatnya pukul 10.00 WIB, dibunyikanlah sirene tanda simulasi dimulai. Semua lift dimatikan. Kegaduhan pun dimulai xixixi. Masing-masing lantai pada Graha BNPB di pandu oleh petugas kesiapsiagaan bencana yang memandu evakuasi orang-orang yang berada dalam gedung. Saya yang saat itu berada di lantai 5 Graha BNPB ikutan heboh evakuasi loh. Harusnya ngga dikasihtahu kalau ini cuma pura-pura ya supaya serius gitu proses evakuasinya. Begitu sirene dibunyikan, hal pertama yang saya dengar adalah pengumuman kalau telah terjadi gempa di sekitar Graha BNPB. "Lindungi kepala Anda. Berlindung di bawah meja, cari tempat lebih aman dan berjalanlah menuju tangga darurat sambil tetap melindungi kepala Anda", aba-aba itulah yang saya dengar dari seorang petugas penanggulangan bencana.





Seluruh penghuni lantai 5 pun bergegas turun melalui tangga darurat dan menuju halaman depan Graha BNPB tempat evakuasi. Setiap orang dikelompokkan berdasarkan asal lantai mereka berada. Ada bendera putih yang bertuliskan angka yang menunjukkan lantai mana mereka berasal. Ternyata Graha BNPB juga mengalami kebakaran pada lantai 5 dan 10. Berdatanganlah mobil pemadam kebakaran dan ambulance. Keseruan baru pun dimulai. Mobil pemadam kebakaran itu menyemprotkan air ke arah lantai 5 dan 10. Apesnya air semprotan itu tidak hanya menyemprot ke lantai yang dituju tapi juga mengenai orang-orang yang berkumpul untuk evakuasi. Hebohlah orang-orang berlarian menjauhi semprotan air tersebut. Sungguh suatu simulasi evakuasi yang sangat berkesan terutama untuk saya yang baru pertamakali mengikutinya hahaha. Meskipun diselipi dengan peristiwa tak terduga, saya menjadi tahu bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan ketika menghadapi bencana. Yang pertama dan terpenting adalah jangan panik dan lindungi diri dan kepala dari hantaman atau ancaman benda keras yang mungkin menimpa. Cari tempat perlindungan yang aman. Lindungi anak-anak dan berikan arahan supaya mereka tidak panik dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh orang dewasa.





Simulasi menghadapi bencana di Graha BNPB belum usai. Setelah api berhasil dipadamkan, proses evakuasi terhadap korban dari lantai 5 dan 10 pun dilakukan dengan teknik raffling dan flying fox. Petugas penyelamat menurunkan korban dengan sigap melalui seutas tali. Saya juga baru kali ini melihat bagaimana upaya penyelamatan yang dilakukan jika korban dalam kondisi kritis dan harus ditandu. Sungguh pengalaman yang sangat berharga. Saya pun menyadari bahwa setiap individu dan keluarga harus menyadari dan tanggap terhadap bahaya bencana untuk meminimalisir jatuhnya korban yang lebih banyak lagi. Kewaspadaan ini harus dimiliki terutama oleh keluarga yang berada di daerah rawan bencana seperti lereng bukit, dekat aliran sungai dan daerah-daerah rawan gempa dan erupsi gunung berapi. Keluarga Indonesia harus tanggap dan sigap terhadap bencana.





Simulasi menghadapi bencana di Graha BNPB




Komentar

  1. Laporannya yahud. Moga kita selalu terhindar dari segala bencana yang ada. Aaamiiin.

    BalasHapus
  2. Intinya jangan panik ya mbak kalau terjadi bencana. selama ini simulasi bencana begini biasanya rutin dilakukan di gedung perkantoran dan rumah sakit. Menurut aku, simulasi juga perlu banget dilakukan di sekolah-sekolah agar anak-anak juga tanggap dan nggak panik.

    BalasHapus
  3. Salut euy dengan ketaguhan para petugas penyelamat. Kerja keras dan pengorbanannya layak diapresiasi tinggi. Soalnya tak jarang mereka pun mengorbankan nyawa ya mba

    BalasHapus
  4. Penting nih ada simulasi bencana darurat, soalnya kalau gempa atau ada angin kenceng, suka bingung mau ngapain, panik duluan.

    BalasHapus
  5. Kalo tinggal di daerah rawan bencana penting banget ya edukasi semacam ini, supaya tetap siaga kalau bencana datang. Eh kita yg tinggal di daerah bukan rawan juga harus tahu lah ya, bencana mana bisa diprediksi datengnya

    BalasHapus
  6. Kita memang bukan kayak negara Jepang yang "familiar dengan bencana terutama gempa. Tapi kita memang harus aware terhadap hal ini karena kapanpun bisa terjadi. Semoga simulasi ini juga tembus kesemua lapisan. Karena bencana nggak kenal anak, dewasa atau orang tua.

    BalasHapus
  7. Wah bagus nih ada simulasi bencana ya jadi bisa diantisipasi tapi semoga ga ada bencana ah.

    BalasHapus
  8. Nah...perlu disosialisaikan nih tanggap bencana kayak begini. Jadi,,masyarakat tabu bagaimana mengatasi bencana tanpa kekhawatiran.

    BalasHapus
  9. Mak, ingat Medan Baru aku koq ingatnya resto kepala kakap di Jakarta yaa..hahah. Penting nih simulasinya. Harus sering-sering di adakan di instansi, sekolah dan lainnya

    BalasHapus
  10. Negara kita memang rawan bencana ya mak.. Simulasi gini penting banget. Aku pernah sekali waktu pas di kantor dulu.. Semoga nantinya simulasi evakuasi tanggap bencana bisa masuk juga ke kurikulum sekolah biar dari kecil udah tau ya mak..

    BalasHapus
  11. Baru tau tgl 26 April diperingati sbg hari kesiapsiagaan Bencana, pas ultah suami saya mbak, hehe. Good job untuk simulasi ini, biar makin sigap ya

    BalasHapus
  12. kalau ada peragaan videonya seru nih aku jd pengen cari di yutub. betul nih gak boleh panik harus siap dan bisa sigap menghadapi situasi genting

    BalasHapus
  13. Simulasi2 bencana emang kudu sering2 diadakan sih mbak, gk hanya di kantor, di sekolah2 jg. Betul lingkungan keuarga jg, dr yg kecil2 kyk ngumpulin surat2 penting jd satu tas kyk gtu2 sih, sama ngajarin anak berlindung saat gempa bumi dll. Apalagi kan negara kita rawan bencana.

    BalasHapus
  14. Xixixi.. jadi inget gempa kmrn pas lg ada di lantai 6. Bukannya bersembunyi dibawah meja malah kabur keluar. Efek kelewat panik.

    BalasHapus
  15. penting nih ya simulasi yang begini

    BalasHapus
  16. Bagus ya stimulasi begini, pokoknya hal utama jangannpanik ya biar teori kepake semua saat bencana

    BalasHapus
  17. Pengetahuan untuk menyelamatkan diri saat bencana sangat penting untuk diketahui anggota keluarga tetdekat ya dan Saat bencana datang jangan panik , hal tersebut dapat meminimalisir korban harta,benda dan nyawa

    BalasHapus
  18. Seru banget ya walau hanya simulasi. Tapi memang sebaiknya tiap orang paham soal proses evakuasi bencana ya agar kita tahu dan nggak panik saat beneran terjadi bencana. Nice info mbak:)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Onggy Hianata, Sang Inspirator Value Your Life

Belanja Asik Di Giant Dengan Harga Teman

Hexpharm Jaya, Obat Generik Kualitas Paten