Kebun Jaman Now Ala Mamak


Dua puluh tahun yang lalu, Mamak pernah sangat berharap menjadi seorang petani serta hidup bahagia di desa. Jauh dari kebisingan dan gemerlap ibu kota. Mimpi manis yang bikin meringis wkwkwk. Karena kenyataannya sekarang, Mamak masih terdampar di ibukota dan meninggalkan impian menjadi seorang petani.

Mamak berharap memiliki kebun yang Mamak tanami sendiri dan di sanalah Mamak menghabiskan waktu Mamak. Namun kenyataannya tak sesempurna angan-angan. Mamak punya kebun tapi tidak Mamak tanami sendiri. Dibiarkan saja karena Mamak sampai sekarang masih di Jakarta. Bergelut dengan mimpi Mamak yang lain *ini si mamak punya berapa mimpi sih? Banyak amat Huahahaha

Kerinduan bercocok tanam tak pernah surut meski entah kapan dapat terwujud. Manusia hanya boleh berusaha dan berdoa, selebihnya Tuhan yang menentukan. Mamak tetap bersyukur, meski tidak tinggal di desa namun Mamak masih dapat merasakan aura pedesaan setiap kali Mamak pulang ke rumah Bandung. Kebetulan rumah Mamak yang di Bandung memiliki kebun belakang yang cukup luas dan lokasinya berada di lereng gunung Manglayang. Itu sudah dari cukup untuk merasakan hidup di desa meski sebulan sekali. Ngga pa pa lah ya daripada tidak sama sekali.

Keinginan yang tak pernah surut untuk bercocok tanam, membuat Mamak nekat untuk tetap menanam tanaman di rumah Jakarta walau tak punya lahan pekarangan. Yups, Mamak nekat berkebun dengan menggunakan pot-pot di teras lantai dua rumah Mamak. Berganti-ganti tanaman yang Mamak tanam, tergantung tanaman mana yang mampu bertahan hidup di dalam pot dengan sinar matahari langsung.


Mamak pernah menanam sawi hidroponik tapi tak bertahan lama karena menguning lalu mati hiks. Sempat juga menanam bunga-bunga berwarna warni seperti melati dan anggrek tapi lagi-lagi tak kuat menahan kerasnya hidup ini *halaaah apa sih ini..huahahahaha. Akhirnya Mamak menanam tanaman apa saja yang mampu beradaptasi. Taraaa..akhirnya ada juga tanaman yang mampu bertahan hidup di atas loteng rumah Mamak. Horaaay.

Tanaman yang berhasil beradaptasi dengan kejamnya dunia perlotengan adalah lidah buaya, daun pandan, pepaya dalam pot, bunga entah apa namanya (huahahaha..Mamak ngga tahu namanya) dan jambu cristal. Semua tanaman ini hidup dalam pot dan berteman dengan genteng rumah Mamak hahahaha.


Hidup di ibukota dengan kondisi rumah yang minim lahan kosong memaksa Mamak harus kreatif. Harus tetap dapat menyalurkan hasrat terpendam yaitu berkebun meski kudu putar otak. Berpikir bagaimana caranya dapat melihat tanaman ijo royo royo dengan kondisi yang ada. Akhirnya jadilah kebun jaman now ala mamak. 

Saat Mamak jenuh dengan rutinitas sehari-hari atau butuh ide untuk menulis, Mamak menumpahkannya ke kebun jaman now ala mamak itu. Lumayanlah dapat me-recharge semangat yang memudar dan menjaga Mamak untuk tetap waras menjalani hidup ini dengan kemacetan Jakarta yang luar biasa (lebay dot com).

Kebun jaman now ala mamak sudah memberikan hasil loh untuk Mamak dan tetangga. Tetangga Mamak jadi rajin minta daun pandan dan lidah buaya. Lidah buaya yang Mamak tanam dapat dibuat minuman dan manisan lidah buaya. Kebetulan saudara Mamak dapat mengolahnya. Jambu cristal pun sudah beberapa kali panen. Begitu juga dengan pepaya, sudah beberapa kali tebang tanam. Maksudnya setelah beberapa kali berbuah, pepaya tersebut Mamak tebang lalu Mamak tanam kembali yang kecil. Karena di tanam di pot, pepaya harus  diatur hidupnya.

Itulah sekelumit cerita tentang kebun jaman now ala mamak, lalu bagaimana dengan Kamu? Punya kebun di rumah?









Komentar

  1. Ya ampun itu pandannya subur nemen. Kalau pas puasa laris itu daun pandan mak :)

    BalasHapus
  2. Bagi jambu mak, biar kalau berbuah bilang mpo ya. Biasa mak jatah reman

    BalasHapus
  3. Daun pandan laris manis saat ramadhan. Buat kolak. Adik dan tetangga pada ngambilin dong mak

    BalasHapus
  4. ya ampun pengen banget nanem ginian , tapi niatnya belum ngumpul sempurna :D.
    wah pandannya kalo puasa lumayan ..


    diah
    www.diahestika.com

    BalasHapus
  5. Yang penting niat sdh dijalankan. Saya masih tahap berangan-angan tingkat tinggi utk bercocok tanam. Pdhal ijazah pertanian ada di lemari.

    BalasHapus
  6. wah aku juga gak bisa nanam, apa yg kutanam selalu mati

    BalasHapus
  7. Wow tak kusangka mak, dirimu trnyata cita2nya petani dan punya kebun ala2 mak yang hidup di perlotengan haha. Tapi bener sih sebaiknya di perkotaan besar kek gini setiap rumah nanam yg ijo2 seger gitu ya buat ngurangin polusi dan juga refreshing pemandangan mata.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Onggy Hianata, Sang Inspirator Value Your Life

Dibohongi Atau Dipoligami?

Mengapa Saya Poligami