Ayat Ayat Cinta 2, Ini Hanya Sebuah Film

Doc AAC2
Saya masih ingat betul betapa hebohnya film Ayat Ayat Cinta 1 yang dibintangi oleh Fedi Nuril, Rianti Cartwright dan Carissa Putri. Film yang menceritakan kisah hidup seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Kairo bernama Fachri  dan kisah cinta segitiganya yang penuh romantika. Ya, Fachri terlibat kisah cinta segitiga bersama Aisha (Rianti) dan Maria (Carissa Putri). Kisah cinta segitiga yang mengharu biru. Film ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari penikmat film tanah air bahkan disebut sebagai film fenomenal. Sejujurnya, Saya pun belum bisa move on dari kisah cinta segitiga tersebut.
Pertengahan tahun ini, Saya dapat info bahwa akan release sekuel dari film Ayat Ayat Cinta ini. Saat itu, Saya langsung membatin, apakah sekuelnya akan mampu menampilkan cerita yang lebih apik? Apakah Ayat Ayat Cinta 2 akan mampu mengobrak ngabrik perasaan Saya ketika menonton filmnya? Dan inilah jawaban dari semua pertanyaan yang hadir di benak Saya beberapa bulan yang lalu.
Yups, pertengahan Desember ini, perfilman tanah air cukup dibuat heboh dengan kehadiran Ayat Ayat Cinta 2. Bahkan bukan hanya filmnya yang bikin heboh tapi review filmnya juga bikin geleng-geleng kepala laksana sedang disko. Ya namanya film, pasti penilaiannya langsung subjektif dan sesuai selera. Apalagi ini tentang film yang ceritanya diadopsi dari sebuah buku yang cukup famous, sudah pasti lebih besar tantangannya untuk membuat filmnya 'sedekat' mungkin dengan isi bukunya. Kenapa Saya katakan lebih besar tantangannya? Karena orang telah memiliki gambaran/deskripsi mengenai isi ceritanya melalui bukunya. Dan ini yang membuat seringkali banyak orang yang telah membaca bukunya menjadi kecewa saat menonton filmnya. Karena tidak sesuai dengan apa yang ada dibenaknya. 
Saya sih menyarankan untuk tidak memiliki ekspektasi apapun mengenai film yang akan ditonton meski sudah baca bukunya. Dikosongkan saja dulu pikiran Kita dan tak perlu mematok harapan apapun mengenai film yang akan ditonton. Just enjoy the movie. Termasuk saat menonton film Ayat Ayat Cinta 2. 
Pada scene awal film, Saya merasa dimanjakan dengan wajah aduhai Fachri yang akan membuat wanita manapun akan klepek-klepek kecuali Saya. Saya pribadi ogah punya suami/pasangan yang terlalu sempurna karena Saya sadar jika Saya banyak minusnya, jadi Fachri isn't my tipe. Punya suami perfect atau terlalu sempurna, bikin Saya was was terus dan curiga karena akan banyak wanita yang akan mendekatinya. Dan Saya sangat tidak siap untuk itu*ini kenapa jadi curcol gini? Hahaha.
Di scene awal, selain dimanjakan dengan penampilan Fachri, Saya juga dibuat kagum dengan keindahan kampus Edinburgh *dibacanya Edinbraaah ya. Apalagi ditambah penampilan wajah ganteng Nino Fernandez. Hmmm sukaaak. Meskipun doi nyebelin gitu wkwkwk. 
Bersama Fedi Nuril pemeran Fachri
Saya salut dengan ide menampilkan adegan Fachri sholat di depan kelas. Why? Saya menangkapnya sebagai pesan bahwa apapun kondisinya, sebagai muslim, Kita harus sholat dimana pun itu dan tinggal gimana Kita mengakali setiap kondisi yang ada. Saya tidak menganggapnya tindakan lebay karena ini terjadi disebuah kota dengan muslim sebagai minority jadi wajar kalau susah untuk mencari tempat untuk sholat. Ya sholat saja ditempat yang memungkinkan. Ngga mungkin kan setiap hari dijamak terus sholatnya? Kan ada aturannya juga. 
Ayat Ayat Cinta 2 ini memang bukan film the best dipenghujung tahun ini namun kehadirannya tetap memberi warna tersendiri dalam perfilman Indonesia. Menurut Saya, ini menurut Saya loh ya. Untuk mereka yang tidak menonton Ayat Ayat Cinta yang pertama, tak perlu khawatir tak bisa mengikuti alur cerita disekuelnya ini. Jalan ceritanya mengalir dan cukup mudah dicerna. Satu yang ingin Saya tegaskan, ini hanya sebuah film,cerita yang direkayasa oleh manusia jadi sangat wajar jika tak semuanya sesuai logika. Film selalu mengundang imajinasi penontonnya. 
Saya sendiri sesungguhnya lebih menikmati sekuelnya ini. Karena disekuelnya ini, penonton disuguhkan tempat-tempat indah dengan latar Skonlandia atau Eropa. Lebih nyata dari AAC(Ayat Ayat Cinta) ditahun 2008 yang menyajikan Kairo tapi sesungguhnya tempat yang dipakai di kawasan Kota Lama Semarang dan ada yang berlokasi di Menteng. AAC2 ini lebih real meskipun ada beberapa scene yang Saya nilai terlalu dipaksakan. Namun lagi-lagi, bicara tentang film sama saja bicara tentang selera dan subjektif sifatnya. Tapi Saya pastikan, jika tak ada ruginya sama sekali untuk menonton film besutan Guntur Soehardjanto ini.
Hulya dan Fachri.doc AAC
Selama menonton AAC2, Saya tak merasa terganggu dengan bahasa Indonesia yang digunakan meskipun lokasi terjadinya adegan di Edinburgh. Saya bisa mentolerirnya karena ini hanya sebuah film meskipun sebenernya Saya lebih suka jika pada saat berinteraksi dengan orang bule atau karakter bule ya memakai bahasa Inggris. Untuk memudahkan penonton ya bisa dipakai teks. Tapi mungkin penggunaan bahasa Indonesia ini semata-mata untuk mempermudah penonton untuk memahami film ini. Saya juga memandangnya sebagai suatu penegasan bahwa ini adalah film Indonesia jadi harus memakai bahasa Indonesia. But it's okay. Tak masalah.
Ada beberapa hal yang membekas dalam hati dan benak Saya saat menonton AAC2 ini, yaitu:
  • Saya merasa berterimakasih karena telah diingatkan oleh film ini bahwa apapun yang Kita lakukan di dunia ini harus dengan niat karena Allah. Sering Kita melakukan kebaikan hanya karena untuk dipuji manusia lain. Atau tak jarang, Kita melakukan hal-hal baik karena mengharapkan imbalan dari Allah. Bukan karena keikhlasan. Bukan didasari Lillahi Ta'ala.
  • Film ini memberikan Saya teguran bahwa jika memiliki masalah harus langsung diselesaikan. Secara baik tentunya. Saya tipe orang yang sering menunda masalah yang ada. Sikap Fachri mengajarkan Saya jika masalah itu harus dihadapi dan kalau bisa harus diselesaikan saat itu juga.
  • AAC 2 membuka pikiran Saya tentang cinta, kesetiaan dan pengorbanan. Mencintai berarti belajar ikhlas.
  • Kejahatan yang dilakukan oleh orang lain kepada Kita, tak perlulah Kita layani dengan kejahatan pula. Persis yang diajarkan oleh Rasullullah. Setiap perbuatan akan kembali lagi pada pelakunya.
  • Bersyukur dengan semua hal yang telah DIA berikan karena saat Kita diuji dengan kehilangan pasti akan terasa sangat sakit.
  • Hidup adalah tentang belajar menerima, bersyukur, ikhlas, memaafkan, menerima dan melangkah kembali.
Seperti yang telah Saya tegaskan diatas bahwa film ini bukanlah yang terbaik dan ada beberapa scene yang Saya anggap terlalu dipaksakan. Seperti:
  1. Pemilihan beberapa peran yang kurang sesuai. Seperti tokoh Keira yang diperankan oleh Chelsea Islan. Keira ini tetangga Fachri di Edinburgh dan Keira ini adalah warga asli Skotlandia. Berarti bule dong, harusnya. Dan memang orang tua Keira bule. Eh kenapa Si Keira jadi Indo begitu? Wkwkwk. Tokoh Nenek Catrina(Dewi Irawan) yang juga tetangga Fachri yang beragama Yahudi. Saya sih agak bingung dengan si nenek ini. Sebenarnya dari negara manakah si nenek ini berasal? Kalau untuk peran Hulusi(Panji Pragiwaksono), asisten Fachri yang katanya mantan preman di Turki, masih bisalah Saya terima meskipun dialeknya Indonesia banget. Fasih banget bahasa Indonesianya. Mungkin dulunya, Hulusi ini tinggal dilingkungan Indonesia jadi fasih berbahasa Indonesia. Who know's?
  2. Saya agak terganggu dengan kemunculan Aisha atau Sabina ini. Proses kehadirannya dalam kehidupannya Fachri itu aneh. Tiba-tiba dikejar-kejar aparat Edinburgh lalu mudah banget bagi Fachri untuk memboyongnya pulang lalu menjadikannya asisten rumah tangga. Mungkin karena Fachri ini terlalu baik kali yak. Jadi bawaannya mau nolong terus sampai diajak tinggal di rumahnya. Lha kog kebetulan banget gitu loh. Kalau yang ditolong itu istrinya. Tapi bukankah dalam hidup ini semua pun bisa terjadi asal Allah menghendaki? Yo wislah ini hanya film.
  3. Keanehan yang luar biasa adalah saat seorang suami tidak dapat mengenali istrinya sendiri padahal dia telah mencari-cari istrinya kemana-mana. Mungkin karena sedang jatuh cinta dengan wanita lain sehingga tidak mampu mengenali istrinya sendiri. Padahal terjadi komunikasi verbal antara mereka. Yang lebih bikin kesel lagi lha kog malah orang lain yang ngenalin Aisha ini. Suami dan saudaranya malahan nggak ngenalin. *Coba tolong Mas Guntur jelaskan kenapa hal ini bisa terjadi ? Ehhh huahahaha. Ya ampun sampai pengen nanya langsung Saya dengan sutradaranya. Tapi okaylah Saya anggap ini sebagai bentuk kekhilafan Fachri dan membuktikan bahwa dia bukan pria yang sempurna. Dia bukan malaikat. Sama istri sendiri saja ngga bisa ngenalin. Fixed, Saya lebih memilih suami Saya yang bisa mengenali Saya.
  4. Saya kurang sreg ya karena Aisha yang tadinya diperankan oleh Rianti diganti oleh Dewi Sandra. Punten atuh yak. Menurut Saya, Dewi Sandra terlalu tua untuk menjadi Aisha. Tapi dengan akting ciamik yang ditampilkan oleh Dewi Sandra sebagai Aisha, ya sudahlah. Saya masih bisa menikmati alur ceritanya. 
  5. Saya sangat menyayangkan ending film ini. Harusnya dapat dibuat lebih dramatis dan romantis atau kalaupun mau dibuat tragedi. Buatlah setragis mungkin. Jangan mudah ketebak dan nanggung seperti ini. Saya ngga suka dengan endingnya yang menurut Saya mirip banget dengan ending AAC1. Apalagi diselipkan adegan operasi ganti muka segala. Aduuh enggak banget sih kalau menurut Saya.
  6. Memasukkan unsur keragaman dan Pancasila, bagus sih tapi kog terlihat dipaksakan ya? Tapi Saya ngga bisa ngomentarin tentang hal ini ya karena Saya belum pernah tinggal di kawasan Edinburg itu. Jadi ngga tahu apakah benar beragam suku bangsa yang tinggal disana.
Oh ya untuk karakter Hulya (Tatiana Saphira), Saya kog jatuh hati ya dengan perempuan cerdas dan ramah seperti ini ya? Cantik pula. Nah kalau Saya saja bisa jatuh hati dengan Hulya, gimana dengan Fachri cobak? Fachri single dan kesepian lalu datanglah Hulya dengan semua kebaikan dan kelebihannya sebagai wanita. Ya sudahlah, jatuh cinta. Jadi, Saya kog agak miris ya jika ada yang berpikir kalau tokoh Hulya ini sebagai pelakor atau perebut laki orang. Karena Fachri dalam keadaan sendiri, tanpa istri ketika Hulya muncul. Dan maaf, apakah semua perempuan yang hadir dalam kehidupan laki laki yang pernah menikah, semuanya dikategorikan sebagai pelakor? Kenapa Saya sampai menyinggung hal ini? Karena ada beberapa wanita setelah melihat film AAC2 ini langsung menjudge kalau wanita yang posisinya seperti Hulya ini adalah seorang pelakor. Cemon Girl, be positive thinking. Janganlah sesama wanita saling menghakimi. *Lagi lagi curcol wkwkwk.
Hulya (doc.AAC2)
Okay, secara keseluruhan Saya katakan bahwa Kalian harus nonton dulu filmnya untuk dapat membuktikan apakah semua ulasan Saya ini benar adanya. Meskipun ada beberapa bagian yang cukup mengecewakan tapi film ini sangat layak untuk ditonton. Saya memberikan apresiasi yang cukup tinggi untuk Mas Guntur dan krew yang telah membuat film AAC2 ini dapat dinikmati oleh pecinta film tanah air. Apalagi sound dan musik dalam film ini mampu membuat Saya terlena dalam lamunan tentang Fachri, Aisha dan Hulya. So, tunggu apalagi. Jangan sampai dibuat penasaran sendiri oleh film ini.
Keira (doc.AAC2)


Komentar

  1. Aku gak tau kenapa harus nonton film ini karena bukan film kesukaanku tapi aku mengapresiasi setiap film yang dibuat dengan pesan yang baik daripada film horor yang kemarin kutonton dan menyisakan tanya "maksudnya apaaaa???" Nice review mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya spt kubilang, film itu soal selera sih. Tp klo penikmat film spt aku ini, film apa aja ya kutonton wkwkwk

      Hapus
  2. Most of all I agree with your opinion sis Dew.

    Aku sebel aja pak produsernya ikutan nongol di film ini. Seperti di Ainun dan Habibi.

    Tambah lagi diselipin pesan sponsor juga. Merusak pemandanganku terhadap Fachri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heeh sepertinya narsis itu Produsernya hahahaha. Tapi keren euy tempatnya.

      Hapus
  3. Kalau saya kok lbh suka AAC yang pertama mbak, walau utk setting tempatnya lbh bagus yg AAC2. Tapi jalan ceritanya yg kurang ngeh. Hehe
    Thank utk review kerennya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya film ya tergantung selera sih Mba. Ada yg spt Mba, lebih suka yg pertama atau ada juga yg suka yg sekuelnya. Fain fain aja sih

      Hapus
  4. Lepas dari kontroversi yang menyelimuti film AAC2 ini, sebagai penikmat film saya enjoy saja. Benar kata mbak Dewi : AAC hanya film, jadi kalau ada karakternya yg terlalu sempurna dll. Enjoy aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yess Mba, klo utk aku sih film apapun ya asik asik aja

      Hapus
  5. Saya nggak pernah nonton film bioskop film indonenesia kalau bukan gratisan mbak..hhihihi
    Film terakhir yang saya bayar sendiri adalah ayat2 cinta 1..
    Bukannya gak cinta film dlm negeri ya..tapi ngerasa gak dapet apa2 dri film2 tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm padahal.menurut Sy ada film Indonesia yg oke dan penuh pesan. Eh tp ini menurut Saya sih

      Hapus
  6. Suka banget sama tulisan mak. Ulasannya menarkk. Paling suka di bagian adegan yg dipaksakan. Itu bikin ngakak deh wkwk

    BalasHapus
  7. Jujur..waktu dapat undangan tuk nonton AAC2 ini,aku malah belum nonton yg AAC1. Malamnya aku nonton dulu yg pertama biar tau aja jalan cerita film yg pertama seperti apa dan juga karakter dari pemeran2nya. So far suka dgn AAC1, enjoy aja nontonnya. Begitu nonton yg kedua suka dgn dimanjakannya mata dgn pemandangan alam setting filmnya. So far aku jg masih enjoy kok nontonnya dari awal hingga pertengahan. Cuma ya rada makjleb aja pas di endingnya. Tapi ya namanya juga film..kalau mau perfect ya bikin sendiri hehehe. Good review mak. I enjoy it.

    BalasHapus
  8. Emak sepertinya love and hate this movie. Setuju dengan saran just enjoy the movie, ga sibuk bandingkan antara film dan novel. Aku nonton Harpot juga gitu.

    BalasHapus
  9. Jadi ingat waktu ngemsi kemarin acara lamaran. Saat kenalan antar keluar. Perwakilan keluarga pria yg ditugaskan bicara lupa belum mengenalkan istrinya yg ada di bangku paling depan...hahaha ini nga lagi jatuh cinta kayak fahri ya

    BalasHapus
  10. Aku belum nonton AAC2 sih. Tapi kalau liat yang AAC1 dan film2 yang dibintangi Fedi Nurul, membuat aku berpikir kalau Fedi Nuril ekspresinya terlalu datar. Tak terlihat emosi. Makasih reviewnya mba :)

    BalasHapus
  11. Aku juga just enjoy the movie pas nonton, ga punya ekspekatasi, jadi ya udahlah, ambil aja hikmah filmnya. Ga usah ribut2 yg lainnya.

    BalasHapus
  12. Kalau AAC 1 saya nonton. Menarik juga filmnya. Tapi kalau yang kedua ini belum berminat. Membaca review demi review mencari cara biar tertarik nonton

    BalasHapus
  13. Ngakak di keanehan no 3 Mak huahahahahah.... Tuh kan jangan milih Fachri jadi suami tar dia lupa hihihi. Saya tadinya niat nonton tapi pas baca review sana sini ntaran aja deh nunggu ada di YouTube

    BalasHapus
  14. Reviewnya suka.. ngena banget kalo kita tuh harus segera menyelesaikan masalah, begitu juga pekerjaan ya mba, kalo ditunggu hasilnya gimana gitu.. peluk suami sendiri aja.. walaupun fahri itu terlihat sempurna hihi

    BalasHapus
  15. Saya belum nonton mbak, baru yg pertama. Tapi kl saya sih yg penting filmnya mendidik dan tidak ada adegan *maaf (por**) tentunya sangat menndukung

    BalasHapus
  16. Suka sama gaya reviewnya. Saya blm nonton, tapi kayanya bagus

    BalasHapus
  17. Kalau dari segi cerita sih ade suka2 aja. Soal kenapa aisha tiba2 bertemu fahri dan ditolong. Bisa jadi dia memang memdekati fahri. Selebihnya i agree with you. Dan satu lagi saya terganggu dengan perdebatan fahri. Kok ya ga ilmiah banget, tidak seperti perdebatan yg dasyat.. karena sebelumnya kan mereka persiapannya dasyat banget.

    BalasHapus
  18. Kalo mau tipe kaya fachri dan nino fernandez ya gw banget laahh

    BalasHapus
  19. Maaak, aku setuju dengan review-mu, memang banyak yg di novel dirunutkan namun missed di Film, ya kali kalau semua dimasukin, entah kapan kelarnya tuh film, hehe... Terbatasnya durasi dan visualisasi jadi mengundang banyak kernyitan. Tapi overall, aku menikmati dan nangis2 nonton film ini...

    BalasHapus
  20. kalo dari review yang aku baca, film ini terlalu sempurna untuk sosok seorang lelaki :D

    BalasHapus
  21. Wowh aku pun belum nonton ini film mak. Tapi makasih ulasannya jadi sekilas tahu deh bagaimana gambaran film yg bagian 1 nya ini sangat fenomenal. Cuma aku pikir akan diperankan dengan tokoh yg sama ehh ternyata beda hehe. Tapi positifnya mengajak penonton untuk tetep sholat dalam kondisi apapun itu bener banget ya Mak. Biar pada melek bahwa org ganteng aja masih sholat kog haha

    BalasHapus
  22. Reviewnya ramai yah semoga kedepan sebuah film lokal juga bisa berorientasi dalam sebuah karya yg berkesan dan benar benar indah bukan hanya tampilannya.

    BalasHapus
  23. Setiap org pasti punya selera yang beda tentang film, kalau saya terus terang gak suka genrenya jd ntr2 aja nontonnya kalau pas muncul di tipi :D
    Review2 itu emang sesuai selera penulisnya jd kalau mau tahu aslinya ya nonton sendiri emang hehe
    TFS reviewnya :D

    BalasHapus
  24. ngebaca ulasan diatas, jadi beneran pingin nonton. memang sebagus2 film, lebih bagus novel, karena novel bisa menyihir pembaca ke bayangan paling sempurna dari tiap pembaca yang berbeda-beda.

    BalasHapus
  25. Memang banyak anehnya ternyata ya Mak. Aku baca ya banyak yg blg anehnya krn ga ngenalin istri sendiri dan face off itu. Aku termasuk yg ga nonton sih tp mgkn akan komentar sama utk 2 hal aneh itu.

    BalasHapus
  26. betul... saya pun melihat film ini dari segi positifnya. karena banyak hal positif yg bisa kita ambil dari film ini. ada ajaran Rasulullah juga dlm film ini

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Onggy Hianata, Sang Inspirator Value Your Life

Mengapa Saya Poligami

Hexpharm Jaya, Obat Generik Kualitas Paten