Pekan Perpustakaan Kemendikbud 2019 Sebagai Upaya Mewujudkan Generasi Unggul

by - Desember 09, 2019

Pekan Perpustakaan Kemendikbud 2019

Pendidikan Karakter Untuk Membentuk Generasi Unggul

Pendidikan yang efektif kuncinya terletak pada peranan guru dalam membentuk karakter siswa-siswanya. Pendidikan yang efektif bukan tergantung pada kelengkapan infrastrukturnya tapi lebih pada peranan guru yang berkarakter. Peranan guru dalam mendidik murid-muridnya akan menjadi faktor yang sangat menentukan seperti apa murid yang dididiknya tersebut. Apakah akan menjadi generasi unggul atau generasi yang biasa saja.

Pendidikan berkarakter

Keberhasilan pendidikan tergantung pada karakter guru yang akan membentuk seperti apa murid-muridnya. Kenapa demikian? Hal ini dikarenakan setiap harinya murid-murid diberikan penanaman kebiasaan dan nilai-nilai oleh gurunya. Nilai-nilai dan pembiasaan inilah yang akan membentuk karakter murid. Oleh sebab itulah kenapa guru menjadi kunci dalam membentuk kepribadian dan karakter muridnya. Jika ingin murid-murid menjadi generasi unggul dan berkarakter, gurunya pun harus memiliki nilai-nilai tersebut terlebih dulu.

Guru adalah orang yang mentransformasi nilai dan harus self confidence. Guru harus mampu menjadi tipe ideal untuk murid-muridnya. Guru ini bisa siapa saja. Bukan hanya di sekolah. Siapapun bisa menjadi guru. Asalkan dia dapat memberikan "konsep diri" bagi muridnya atau orang lain. Seorang guru harus bisa membentuk murid-muridnya untuk selalu bersikap kritis. 

Sangat tidak etis bahkan tidak diperbolehkan bagi seorang guru untuk memberikan label pada diri murid-muridnya. Pelabelan akan membuat si murid akan terbentuk seperti apa yang dilabelkan tersebut. Sudah saatnya dunia pendidikan mengalami perbaikan-perbaikan menuju hasil pendidikan yang lebih berkarakter, unggul, maju, inovatif dan kreatif. Jangan sampai pendidikan membentuk kapitalis, hal inilah yang harus diubah. Pendidikan harus mampu membentuk generasi unggul yang berkarakter dan menunjang pembangunan yang berkelanjutan.

Siapa saja dapat menjadi pelaku pendidikan. Masyarakat kita sedang mengalami perubahan dari masyarakat mekanik menjadi organik. Sehingga untuk menjadi seorang guru bisa siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Dengan syarat dapat mentransformasi nilai, pengetahuan dan membentuk karakter yang baik bagi anak didiknya. Guru harus dapat menjadikan anak didiknya menjadi insan yang curiosity, inovatif, kreatif, dan memiliki konsep diri yang baik dan berkarakter. Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Ade Erlangga.

Peran guru tidak dapat digantikan melalui "guru online" karena pembentukan karakter tidak bisa digantikan dengan digitalisasi. Karena dengan interaksi langsung dengan guru ada sentuhan rasa antara guru dan murid, adanya transformasi nilai yang dilakukan oleh seorang guru.

Narasumber temu blogger Pekan Perpustakaan Kemendikbud 2019

Rumah Guru, Aplikasi Belajar Online Kemendikbud

Karakter harus berada di depan ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan harus berada di depan aktivitas sehari-hari. Hal ini diungkapkan secara gamblang oleh Bapak Hasan Chabibie. Bpak Hasan menjelaskan mengenai digitalisasi dalam proses belajar mengajar. Rumah Guru merupakan pengajaran digitalisasi yang dihadirkan kemendikbud sebagai hasil mengadopsi teknologi.
"Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka akan hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu"
Anak-anak harus disiapkan hidup pada zamannya. Inilah salah satu alasan kenapa Rumah Belajar hadir sebagai bentuk adaptasi dari perkembangan digital yang makin pesat. Anak-anak zaman now, tidaklah bisa dididik dengan cara ayah ibunya dulu ketika dididik oleh kakek neneknya.

Inilah tantangan generasi di era revolusi industri 4.0 yaitu:
- dalam 5 tahun kedepan akan menyebabkan hilangnya 5 juta pekerjaan;
- pekerjaan yang paling banyak dibutuhkan saat ini adalah pekerjaan yang 10 tahun yang lalu atau 5 tahun yang lalu belum pernah ada;
- diperkirakan 65% anak yang masuk sekolah dasar saat ini akan bekerja pada satu pekerjaan yang baru dan belum ada saat ini.

Generasi Unggul pada 2045

Tantangan yang paling berat untuk pendidik saat ini adalah membangkitkan semangat belajar dari anak didik. Tanpa harus disuruh, anak-anak termotivasi untuk belajar sendiri tanpa harus disuruh atau dipaksa. Teknologi tidak bisa menggantikan peran guru seratus persen. Tapi guru yang tidak meningkatkan kualitasnya, tidak mau berinovasi dan tidak mau menyesuaikan dengan kemajuan jaman, akan bisa tergeser dengan teknologi dalam peran transformasi ilmu pengetahuan.

5 nilai utama karakter unggul siswa Indonesia,yaitu:
-gotong royong
- religius
- integritas
- mandiri
- nasionalis.

Kelima karakter inilah yang menjadi dasar penguatan pendidikan karakter di tanah air. Dan saat ini, dunia pendidikan dihadapi oleh tantangan karakteristik generasi milenial seperti freedom, customization, security, integrity, collaboration,entertainment. Hal inilah mengapa dikembangkan TIK Kemendikbud supaya dapat mengakomodir 5 nilai karakter unggul tersebut dalam menjawab tantangan karakter generasi milenial. 

TIK Kemendikbud mengembangkan skema integrasi sebagai berikut: input seperti PPDB online, Process seperti Rumah Belajar, tv edukasi, radio edukasi, Output berupa UNBK, Outcome.

Teknologi bisa diimplementasikan dengan baik pada pendidikan di Indonesia. Dapat dilihat dengan kehadiran Rumah Belajar yang sudah ada sejak 2011. Rumah Belajar bisa diinstall gratis di playstore. 

Rumah Belajar merupakan sebuah portal pembelajaran yang menyediakan bahan belajar dan fasilitas komunikasi serta interaksi antar komunitas. Rumah Belajar ditujukan untuk guru dan tenaga kependidikan, siswa serta masyarakat luas. Rumah Belajar dapat diakses secara offline dan online dengan mudah melalui PC, laptop maupun smartphone.


You May Also Like

0 komentar

Postingan Populer