Program Desa Cahaya Budidaya Rumput Laut YBM PLN di Kepulauan Seribu

Laut Indonesia yang indah

"Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa (lirik Nenek Moyangku Seorang Pelaut)"
Indonesia merupakan negara yang berada diantara dua benua dan dua samudera. Secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan dua pertiga luas lautan lebih besar daripada daratan. Indonesia memiliki kurang lebih 17000 ribu pulau dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 95000KM. Hal ini yang membuat Indonesia menempati urutan kedua setelah Kanada sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. 

Luasnya wilayah lautan yang lebih luas daripada daratan, menjadikan laut Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk menyokong kehidupan rakyatnya. Laut Indonesia menyimpan kekayaan dan keindahan yang luar biasa. 

Budidaya Rumput Laut di Kepulauan Seribu

Berbicara mengenai Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki lautan yang luas, pikiran saya langsung teringat pada satu pulau yang terletak tak jauh dari ibukota dan masuk dalam wilayah teritori DKI Jakarta. Pulau tersebut adalah Kepulauan Seribu. Cukup lama pula saya beranggapan kalau Pulau Seribu hanyalah "pulau" yang biasa saja. Enggak ada istimewanya. Pulau kecil ini ternyata memiliki keindahan dan menyimpan kekayaan alam yang tak sedikit. 

Pulau Seribu terletak di sekitar 45 KM sebelah utara Jakarta, tepatnya di Teluk Jakarta bagian sebelah utara. Pulau Seribu dapat diakses melalui beberapa tempat yaitu Kali Adem, Muara Baru dan Marina Ancol. Kepulauan Seribu memiliki kota administratif yang berada di Pulau Pramuka. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan dan ada pula yang bekerja sebagai buruh.

Pada sekitar tahun 80'an, penduduk Kepulauan Seribu mengembangkan usaha budidaya rumput laut. Pada saat itu, budidaya rumput laut di Kepulauan Seribu menunjukkan hasil yang menggembirakan sehingga banyak masyarakat setempat yang melakukan usaha tersebut.

Bisa dikatakan, sekitar tahun 1980 sampai 1990-an, budidaya rumput laut mendominasi mata pencaharian di Kepulauan Seribu. Rumput laut berhasil menyokong kehidupan mereka dan masyarakat Kepulauan Seribu memperoleh keuntungan yang cukup tinggi karena hasil panen rumput laut yang sangat melimpah.

Rumput laut yang mereka budidayakan tersebut kemudian mereka olah dan dijadikan berbagai produk makanan seperti dodol dan rumput laut kering. Penduduk setempat menjajakan aneka olahan rumput laut pada wisatawan yang berkunjung di Pulau-Pulau yang menjadi tujuan wisata utama di Kepulauan Seribu seperti di Pulau Pramuka, Pulau Pari, dan Pulau Tidung. 

Rumput laut merupakan salah satu komoditas hasil laut yang menjadi salah satu komoditas ekspor Indonesia. Beberapa daerah di Indonesia seperti di Pulau Rote pun mengembangkan budidaya rumput laut karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Potensi dan kualitas rumput laut Indonesia serta produk turunannya sangatlah luar biasa. Hal inilah yang menjadikan rumput laut Indonesia cukup diminati oleh pasar dunia. Indonesia hingga saat ini telah cukup banyak mengekspor rumput laut ke luar negeri.

Rumput laut menjadi salah satu komoditas penting perikanan Indonesia yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan. Oleh karena itu, pemerintah dan instansi terkait terus berupaya untuk meningkatkan budidaya rumput laut di sejumlah daerah pantai dan laut di Indonesia. 

Rumput laut

Rumput laut merupakan makro alga yang termasuk dalam divisi Thallophyta, yaitu tumbuhan yang mempunyai struktur kerangka tubuh yang terdiri dari batang/thalus serta tidak memiliki daun dan akar. Jenis rumput laut yang banyak terdapat di perairan Indonesia adalah Gracilaria, Gelidium, Eucheuma, Hypnea, Sargasum, dan Tubrinaria. Di Indonesia ada lima daerah yang mendominasi budidaya rumput laut yaitu NTB, NTT, Maluku, Sulaewesi Tenggara dan Bangka Belitung. 

Lalu bagaimana dengan budidaya rumput laut di Kepulauan Seribu? Inilah yang sangat disayangkan. Budidaya rumput laut di Kepulauan Seribu mengalami kondisi yang menyedihkan. Tepatnya pada akhir tahun 2000, yang diawali dengan adanya krisis moneter pada tahun 1998, budidaya dan pengolahan rumput laut di Kepulauan Seribu mulai mengalami penurunan yang signifikan. Bahkan dapat dikatakan usaha budidaya rumput laut di Kepulauan Seribu berada dalam kondisi sekarat. 

Area Budidaya Rumput Laut di Kepulauan Seribu

Disaat daerah lain mengalami perkembangan yang positif, budidaya rumput laut di Kepulauan Seribu berada diambang "kematian". Kondisi usaha budidaya rumput laut yang "sekarat" di Kepulauan Seribu dikarenakan adanya penurunan kondisi lingkungan terutama limbah dari sungai yang berada di sekitar Kepulauan Seribu yang terbawa arus dan mengotori perairan Kepulauan Seribu yang dijadikan lahan untuk budidaya rumput laut. Sedahsyat itulah dampak negatif sampah atau limbah yang terbawa arus dan mengotori lautan. Limbah tersebut mematikan biota laut termasuk rumput laut.

Program Desa Cahaya Budidaya Rumput Laut YBM PLN dan Nirunabi Foundation di Kepulauan Seribu

Peluncuran Program Desa Cahaya Budidaya Rumput Laut Kepulauan Seribu

Kondisi budidaya rumput laut yang memprihatinkan yang terjadi di Kepulauan Seribu membuat beberapa pihak menaruh perhatian dan berupaya untuk memperbaiki kondisi tersebut. Yayasan Baitul Maal PLN (YBM PLN) bekerjasama dengan Nirunabi Foundation menjadi salah dua pihak yang berupaya untuk membantu para petani rumput laut yang berada di Kepulauan Seribu untuk bangkit kembali. 

Pada tanggal 6 November 2019 yang lalu, YBM PLN bersama Nirunabi kembali menjejak manfaat dengan mengadakan peluncuran program Desa Cahaya Budidaya Rumput Laut di Kepulauan Seribu yang berlokasi di Pulau Panggang Kepulauan Seribu.

Program Desa Cahaya Budidaya Rumput Laut YBM PLN dan Nirunabi Foundation merupakan serangkaian program yang digagas YBM PLN untuk membangkitkan kembali usaha budidaya rumput laut di Kepulauan Seribu yang hampir mati. Kegiatan ini diisi dengan beberapa pelatihan mengenai pengelolaan dan pengolahan rumput laut oleh para ahlinya dan pendampingan berkala yang dilakukan YBM PLN bersama Nirunabi. Pelatihan yang diberikan diantaranya yaitu pelatihan pemberdayaan rumput laut yang disampaikan oleh perwakilan dari LIPI dan bagaimana cara mengolah rumput laut menjadi produk yang inovatif dan kekinian.


Pelatihan pengolahan dan budidaya rumput laut

Menurut Pak Riky Bagus, Manager Pendistribusiann dan Pendayagunaan YBM PLN, program ini bertujuan untuk mengembalikan semangat serta memberikan kemampuan para petani rumput laut Kepulauan Seribu dalam membudidayakan serta mengolah rumput laut sehingga budidaya rumput laut di Kepulauan Seribu dapat "hidup" kembali.

Bapak Riky Bagus (rompi cokelat)

Hal senada juga ditegaskan oleh Syarif, salah seorang amil pemberdayaan dan pendistribusian YBM PLN. Program Desa Cahaya ini diharapkan mampu membantu meningkatkan taraf kesejahteraan ekonomi masyarakat Kepulauan Seribu.

Dalam acara peluncuran program Desa Cahaya Budidaya Rumput laut Kepulauan Seribu, diadakan pula penanaman bibit rumput laut oleh YBM PLN, Nirunabi Foundation selaku mitra dari YBM PLN dan para petani yang tergabung dalam program Desa Cahaya Budidaya Rumput Laut Kepulauan Seribu.

Saya yang hadir dalam acara peluncuran program tersebut, ikut pula menyaksikan proses penanaman rumput laut. Area budidaya rumput laut berada di tengah laut Teluk Jakarta (Kepulauan Seribu). Ini adalah pertamakalinya saya melihat secara langsung bagaimana caranya menebar benih rumput laut. 

Penanaman bibit rumput laut

Merangkai bibit rumput laut yang hendak ditanam di laut

Ternyata rumput laut yang akan dijadikan benih atau bibit tersebut, dirangkaikan satu persatu dengan menggunakan tali dan kemudian diletakkan di area budidaya yang berada ditengah lautan, tepatnya diperairan yang tenang dan tidak ada ombaknya. Saya pun terkesima dengan lokasi budidaya rumput laut yang sangat indah.

Melalui obrolan singkat dengan petani rumput laut yang terjadi di atas kapal, saya mengetahui bahwa yang dibutuhkan oleh para petani rumput laut Kepulauan Seribu adalah pendampingan dan tempat untuk memasarkan produk rumput laut yang mereka hasilkan. Oh ya hampir saja saya lupa. Rumput laut ini dapat dipanen hasilnya setelah 40 hingga 45 hari setelah penanaman.

Program Desa Cahaya Budidaya Rumput Laut YBM PLN, untuk tahap pertamanya ini, memberikan pendampingan terhadap sekitar 100 orang petani rumput laut yang terbagi menjadi 5 kelompok. Pendampingan dilakukan sejak proses penanaman sampai pemasaran. Pada tahap awal ini, YBM PLN memberikan bantuan berupa 5 kapal siap pakai untuk 5 kelompok petani yang menjadi binaannya tersebut. Pembinaan dan pendampingan terhadap 100 orang petani rumput laut yang menerima manfaat dari YBM PLN dilakukan oleh Nirunabi Foundation sebagai mitra YBM PLN.

Semoga program ini benar-benar dapat menjadi solusi yang dibutuhkan oleh para petani rumput laut Kepulauan Seribu. Sehingga rumput laut dari Kepulauan Seribu dapat menjadi komoditi yang mampu menembus pasar dunia. Aamiin.

Saya dan rumput laut

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astra Financial Sponsor Utama GIIAS 2019

Pemeriksaan Prodia Prosafe NIPT, Deteksi Dini Kelainan Kromosom Pada Bayi

Masak Aman Bersama BrightGas, Keceriaan Kehangatan Keluarga