Ayo Datang Ke Wamena


Bandara Wamena
Hai apa kabar semua? Jumpa lagi dipenghujung tahun 2018. Sudah adakah yang memiliki rencana untuk melakukan perjalanan wisata alias traveling? Apakah diantara kalian ada yang pernah berkunjung ke Wamena? Wamena merupakan salah satu kota kecil yang berada di Lembah Baliem, Papua. Kota Wamena memang tak setenar Raja Ampat, Merauke atau Jayapura. Namun Wamena memiliki keindahan alam yang sangat layak untuk dinikmati. Dijamin enggak menyesal deh untuk datang berkunjung ke Wamena. Sepertinya belum banyak pula yang tahu nih jika Wamena merupakan ibukota dari Kabupaten Jayawijaya. Kota kecil Wamena terletak di ketinggian 1200-1800m dari permukaan laut. Wamena berada di kaki pegunungan Jayawijaya, tepatnya di Lembah Baliem. Sudah pernah mendengar Lembah Baliem? Yups, Lembah Baliem merupakan tempat tinggal Suku Dani, salah satu penduduk asli Papua.

Kota Wamena

Perjalanan Menuju Wamena

Untuk menuju Wamena, kita harus menempuh perjalanan cukup lama dari Jakarta. Harus transit dulu di Bandara Sentani, Jayapura untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jalur udara selama satu jam menuju kota Wamena. Jakarta-Jayapura dapat ditempuh selama 7 jam tanpa transit di Makassar atau 8-9 jam dengan transit lebih dulu di Makassar. Jadwal penerbangan Jakarta - Jayapura tidaklah sebanyak jadwal penerbangan ke kota lainnya terutama kota yang telah biasa dijadikan kota tujuan wisata.

Sebaiknya kita harus memesan tiket pesawatnya jauh-jauh hari. Mamak biasa memesan tiket pesawat sebulan sebelum tanggal travelling. Mamak suka memesan tiket di Pegi Pegi com karena proses memesannya mudah dan ngga pake ribet. Harga tiketnya pun bikin happy. Banyak promo yang bisa kita dapatkan. Mamak langsung memesan Jakarta-Jayapura tanpa transit di Makassar. Mamak sengaja pilih penerbangan malam supaya sampai Jayapura pagi hari. Karena penerbangan Jayapura - Wamena hanya ada 2Xsehari. Itupun dengan menumpang pesawat berkapasitas sekitar 35-40 orang saja.

Sedikit tips nih sebelum melakukan perjalanan ke Wamena. Kalian harus memperhitungkan jadwal penerbangan ke Jayapura dan ke Wamena. Untuk penerbangan ke Wamena, satu jam sebelum jadwal terbang, kalian sudah harus melakukan check in dan siap - siap untuk boarding. Karena kemarin mamak nyaris ngga bisa masuk pesawat ke Wamena karena baru boarding 45 menit sebelum jadwal terbang. Untung saja ada seorang pegawai bandara yang membantu menjelaskan ke pihak petugas bandara. Kebayangkan klo ngga bisa terbang gara gara telat boarding? Karena biasanya kan baru boleh masuk pesawat setengah jam sebelum jadwal terbang. Kalau di bandara Wamena, kita harus melakukan boarding maksimal satu jam sebelum take-off. Inilah yang membedakan bandara Wamena dengan bandara lainnya.

Total lama perjalanan Jakarta-Wamena bisa mencapai 9-10 jam perjalanan. Cukup melelahkan, bukan? Meskipun harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan menuju Wamena, bagi mamak Wamena adalah kota kecil dengan keindahan alam yang eksotis. Bukan hanya alamnya saja yang menawan, kopi Wamena telah membuat mamak jatuh cinta.

Kopi hasil petani kopi Wamena
Tujuan pertama mamak sesaat setelah mendarat di bandara Wamena adalah ke kaki gunung Jayawijaya untuk melihat langsung perkebunan kopi yang unik di Distrik Wolo, Wamena. Kopi Wamena menjadi daya tarik yang cukup memikat bagi para wisatawan yang berkunjung ke Wamena, selain keindahan Lembah Baliem tentunya. Hal ini berlaku juga untuk mamak.  Karena itulah mamak memasukan keliling Distrik Wolo sebagai destinasi pertama saat tiba di Wamena.

Rasa kopi Wamena yang enak di lidah dan tanpa meninggalkan rasa asam di mulut membuat mamak cukup berani untuk ikut menyeruput secangkir kopi sambil menikmati suasana malam penuh ketenangan di kota yang dikelilingi oleh bukit dan gunung ini. 
Salah satu keunggulan kopi Wamena adalah kopi ini aman untuk lambung karena memiliki kadar asam yang rendah. Keistimewaan lainnya dari kopi Wamena yaitu kopi Wamena adalah kopi organik karena biji kopi yang diambil diperoleh dari tanaman kopi tanpa sentuhan pupuk kimiawi.

Tanaman kopi Wamena ditanam di dalam hutan di atas bukit. Tepat di kaki gunung Jayawijaya. Petani kopi Wamena tidak mau menggunakan pupuk kimia jenis apapun karena mereka percaya bahwa pupuk kimia dapat merusak hutan mereka yang menjadi sumber kehidupan bagi mereka. Proses pengolahan kopi Wamena pun dilakukan secara alami tanpa melibatkan bahan pengawet apapun.

Kehidupan Petani Kopi Wamena Distrik Wolo

Penduduk kota Wamena sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani kopi. Mereka tinggal berkelompok di bukit-bukit yang berada di sekitar kaki gunung Jayawijaya. Salah satu daerah penghasil kopi di Wamena adalah Distrik Wolo. Wolo berada cukup jauh dari kota Wamena, sekitar 1,5jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor. Wolo merupakan daerah berbukit yang dilintasi oleh sebuah sungai kecil. Masyarakat Wolo hidup secara berkelompok dan menempati sebuah rumah yang cukup besar. Satu rumah besar dihuni oleh 3-4 keluarga. Namun ada pula yang menempati honai. Honai adalah rumah adat suku Dani. Mereka hidup rukun dan saling menolong. Penduduk Distrik Wolo adalah petani kopi. Mereka telah turun temurun menjadi petani kopi.

Masyarakat Distrik Wolo, Wamena

Distrik Wolo, Wamena
Saat pertamakali menginjakkan kaki ke Distrik Wolo, mamak sempat dibuat bingung, di manakah kebun kopi milik warga Wolo berada? Karena yang mamak lihat hanyalah hutan rimbun penuh pepohonan yang memenuhi bukit. Tak ada tanda-tanda kehadiran pohon kopi. Ternyata kebun kopi milik warga Wolo berada di dalam hutan, diatas bukit. Pohon kopi tumbuh subur diantara tanaman hutan lainnya. Inilah salah satu keunikan perkebunan kopi di Wolo. Petani kopi Wolo tak pernah menggunakan pupuk kimia jenis apapun. Tanaman kopi Wolo tumbuh subur dan menghasilkan biji kopi yang baik.

Buah kopi Wolo

Tanaman Kopi dalam hutan Wolo
Tadinya mamak pikir perkebunan kopi dimanapun sama saja, ternyata mamak salah. Bayangan mamak tentang perkebunan kopi seperti yang mamak lihat di Pulau Jawa, sama sekali tidak mamak temui di Wolo. 
Masyarakat Wolo menanam kopi di dalam hutan di atas bukit sejak dahulu kala. Bahkan mereka tidak tahu tepatnya kapan kebun kopi dalam hutan itu mulai ada. Mereka hanya meneruskan pekerjaan para orangtua dan pendahulu mereka. Saat mereka kanak-kanak, kebun kopi ini sudah ada. 

Sebelum adanya campur tangan pemerintah, petani kopi Wolo belum banyak mengetahui bagaimana cara mengolah biji kopi yang tepat sehingga menghasilkan kopi berkualitas. Bukan hanya itu, mereka juga tidak memiliki pengetahuan yang cukup dalam budidaya tanaman kopi. Berdasarkan penjelasan dari Pak Yakob, salah satu anggota kelompok tani Wolo yang mendampingi mamak keliling perkebunan kopi Wolo, saat ini petani kopi Wolo telah memperoleh pendampingan dan bantuan alat pengolahan kopi dari salah satu BUMN melalui program CSR BUMN tersebut.  Sehingga pengetahuan dan kemampuan mengelola kopi para petani kopi Wolo semakin membaik. Tadinya mereka merendam kopi selama berhari-hari supaya kulit kopi dapat terpisah dari bijinya. Namun hal ini membuat kualitas kopi menjadi rendah. Setelah memperoleh pembinaan dan pendampingan, para petani kopi Wolo jadi tahu bagaimana caranya mengolah biji kopi supaya menghasilkan kopi dengan kualitas baik.

Keliling hutan kopi Wolo cukup melelahkan karena medan yang harus dilalui cukup berat. Harus menapaki jalan licin mendaki dan menurun yang cukup curam dan penuh semak belukar dan tanaman hutan lainnya. Mamak sempat menemukan pohon jeruk yang tumbuh subur dan berbuah lebat diantara tanaman kopi. Atau pohon Matoa yang membuai pandangan dengan buahnya yang lebat dan siap untuk dipetik. Sungguh perkebunan kopi yang sangat berbeda dengan yang ada di pulau Jawa.


Biji kopi Wolo
Distrik Wolo

Kota Wamena yang Memukau

Setelah puas keliling Distrik Wolo untuk menikmati keunikan perkebunan kopi Wamena, mamak memilih untuk keliling kota Wamena. Kota Wamena berada tak jauh dari bandara Wamena. Kota kecil yang tenang dan menyimpan sejuta cerita tentang kehidupan masyarakatnya yang jauh dari hinggar bingar kehidupan metropolitan.

Mengendarai kendaraan bermotor di Wamena haruslah hati-hati. Ekstra hati-hati malah. Karena di sana akan ditemui sekawanan babi yang dengan seenaknya saja melintas. Kalau sampai nyerempet atau nabrak si babi ini, waduuuh runyamlah hidup kita wkwkwk. Kenapa begitu? Karena bagi masyarakat Wamena, babi adalah binatang yang memiliki nilai tinggi dan penting. Satu anak babi bisa berharga paling murah 50 juta. Itu baru anak babi. Saran mamak sih, baik-baiklah dengan si babi babi ini selama di Wamena.

Wamena terkenal dengan Lembah Baliemnya. Tempat tinggal suku Dani. Jika berkunjung ke Lembah Baliem, janganlah sekali-kali mengajak foto orang-orang suku Dani kalau kalian tidak memiliki uang yang cukup. Kalian harus siapkan minimal 5 lembar 100ribuan untuk dapat berfoto dengan mereka. Itu pun hanya satu kali jepret loh. Wkwkwk ajibkan?

Suku Dani
Di Wamena hanya ada satu hotel yang menawarkan kamar yang cukup bersih. Sebenarnya sih kurang tepat juga jika disebut hotel. Karena hanya terdiri dari bangunan dua lantai saja. Tapi hotel Wamena inilah yang rekomended di kota Wamena. Keliling kota Wamena enggak pernah bikin bosan. Hawa sejuk pegunungan Jayawijaya bikin betah. Mamak sih enggak nolak yah jika ada kesempatan untuk datang kembali ke Wamena.

Madu Wamena

Pemandangan di sekitar Lembah Baliem




Komentar

  1. Papua memang mempesona. Saya belum pernah sampai ke wamena, baru sampai jayapura aja

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja Asik Di Giant Dengan Harga Teman

Penyakit Langka di Indonesia

Hexpharm Jaya, Obat Generik Kualitas Paten