Wisata Kurbanesia 2017 Dompet Dhuafa, Lombok Nusa Tenggara Barat (Part 1)


Dream come true. Kalimat tersebut sangat tepat untuk mengungkapkan apa yang kini Emak alami *tsaah. Telah lama Emak memiliki impian pergi ke Gunung Rinjani, Lombok. Keindahan tempat tersebut yang membuat Emak menyimpan hasrat untuk kesana sejak SMA. Seiring berjalannya waktu, Emak sempat melupakan mimpi tersebut apalagi sejak menikah dan memiliki anak. Sepertinya mimpi tersebut hanyalah sebatas mimpi hiks.

Emak enggak pernah menyangka sama sekali kalau mimpi Emak tersebut yang menuntun langkah Emak untuk menggapainya. Yups, secara tak terduga, Emak berhasil memenangkan lomba blog Dompet Dhuafa Kurbanesia dan hadiahnya adalah wisata Kurbanesia ke Lombok. Tepatnya sich ke Sembalun, Lombok.

What? Sembalun? Yess, Sembalun merupakan salah satu daerah di kaki Gunung Rinjani. R-i-n-j-a-n-i. Itu berarti mimpi Emak menjadi nyata. Yeaay. Alhamdulillah.

Perjalanan ke Lombok ini sempat diwarnai drama dan kegalauan eaaa. Sok atuh dibayangkeun gimana enggak galau kalau trip Kurbanesia Dompet Dhuafa ini mepet banget waktunya dengan acara Temu Blogger yang Emak ikuti di Semarang. Dan bukan hanya itu saja, sebelum pergi ke Semarang, Emak juga ada acara Mombassador SGM di Jogja selama tiga hari. Waktu pelaksanaan acara- acara ini berurutan. *tepukjidat

Wajar khan kalau Emak sempat dilanda kegalauan dan cap cip cup antara pergi enggak, pergi enggak wkwkwk. Akhirnya dengan menguatkan tekad dan atas izin Allah serta suami tercinta *cieee, berangkatlah Emak menuju Sembalun, Lombok. Drama belum berakhir nich, saat di pesawat menuju bandara Praya, Lombok, sempat mengalami cuaca buruk. Suasana mendadak mencekam saat Kang Mas Pilot memberitahukan pada seluruh penumpang untuk tetap ditempat duduk, tidak boleh ada yang ke toilet, penerbangan mengalami sedikit gangguan. Dan lampu dalam pesawat menyala, itu tandanya situasi kurang baik.

Guncangan terasa sekali, mungkin menyenggol awan dan pesawat seakan-akan lama sekali bergeraknya. Padahal pesawat berjalan sesuai aturan. Baru pertama kali ini, Emak merasakan ketakutan yang amat sangat ketika naik pesawat. Entah doa apa saja yang sudah Emak panjatkan. Tapi ada satu kalimat yang sampai saat ini masih Emak ingat karena Emak anggap sebagai janji hidup pada Allah.

Ditengah ketakutan tersebut Emak memohon jika diberi kesempatan untuk tetap hidup dan bertemu kembali dengan keluarga dan teman-teman tersayang, Emak berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik lagi, pemaaf dan bermanfaat untuk sesama. Intinya sich janji untuk menjadi manusia yang lebih baik. Alhamdulillah Emak masih diberi kesempatan untuk tetap hidup dan pesawat dapat mendarat selamat di bandara Praya.

Alhamdulillah, Alhamdulillah dan Alhamdulillah. Hanya kata itulah yang Emak ucapkan begitu pesawat berhenti di landasan bandara Praya dan penumpang dipersilahkan keluar dari pesawat. Yeaay. Lombok, I'm coming!
Angin cukup kencang menyambut kedatangan Emak di bandara Praya. Panas pula. Tapi tak menghalangi suka cita hati Emak karena akhirnya sampai juga ke Lombok. Thank's God and Dompet Dhuafa for everything.

Emak tidak sendirian berpetualang di Lombok ini. Ada beberapa teman donatur Dompet Dhuafa yang ikut serta dalam Wisata Kurbanesia 2017 yang dilaksanakan dari tanggal 30 Agustus sampai 4 September 2017. Mereka antusias sekali untuk menyaksikan sendiri pemotongan hewan kurban dan pelaksanaan program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa di daerah pelosok seperti di Sembalun, Lombok. Padahal dengan mengikuti Wisata Kurbanesia ini berarti mereka harus ikhlas berlebaran Idul Adha tanpa keluarga tercinta.

Sembalun menjadi salah satu daerah Tebar Hewan Kurban (THK) Kurbanesia karena daerah ini terletak di kaki gunung Rinjani dan masih jarang pekurban. Perjalanan menuju Sembalun kurang lebih 3 jam dan harus melewati hutan lindung Pusuk Sembalun. Ada yang istimewa dari hutan lindung Pusuk Sembalun ini karena banyak sekali monyet yang hidup dan berkeliaran dengan bebas bahkan asyik nongkrong dipinggir hutan lindung yang merupakan tepian jalan tempat kendaraan melintas.

Monyet-monyet tersebut pun banyak pula yang asyik bercengkrama di tengah jalan. Satu catatan kecil untuk pengendara yang melewati jalan sepanjang hutan lindung Pusuk Sembalun yaitu hati-hati mengendarai kendaraan, jangan ceroboh, pelan-pelan saja karena monyet-monyet ini bisa tiba-tiba saja muncul dan menyebrang jalan wkwkwk.

Emak dan rombongan donatur Dompet Dhuafa sempat berhenti sebentar di Taman Wisata Pusuk Sembalun untuk foto-foto dan menikmati keindahan alam sekaligus istirahat sejenak. Di Taman Wisata ini pun banyak monyet berkeliaran. Jaga barang berharga yak dari tangan mungil monyet-monyet hutan tersebut.

Taman Wisata Pusuk Sembalun

Bersama Donatur Peserta Wisata Kurbanesia

Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Akhirnya sampailah ke desa Sembalun. Setelah istirahat sejenak di penginapan yang terletak di kaki gunung Rinjani, Emak dan rombongan mengunjungi agro pertanian kerjasama Dompet Dhuafa dengan masyarakat Sembalun. Agro pertanian tersebut terletak di lereng kaki gunung Rinjani dengan pemandangan alam yang luar biasa indah.

Agro pertanian terdiri dari lahan seluas 400 arah (ukuran yang dipakai oleh masyarakat Sembalun) atau sekitar 460m. Lahan tersebut ditanami bawang merah, bawang putih, cabai, strawberry, semangka dan sayur-sayuran hijau seperti sawi dan pokcoy. Sembalun telah lama dikenal sebagai daerah penghasil bawang putih untuk wilayah Lombok, NTB. Sayangnya, kondisi tanaman saat ini kurang bagus karena mengalami kekeringan. Tanah pertanian banyak yang mengering. Musim kering seperti ini dimanfaatkan oleh petani Sembalun untuk menjemur hasil bawang putihnya.


Masalah utama yang dihadapi petani Sembalun adalah pengairan. Mereka hanya dapat mengandalkan air hujan sebagai pengairan di lahan mereka. Kontur Sembalun yang berbukit-bukit dan tidak adanya sumber mata air alami yang dapat mengairi lahan-lahan pertanian menjadi masalah utama bagi mereka. Ironis memang. Kenapa demikian? Karena Sembalun dikelilingi oleh bukit-bukit yang subur tapi mengalami kekeringan karena tidak memiliki sistem pengairan. Sistem pengairan ini merupakan masalah terbesar yang dihadapi masyarakat Sembalun.

Masyarakat Sembalun yang terdaftar sebagai mitra Dompet Dhuafa merasa beruntung karena mereka bukan hanya mendapat bantuan dana tapi juga memperoleh pendampingan tentang bagaimana caranya bercocok tanam. Termasuk bagaimana caranya memanfaatkan lahan pertanian saat musim kering datang.

Di agro pertanian ini juga terdapat kandang sapi milik kelompok peternak binaan Dompet Dhuafa. Hal ini merupakan salah satu bentuk sinergi antara pertanian dan peternakan. Kotoran sapi diolah menjadi pupuk kandang dan digunakan untuk membantu menyuburkan lahan pertanian.

Terdapat dua puluh lima ekor sapi milik kelompok peternak binaan Dompet Dhuafa. Pada hari raya Idul Adha tahun ini, ada dua ekor sapi yang dijual sebagai hewan kurban. Ibu Murtemi sebagai salah satu anggota kelompok tani dan peternak binaan Dompet Dhuafa mengungkapkan rasa syukur dan terimakasihnya pada Dompet Dhuafa karena merasa telah terbantu ekonominya berkat bantuan dan bimbingan Dompet Dhuafa.

Agro pertanian Binaan Dompet Dhuafa



Ibu Murtemi di kandang sapi
Setelah puas keliling agro pertanian binaan Dompet Dhuafa, Emak dan rombongan peserta Wisata Kurbanesia melanjutkan petualangan keliling Sembalun termasuk mengunjungi Bukit Selong dan Desa Beleq. Bukit Selong merupakan salah satu bukit yang berada di sisi gunung Rinjani. Bukit indah menawan yang langsung membuat Emak jatuh cinta sekaligus takjub. Untuk mencapai bukit Selong ini, Emak harus mendaki dan cukup terengah-engah juga dibuatnya wkwkwk. Ketahuan dech kalau jarang olahraga.

Bukit Selong cukup ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun luar negri. Rasa capek dan ngos-ngosan mendaki terbayar lunas dengan keindahan yang diperoleh.


Pemandangan dari atas bukit Selong, Lombok



Sangat indah dan menakjubkan khan? Bersyukurlah hidup di negeri subur nan indah ini.
Mari kita tinggalkan pesona bukit Selong dan beranjak menuju Desa Beleq.

Desa Beleq merupakan desa pertama masyarakat Sembalun. Beleq berarti besar. Awalnya terdapat tujuh kepala keluarga sebagai cikal bakal masyarakat Sembalun yang menempati tujuh rumah di desa Beleq. Dari tujuh rumah tersebut, berkembanglah menjadi masyarakat Sembalun. Sampai sekarang, ketujuh rumah tersebut masih terjaga kelestariannya dan dijadikan situs sejarah.


Atas bukit desa Beleq

Desa Beleq

Oh ya jika kalian tertarik untuk datang ke Sembalun, jangan sampai lupa membawa baju hangat dan jaket tebal yak! Karena cuaca Sembalun sangatlah dingin. Pada siang hari saja cuaca berkisar 16'C. Apalagi pada sore dan malam hari. Cuaca Sembalun dapat mencapai 12'C. Penginapan di Sembalun masih jarang yang menyediakan water hitter karena pasokan listrik yang sangat terbatas. Jaga stamina dan siapkan kostum yang sesuai dengan cuaca Sembalun yak. Jangan sampai datang ke Sembalun dengan persiapan yang kurang matang. Nanti kalian akan menjadi repot sendiri.

Gaes, cerita Emak tentang Sembalun belumlah berakhir. Nantikan catatan Emak selanjutnya tentang keseruan pelaksanaan kurban di Sembalun. See you soon, Gaes!


Bandara Praya, Lombok







Komentar

  1. Wah alhamdulillah pesawat baik baik saja Dan Mba Selamat. Gunjangan pesawat Berasa apalagi Gunjangan hidup. Kudu banyak dekat sama sang pencipta ya. Kalau ane pasti Ingat Allah Dan nyebut nama emak ane. Hi.. Hi... Anak mami

    BalasHapus
  2. Senangnya saat tahu dompet dhuafa menyalurkan dana umat sampai ke pelosok Indonesia. Sukses selalu untuk Dompet Dhuafa

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Seru banget perjalanannya ya mak utk ikut kurbanesia kedaerah, dan cukup jauh perjalanannya utk menempuh berbagi kebahagian kurbanesia,, emak top banget deh staminanya

    BalasHapus
  5. Aduh melihat tempatnya adem dan tenang ya Mba jauh dari hiruk pikuk yang memusingkan apalagi wisata alamnya sangat bagus. Jadi pengen kesana mba menikmati suasana tenang.

    BalasHapus
  6. Ya Allah mba Dewi, alhamdulillah ya sehat dan selamattiba di Lombok dan Jakarta. Smoga saat kita bepergian lagi tak ada seperti itu ya mba. Mba, alhamdulillah juga bisa menikmati keindahan lombok. Smoga amanah yang diberikan DOmpet Dhuafa dapat dijalankan selalu dengan baik ya. Aamin

    BalasHapus
  7. Waaah.. Mak dewi, daku bisa membayangkan bagaimana rasanya peswat nabrak awan wkt ke kalimantan. Lumayan bikin penumpang banyak pahala krn istighfar n zikir.. Hahaha.. Apalagi ditambah itu perintah kang mas pilot nakutin ya. Nice story.. Jadi pengen traveling lg.. Hiks.. Ngg debay 2th keatas dah.

    BalasHapus
  8. Wah kurbanesia ada dimana mana ya. Seru ya rinjani. Impian juga next bisa sampai sana

    BalasHapus
  9. Mak..bikin deg-degan drama di pesawatnya. Seneng banget mak aku lihat perkebunan dampingan dompet dhuafa ini, insha Allah uang donatur benar-benar manfaat dan barokah..

    BalasHapus
  10. Peristiwa di pesawatnya bikin kut deg deg juga pas bacanya nih mba. hhh. Oya kerennn menang lomba bisa ke Lombok :*

    BalasHapus
  11. gak bisa bayangin deh itu gimana klo aku yg di pesawat, alhamdulillah mak dewi pergi dan pulang dengan selamat, pertanda allah masih sayang sama emak

    insya allah seluruh perjalanan emak ke 3 kota dalam 1 bulan ini berkah ya

    BalasHapus
  12. Ngeri amat adegan naik pesawatnya tapi untung sudah terbayar ya dengan pemandangan yang indah.

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah ya Mak Dewi, impian bisa terwujud.. :) Baguuus banget pemandangan di Bukit Selong. Aku jadi ikutan senang ada program kayak gini jadi ngebantu masyarakat seperti Ibu Murtemi ya..

    BalasHapus
  14. aaaak, mupeng mak mupeng aku ini, huhu aeru banget sih mak di Lombok, yg disini kecipratan oleh-olehnya apa 😂

    BalasHapus
  15. sumpah ye lo mak bikin mupeng bisa ke Sembalun, Lombok. Tapi kurang greget ahh ga naik ke Rinjani

    BalasHapus
  16. Makkk cakep makkkk potonya. Komitmen dan usahanya kece

    BalasHapus
  17. Makkk cakep makkkk potonya. Komitmen dan usahanya kece

    BalasHapus
  18. Ya ampun mba jadi pengen ke lombok, cantik pemandanganya

    BalasHapus
  19. Ah jadi pengen ke Puncak Rinjani lagi...

    BalasHapus
  20. Tiga kata: ngiriii... Bikin baper. 😁

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dibohongi Atau Dipoligami?

Belajar Blogging Bersama Repzone Dan Ani Berta

Mandiri Edukasi 2017 Bekasi