HUT RS Jiwa Soeharto Heerdjan 150 Tahun, Sehat Jiwa





Mendengar kata rumah sakit jiwa atau orang gila, pasti langsung merinding disko yak? Apalagi membayangkan tingkah laku orang gila. Pernah enggak main-main ke rumah sakit jiwa? Wkwkwk main-main kog ke RS Jiwa xixixi. Dalam pikiran siapapun pasti akan langsung muncul kesan "menyeramkan" dan ogah banget untuk datang ke RS Jiwa jika tidak kepepet banget. Itu yang pertama kali saya rasakan ketika mendapat undangan Temu Blogger dalam rangka memperingati HUT RS Jiwa Soeharto Heerdjan di Grogol, Jak-Bar. Tadinya saya pikir RS Jiwa ini sama dengan RS Sumber Waras tetapi ternyata beda. RS Sumber Waras adalah RS Umum sedangkan RS Jiwa Soeharto Heerdjan lebih dikenal dengan RS Jiwa Grogol. Sering dengar khan nyinyiran orang yang isinya seperti ini, "Gila loe yak, sana berobat ke Grogol! ". Nah, Grogol itu diidentikkan dengan orang-orang gila dan RS Jiwa.

Oke, kembali lagi ke RS Jiwa Soeharto Heerdjan. Pertama kali menjejakkan kaki ke rumah sakit jiwa ini, jujur saja, perasaan saya deg deg plus. Campur aduk. Antara takut, sedih, merinding dan penasaran. Pas banget ketika kaki saya mulai memasuki area rumah sakit, penghuni rumah sakit yang sudah dapat bersosialisasi sedang melaksanakan acara olahraga. Para Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)  ini selintas tidak berbeda dengan kita yang normal. Eits tapi sebentar dech, yakin kita normal? Yakin jiwa kita sehat? Hahaha

Saya terkesima dengan tingkah polah mereka saat olahraga dan bersosialisasi. Langsung muncul pertanyaan di benak saya, "apa yang terjadi pada mereka hingga mereka berada di sini? ". Seketika saya mewek hiks. Bersyukur masih diberi nikmat sehat, rohani, jasmani dan semoga saja jiwa saya juga benar-benar sehat wkwkwk. Saya semakin melaw galaw ketika melihat ada pasien rumah sakit jiwa tersebut yang seusia anak saya. Ya Allah, ikut hancur hati saya melihat anak usia belia sudah menjadi penghuni RS Jiwa Soeharto Heerjan. Penampakan RS Jiwa Soeharto Heerdjan tidaklah seseram yang dibayangkan. Bangunan yang cukup apik dan tertata rapi dengan pepohonan yang cukup rimbun, tenang dan asri. Kesan pertama begitu menggoda *ehh. RS Jiwa ini masuk kategori nyaman untuk ukuran sebuah rumah sakit. So, kalian enggak perlu khawatir Guys jika harus bertandang kesini. Tapi jangan sampai jadi penghuni di rumah sakit ini yak wkwkwk.

Acara Temu Blogger dalam rangka memperingati HUT RS Jiwa Soeharto Heerdjan ke 150 Tahun, bertema, " 150 Tahun Setia Memberikan Pelayanan Kesehatan Jiwa, Terus Menjawab Tantangan Kesehatan Jiwa Masyarakat Perkotaan ". Acara ini dihadiri oleh Blogger, institusi terkait, Direktur Utama RS Jiwa Soeharto Heerdjan serta dari Direktorat Jendral Pelayanan Kesehatan KeMenKes yang dipandu oleh dr. Isa Multazam Noor sebagai moderator. Nara sumber yang hadir yaitu Mas Budi Putera (Digital Media dan Blogger Senior), dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKj dan dr. Suzy Yusna Dewi, SpKj (K) (psikiater anak dan balita). Sebelum narasumber memaparkan materi seputar kesehatan jiwa, seluruh orang yang hadir di acara ini, diajak terlebih dulu untuk visit ruangan RS Jiwa Soeharto Heerdjan. Tidak semua ruangan yang dilihat karena waktu terbatas tapi ruangan day care saja atau ruang perawatan. Acara ini dipandu oleh dr. Savitri Wulandari.




Day care adalah tempat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)  yang telah dapat berinteraksi dengan orang lain, mulai dapat mengendalikan diri dan dalam tahap penyembuhan dididik berbagai macam ketrampilan sesuai dengan minat dan bakatnya. ODGJ biasanya mempunyai perilaku berbeda dari orang sehat pada umumnya. RS Jiwa dr. Soeharto Heerdjan menerapkan rasa responsibility (tanggung jawab), sincerely (ketulusan), justice (berkeadilan), sosial dan humanity (kemanusiaan). Day care dimulai dari jam 08.00 pagi sampai 14.00 siang. Bermacam-macam kegiatan yang dilakukan di Day care yaitu memasak, ketrampilan membuat hiasan dan hantaran untuk pernikahan, paduan suara bahkan olahraga. Ada alat fitness lho di area Day care. Wuiiih, saya dibuat terkagum-kagum oleh karya para ODGJ yang dilatih di Day Care ini. Bagus buanget! Saya saja yang merasa normal, tidak mampu membuat kerajinan sebagus karya mereka. Ternyata mereka lebih 'normal' dibandingkan saya hahaha. Day care ini memang berupaya untuk mempersiapkan mental serta kemampuan para ODGJ yang hampir sembuh untuk dapat beradaptasi serta berinteraksi dengan 'dunia luar'. Day care berupaya untuk membangun rasa kepercayaan diri mereka. Saya dibuat melongo dengan kemampuan mereka. Salut! 

Setelah keliling area Day care, seluruh undangan yang hadir dalam acara Temu Blogger ini, diajak pula untuk menyaksikan pemutaran video tentang penjemputan pasien pasung. Iya, pasung atau pemasungan. Pernah dengar? Miris banget melihat video seputar pemasungan ini. Pasung bukanlah cara untuk menyembuhkan ODGJ. Pasung bukanlah solusi bahkan pasung melanggar Hak Asasi Manusia dan hukum. Bayangkan saja, seorang manusia dirantai kakinya dan diikat serta dimasukkan ke dalam ruangan yang mirip kandang. Memangnya binatang? Saya terpukul melihat fakta yang terekam tersebut. RS Jiwa dr. Soeharto Heerdjan ini, mempunyai program jemput orang yang dipasung. Salah satu penggagasnya, dr. Safyuni Naswadi, SpKj hadir dalam acara Temu Blogger ini dan beliau menceritakan seputar kisahnya menjemput ODGJ yang dipasung dan berada di daerah terpencil. dr. Safyuni mengatakan bahwa jika ada masyarakat yang mengetahui ada ODGJ yang dipasung atau mengganggu ketenangan umum/masyarakat, silahkan melaporkan ke PusKesMas kemudian PusKesMas akan membuat laporan ke RS Jiwa dr. Soeharto Heerdjan untuk melakukan penjemputan ODGJ supaya dapat disembuhkan.



Semakin menarik yak membicarakan tentang ODGJ dan kesehatan Jiwa ini. Dalam kesempatan ini pun, Mas Budi Putera menjelaskan mengenai cara-cara menulis isu-isu sensitif dengan baik dan benar, salah satunya tentang bagaimana cara menyampaikan tulisan mengenai masalah kejiwaan termasuk bagaimana cara menulis tentang masalah bunuh diri. Isssh, serem yak tema tulisannya, bunuh diri. Menurut Mas Budi Putera, dunia digital seperti media sosial menunjukkan perkembangan yang pesat namun sayangnya tidak berbanding lurus dengan kualitas manusia penggiat sosial media tersebut. Hal ini terbukti dari banyaknya penyebaran imformasi yang tidak valid atau hoax hingga banyak yang menyesatkan. Orang asal main share berita saja tanpa mau mengecek terlebih dulu kebenaran berita tersebut. Berita bombastis cepat sekali viral meskipun berita tersebut belum tentu benar. Di harapkan Blogger mampu menulis tentang hal-hal yang sesuai fakta dan tidak menyesatkan yang membacanya. Intinya sich tulislah postingan yang enggak bikin orang lain jadi salah kaprah. Setuju banget dengan hal ini. Hentikan berita hoax.

Menyambung uraian Mas Budi Putera, dr. Nova Riyanti Yusuf juga menegaskan mengenai peran media massa termasuk Blogger menurut UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Wah ternyata ada undang-undang mengenai media massa dan kesehatan jiwa, yak? Baru tahu saya. Sepertinya dari tadi saya sibuk saja mengatakan kesehatan jiwa, sehat jiwa, sudah paham apakah itu kesehatan jiwa, Guys? Saya sich belum wkwkwk. Boleh dong disimak penuturan dr. Nova tentang kesehatan jiwa supaya bisa diukur juga Guys apakah kita telah sehat jiwa hahaha.
Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana secara individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan konstribusi untuk komunitasnya.
"Upaya kesehatan jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga, masyarakat dengan pendekatan promotif,preventif,kuratif dan rehabilitatif yang dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan oleh pemerintah dan masyarakat".
Jelas dong yak tentang kesehatan jiwa? Guys, UU no.18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa yang isinya mengatur tentang upaya-upaya mengenai kesehatan jiwa, sayangnya belum dapat terealisasi secara baik. Pemerintah belum dapat melakukan tindakan preventif, kuratif maupun promotif serta rehabilitatif terhadap masalah kesehatan jiwa. Faktanya di DKI Jakarta saja masalah gangguan jiwa dan urban mental health masih belum teratasi dengan baik. Masih banyak orang yang mengalami depresi namun tidak tertangani dengan tepat. Banyak pula orang yang tidak mengetahui bahwa jika merasa stress atau tertekan apalagi depresi dapat datang ke PusKesMas terdekat untuk konsultasi bahkan masyarakat awam masih banyak yang takut untuk melakukan konsultasi kejiwaan. Takut dianggap gila. Padahal masalah kesehatan jiwa ini merupakan persoalan yang cukup serius. Terbukti dengan semakin maraknya peristiwa bunuh diri yang terjadi belakangan ini. dr. Nova menceritakan bahwa pemberitaan media massa mengenai bunuh diri dapat membuat orang semakin tertarik untuk melakukan bunuh diri, hal ini dapat terjadi jika pemberitaan tersebut tidak tepat cara penyampaiannya. Tuch, enggak sembarangan khan dalam penulisan masalah bunuh diri?!

Blogger dinilai memiliki tantangan yaitu harus mampu memahami kondisi kesehatan jiwa di era smartphone apalagi adanya internet addiction. Internet addiction adalah depresi, kecemasan yang diakibatkan ketergantungan terhadap gadget dan internet. Hal senada disampaikan pula oleh dr. Suzy Yusna Dewi, SpKj seorang psikiatri anak dan remaja. Saat ini masalah internet addiction (ketergantungan terhadap gadget) telah menjadi masalah cukup serius. Anak-anak usia belia dan remaja banyak yang terganggu jiwanya bahkan tidak mau bersekolah dan bersosialisai dengan lingkungannya karena terkena internet addiction, asyik masyuk dengan gadgetnya. Mereka menjadi pribadi yang tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Asyik dengan dunia maya yang tanpa disadari mengikis kesehatan mentalnya. Pornografi, kekerasan meningkat karena bebasnya anak usia remaja ini mengakses internet. Banyak orang tua yang kebingungan menghadapi tingkah polah anak yang terkena internet addiction, disinilah peran petugas kesehatan jiwa diperlukan. Sayangnya, informasi mengenai hal ini masih minim. Internet addiction bukan hanya menyerang anak dan remaja tetapi usia dewasa. Banyak orang dewasa yang lebih suka aktif di dunia maya daripada dunia nyata padahal hidup yang sesungguhnya adalah dunia nyata.

Dampak internet addiction berhubungan dengan depresi, low self esteem. Penggunaan internet yang terus menerus secara significant berefek pada hubungan sosial. Tingkat depresi, stress, niat bunuh diri, hiperaktif, ketakutan sosial, agresi, kekerasan dan perilaku antisosial lebih banyak terjadi pada orang atau remaja yang kecanduan internet atau gadget. Perlu self help terapi dan intervensi. Masalah ketergantungan internet harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat.

Saya dan para Blogger lainnya pun sepertinya harus di test internet addiction juga supaya menyadari apakah telah terjangkit ketergantungan terhadap internet atau tidak. Yuks mulai sekarang, kita harus mampu menyikapi penggunaan internet secara bijak supaya kesehatan jiwa kita dapat terjaga. Enggak mau dong sampai depresi dan tertekan karena internet? Hidup yang sesungguhnya adalah berinteraksi dengan manusia lain secara nyata bukan mendekatkan yang jauh di depan mata dan menjauhkan yang dekat di depan mata.




Komentar

  1. Main internet Ternyata ada sampai nya juga

    BalasHapus
  2. Baru tahu namanya.
    yang ada di otak grogol aja xixixi....

    BalasHapus
  3. salut sama prakaryanya, keterampilan dlm masa rehab benar2 tersalurkan

    BalasHapus
  4. kreatif banget hasil karya penghuni RSJ ini.
    btw iya nih internet addiction bahaya. Jadi parno sendiri kasi gadget ke anak

    BalasHapus
  5. Ya Allah terharu baca'y, ternyata mereka kreatif ya bisa menghasilkan sesuatu yg bermanfaat. Makasih mak info'y, selama ini yg ada di pemikiranku org gila ya ga bisa berbuat apa2.

    BalasHapus
  6. Semoga mereka cepat sehat dan normal kembali. Syukurlah mereka sudah dibekali banyak ilmu untuk berkarya ya maak.

    BalasHapus
  7. . Ishh ketergantungan sama internet? boleh lah asal yang positif2 aja ya emak .Bener tuh mas Budi kalau kita harus share ilmu yang menuliskan bahwa kita harus menulis isu sensitif dengan baik dan benar

    BalasHapus
  8. Lebih baik menyebut sakit jiwa daripada gila. Kasian ya, pasien itu butuh disayang dan dilindungi biar cepat sembuh minimal lebih baik keadaan jiwanya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dibohongi Atau Dipoligami?

Belajar Blogging Bersama Repzone Dan Ani Berta

Mandiri Edukasi 2017 Bekasi